Thursday, January 9, 2020

Sisi Jendela 03 Nov 2017.



Aku di ujung sisi kiri, engkau di ujung sisi kanan. Masing masing di sisi jendela. Tak ada yg istimewa. Sama sekali tak ada.
Kalaupun dipaksakan ada dan dikecualikan, mungkin dengkurmu, yg mungkin terdengar sampai 3 baris depan & 3 baris belakang. Kasar, tak beraturan, staccato kadang moderato kadang adagio tapi seringnya presto. Seolah beradu bunyi dengan derak roda besi menyusuri rel.

Engkau di ujung sisi kanan, aku di ujung sisi kiri. Masing masing di sisi jendela. Tak ada yg istimewa. Sama sekali tak ada.
Kalaupun dipaksakan ada dan dikecualikan, mungkin aroma kecut asam dari dirimu yg semilir membajak hembusan pendingin ruangan. Bagi beberapa mungkin hanya terasa sekadar eau de cologne, tapi bagi yg lain bisa berkadar extrait perfumé. Beradu baur dengan semilir bellagio semahluk cantik berhidung bangir yg duduk satu baris di belakangmu.

Aku di ujung sisi kiri, engkau di ujung sisi kanan. Sisi jendela. Tak ada yg istimewa. Sama sekali tak ada.
Kecuali mungkin perasaan kita kolega seperjalanan yg ingin segera tiba ke tempat dimana hati berada. Dan setiap nada dengkurmu mewakili setiap enerji yg kau kerahkan sepanjang waktu di hari hari sebelum akhir minggu sebelum kau duduk di sisi jendela itu. Diperuntukkan bagi mereka yg menanti, tempat hatimu selalu bertambat. Aku mengerti itu. Dan, tak seperti semahluk cantik berbibir penuh yg duduk dua baris depan yg nampak amat terganggu dengkurmu, aku memilih menerjemahkan dengkurmu menjadi nada dalam bentuk karakter huruf dan kata. Bahwa engkau tak sendiri, aku sama.

Engkau di sisi kanan, aku di sisi kiri. Sisi jendela. Tak ada yg istimewa. Sama sekali tak ada.
Kecuali mungkin engkau menyadarkanku bahwa akupun memproduksi feromon melebihi kaidah normal. Di setiap tetesnya ada kedalaman jiwa yg tergali saat enerji terlepas menggapai karya. Yg tak sempat terbasuh karena mengejar tenggat dan linimasa yg harus ditempuh sebelum mendudukkan diri di sisi jendela itu. Diperuntukkan bagi mereka yg ikhlas menunggu, tempat dimana hatimu senantiasa berlabuh. Aku paham itu. Dan, tak seperti semahluk indah berhidung bangir yg berulang ulang menyemburkan bellagio untuk mencoba menihilkan aromamu itu, aku memilih mengabaikan semilir & menenggelamkan diri dalam keunikan nasib; bahwa tak hanya engkau, engkau tak sendiri. Banyak yg sepertimu, seperti kita.

Aku di sisi kiri, engkau di sisi kanan.
Jarak dan ruang diantara kita hanya; sejauh, -sedekat, yg kita pikir & yg kita rasa saja. Tak kurang. Tak lebih.

Pada akhirnya, ketempat dimana hati berada jua, kita menempuh.


-ARGO PARAHYANGAN, 03 NOV 2017-



No comments:

Post a Comment