Thursday, July 28, 2016

dengar, ia turun lagi.

lihat, ia jatuh lagi.

rasakan, ia tumpah lagi.

ketika koma hampa titik

ketika kau katakan pada dirimu sendiri ingin menjadi penulis, mengapa pena itu diam saja ditanganmu tanpa elan. ketika kau serukan pada dirimu sendiri ingin menjadi penulis, mengapa tuts papankunci itu hanya terusap ringan tak tertekan. ketika kau sugestikan pada dirimu sendiri ingin menjadi penulis, mengapa kau biarkan saja perangkatlunak pengolahkata itu tampil sepi dari karakter. ketika kau bisikan pada dirimu sendiri ingin jadi penulis, mengapa helai lembar tipis itu putih bersih saja sejak dini tanpa torehan. ketika kau sampaikan pada dirimu sendiri ingin menjadi penulis, mengapa kapur di jemarimu itu tak juga merajahi papan tulis itu. ketika kau terangkan pada dirimu sendiri ingin menjadi penulis, mengapa hanya ombak yang mensejarahi pasir pantai itu dan bukan tongkat tulis di tanganmu itu. ketika kau tanamkan pada dirimu sendiri ingin menjadi penulis, mengapa embun kaca itu kau biarkan mengkabuti tanpa torehan jemarimu disitu. ketika kau pahamkan pada dirimu sendiri ingin menjadi penulis, mengapa tak terpahat juga lontarmu.

adalah hampa, tak terisi, tak berisi, mungkin karena tak ada kamu di dalam situ.
[ditulis mungkin antara 2002-2008, masa situs multiply masih hidup...]