Ah, mengapa jarak antar satu pos dengan pos yg berikutnya
ini telalu jauh, sih?
Aku ingin ini segera berakhir.
Sesal,
kenapa sih aku mau – maunya ikut kegiatan kayak gini?
Sebal,
karena entah gak tau, sama siapa harus marah?
Kesal,
pada diri sendiri, gak ada lagi selain pada diri sendiri.
Lelah,
jarak tempuh yg tak terlihat ujungnya dimana.
Selalu saja para senior itu mampu menemukan setiap kesalahan
sekecil apapun. Atau lebih tepatnya, memang itu yg mereka fokuskan cari. Supaya
ada pembenaran pada setiap kejutan dan gerakan yg mereka perintahkan lakukan,
perintah yg selalu membuat adrenalin naik drastis. Namun, terus saja aku
berjalan, terus saja aku menempuh. Entah apa yg membuat aku mau saja ikut
kegiatan ini, di organisasi ini. Yg untuk menjadi anggotanya saja harus
menempuh ujian perjalanan seperti ini.
Hitam gelap malam, basah lengket tanah merah, lembab udara
malam, sisa hujan sore tadi. Sesekali aku berhenti untuk membersihkan sepatu
dari lengketan tanah merah yg membuat langkah berat, kadang dengan
menggesekkannya ke rumput, bila beruntung ada bebatuan yg lebih efektif melepas
lengketan tanah dari sepatu. Lalu kembali kaki diajak melangkah, menyeret tubuh
yg sebenarnya enggan bergerak. Logika memberontak, apa untungnya berlelah
begini? Namun hati tak bersetuju dengan logika, dan entah kenapa bagi manusia
yg satu ini, hati lebih sering menang. Terus saja ia jalani, melangkah,
menempuh.
Tak lama setelah beberapa puluh kali menjejak langkah
menyeret tubuh dari pemberhentian terakhir membersihkan sepatu, terlihat ada
seorang yg duduk menyelonjorkan kaki di pinggir rute. Tepat disebelah tabung
karton lilin penunjuk arah rute...hati hati kusapa ia dengan sandi penempuhan
ujian ini:
[+] “pandu...”
[-] “setia...”
kuperhatikan, oh lega, ternyata bukan kakak senior, ia
peserta juga seperti aku, tapi ia peserta putri. Celana panjang yg dilapisi rok
abu abu itu tampak penuh sisa lumpur. Matanya redup dan bahunya turun. Kusapa
lagi:
[+]“hey miem, kenapa? koq duduk disitu?”
[-] “oh jalu, udah kaget aja kirain kakak senior penguji....
aduh cape, pegel... tadi di pos sebelumnya salah jawab melulu jadi kena hukum
terus....”
[+] “oooh, sama kak Andri (-ini hanya inisial dan bukan
nama sesungguhnya, sekali lagi, inisial) ya?”
[-] “koq tau?”
[+] “ya taulah, siapa lagi coba?”
[-] “duh haus...”
[+] “bekal minum kamu habis? nih punyaku...”
dan dia tenggak habis, dan aku hanya ternganga...padahal
sengaja tadi disisakan buat jaga – jaga...ludes tandas sudah sekarang...
[-] “waah, lega...makasih ya! punyaku tadi dibuka dan
dibuang sama kak I*e (inisial lagi).., padahal perasaan jawab sandi ambalannya
bener tapi gak tau tuh disalahin mulu...”
[+] “wah aku sih tadi sama kak Ncuy (nama samaran), gara
gara salah nyebutin susunan dewan ambalan..., pegel juga kaki nih kena 30x
tadi...”
[-] “pos berikutnya siapa ya? duh semoga bukan kak Rani
(bukan nama asli)...sereeeem”
[+] “sudahlah, kita teruskan aja yuk, toh akan kita hadapi
juga, pokoknya nanti kita sama sama di leher kita bersyal ungu dan dengan badge
ungu itu di lengan kanan”
ia mengangguk, redup perlahan menghilang dan kembali kulihat
cahaya di matanya. ia menjulurkan tangan, kubantu ia berdiri. terasa hangat
telapak tangannya. ditengah dingin malam, hangat lengan manusia terasa berbeda
memang. Lalu kami pun jalan beriringan.
Lalu sunyi menguasai, kami melangkah dalam diam. Seolah
semua suara diserap oleh gelap. Bahkan suara langkah sepatu yg semakin kami
berjalan semakin berat digayuti tanah merah pun lenyap. Atau mungkin hanya aku
saja yg merasa demikian? Diam diam kulirik ia perlahan, nampak ia terus saja
berjalan sambil agak menunduk. Entah apakah ia juga merasakan hening ini juga?
Kemudian aku sadar, ini bukan hening yg wajar...tak mungkin jangkrik dan
serangga malam tiba – tiba menghilang begitu saja. Naluri dan insting mendadak
terjaga. Telinga makin kutajamkan mendengar, pandangan mata makin waspada
melihat sekeliling... ini sunyi yg tak wajar...
tiba – tiba...
tiba
tiba....
t
i
b
a
t
i
b
a
...
dari semak rumput liar yg tumbuh tinggi sepinggang manusia,
yg tumbuh di sepanjang pingggir rute kami menempuh, di bagian kiri kami,
terlihat sepasang titik cahaya. Hanya sepasang saja, 2 titik cahaya. Sepasang
titik cahaya itu seolah menatap kami, dan balik kubalas tatap tajam. Namun
kemudian, muncul bertambah sepasang lagi... sepasang merah, sepasang jingga.
Lalu, muncul berurutan beberapa pasang lagi, merah menyala, jingga merona,
banyak di sepanjang sisi kiri rute...bergerak-gerak, muncul lagi, muncul lagi,
semakin banyak...berjejer sepanjang pinggir rute...
Bagian belakang leher
meremang, instingku menyala, ini tidak wajar! Dan kemudian tiba – tiba seperti
ada yg menekan tombol saklar pengeras suara, semua serangga malam berbunyi!
jangkrik, tongeret, dan apapun itu!
Sertamerta kugenggam tangannya kuat kuat, setengah kuseret
ia, sambil kuseru : “ayo lari, jangan liat kiri kanan, ikut aku saja...”
kami pun berlari, dan berlari. Melupakan beban tanah lengket
yg menempel di telapak sepatu. Pokoknya harus segera menjauh dari situ, dari
entah apapun itu tadi dibalik semak. Terus saja berlari, menghela tubuh yg
sebenarnya lelah sudah terkuras di tiap pos yg kami jalani. Tanpa sadar
tangannya kucengkram sangat kuat dan kuseret ia berlari, dan baru berhenti
ketika ia akhirnya terjatuh yg nyaris juga membuatku ikut jatuh terseret.
[-] “aduuh, udah...apa sih jadi takut banget tauuu! ada apa
sih koq ujug ujug lariiii! tuh jadi jatuh kan!”
ia merajuk marah dengan muka memelas.
Kuperhatikan sekeliling, rupaya ketika berlari tadi kami
tidak sadar sudah meninggalkan area kebun dan hutan lalu melewati rute
perkampungan. Deretan rumah penduduk terlihat di kiri kanan kami. Ini cukup
memberikan rasa tenang, apalagi di kejauhan terdengar suara pengeras suara masjid melantunkan shalawat awal sebelum
memasuki saat adzan subuh... nafas pun kembali ku atur, menenangkan diri.
Kembali kubantu pelan ia berdiri, tapi tak sengaja ketika ia
berdiri aku malah terjatuh dan ia ikut terjatuh dan menindihku, hidungnya hanya
0.5mm saja dari hidungku, raut mukanya lumayan terlihat jelas di remang subuh,
mengapa ia tiba – tiba terlihat cantik ya?.....
[-] “iiih kamu jalu! apaan sih!”
kembali ia merajuk marah, kali ini dengan muka bersemu
merah.
[+] “maaf miem, gak sengaja, abis berat sih!” sambil
cengengesan.
[-] “aku kan gak gede, sama kak rizthy aja (nama alias)
lebih mungil aku, sembarangan aja bilang berat tau!”
[+] “iya, iya, maaaf”
[-] “ada apa sih koq tiba – tiba nyeret lari?”
dan aku ceritakan apa yg aku lihat tadi, sambil menuntunnya
duduk di pos ronda berupa saung bambu di pinggir rute. Mukanya kaget dan seolah
tak percaya, tapi kemudian tubuhnya merapat ketakutan dan memegang erat lengan
kiriku.
[-] “boong ah! gak mungkin!”
[+] “ya sudah kalau gak percaya mah, gak apa apa. berarti
kamu berani ya jalan sendiri ke pos berikutnya”
aku berdiri bersiap berjalan meninggalkan ia.
[-] “jangaaaaan! iya iya percaya” sambil mencengkram lengan
kiriku sampai sakit.
[-] “bareng aja ya, tapi jangan jalan dulu atuh... masih
sakit pegel lari dan jatuh tadi, kamu sih!” dan aku mau saja menurut.
Akhirnya kami kembali duduk bersebelahan.
ia pun tanpa diminta bercerita, diajak siapa ikut organisasi
ini, tertarik pada gapura saung bambu di depan sanggar organisasi ini,
terpesona pada kakak kakak senior yg terkesan teguh tangguh terlihat dari
pancaran mata mereka. Untuk karakter organisasi seperti ini, biasanya hanya
akan menarik bagi orang tertentu aja, tapi kemudian terkesima melihat betapa
teman – teman seangkatannya yg ‘gak punya tampang’ dan ‘gayanya gak banget’
untuk mau tertarik organisasi ini, tapi koq mereka pada mau ikutan? Ada apa sih
di organisasi ini? Penasaran?
[+] “gak punya tampang, dan gayanya gak banget itu, salah
satunya aku ya?” aku langsung menyela.
[-] “hehehe, iya sih awalnya, eh tapi nggak ding...setelah
kita sering kegiatan jadi lebih kenal dan tau koq, hehehe”
[+] “nanti kayaknya kita harus pisah deh kalo kita udah
deket pos berikutnya, gak mungkin deh kita masuk pos barengan, pasti bakal jadi
bahan makanan empuk bagi mereka”
[-] “oh iya, ya? Duh beneran deh kreatif sekali kakak kakak
kita itu mencari bahan!”
dan kemudian sunyi kembali menguasai tempat duduk kami,
namun kali ini masih ada suara jangkrik dan lamat lamat shalawat dari masjid yg
jauh. Tak terhindarkan kembali kuamati dia, kenapa selama ini di sanggar dia
hanya sekedar terlihat cantik, tapi sekarang koq...gimana ya? Orangnya lembut sih,
tapi kalau udah keluar cerewetnya....aduuuh. Deretan giginya saja yg kuingat
kalo ia sedang nyerocos bicara di sanggar. Aku jengah, duh udah jangan liatin
dia terus...
[+] “yuk jalan lagi, udah berkurang kan pegelnya”
[-] “bentar lagi aja...” ia kembali mengeluarkan jurus muka
memelasnya...tapi aku tak mau lagi kalah oleh jurus itu.
[+] “hayu sekarang aja, ntar ada kakak senior lewat, kita
lebih susah!”
akhirnya ia menurut.
Sepanjang jalan mukanya masih memberengut, biarin deh biar
agak berkurang cantiknya. Sambil berjalan kuceritakan saja nama – nama bunga
kampung yg kebetulan tumbuh di sepanjang sisi rute. Bakung, Nusa Indah,
Babadotan, dan beberapa lainnya. Yang walaupun dilabeli kampung, bunga tetaplah
bunga, tetap cantik adanya. Sebagian sudah mekar, namun kebanyakan masih
kuncup. Kuceritakan bahwa kalo mau bersabar, beberapa jenis bunga itu kuncupnya
itu akan mekar menunggu matahari terbit. Hal – hal indah memang seringkali
membutuhkan kesabaran untuk mekar.
Udara bersih, langit cerah, dibasuh hujan sore tadi, awan
sudah tuntas menumpahkan isi jutaan bulir rindunya pada bumi. Ia melenyapkan
diri. Sekarang giliran bintang – bintang yg menemani langit. Dan aku tunjukkan
pada ia beberapa rasi yg bisa lebih jelas terlihat dengan mata telanjang dari
sepanjang garis ekuator bumi, dan Indonesia salah satunya. Scorpio, Cygnus si
rasi angsa, dan beberapa lagi. Titik merah Mars sengaja tak kucari karena
mengingatkan pada entah apapun itu di semak tadi. Dan tiba – tiba ada semburat
cahaya melintas di langit, bintang jatuh! Kuminta ia mengucap satu permintaan
dalam hati, harus dalam hati! Kalau keluar suara suka gak terkabulkan! Dan ia
memejam mata, menengadah, duh ekspresinya...eh sudah sudah! Kemudian ia membuka
mata setelahnya, duh matanya, eh sudah sudah! Aku mengutuki diri sendiri!
Pegang kendali dirimu jangan terbawa suasana! aku memarahi diriku sendiri.
Tanpa sadar, sepanjang perjalanan rute, ia mengaitkan
jemarinya ke lenganku. Kami berjalan beriringan. Aku terus saja bercerita, ia
mendengarkan dan sesekali menimpali. Ketika tangannya terlepas dari lenganku,
ia diam saja ketika jarinya kutarik kuraih kugenggam juga dengan jemariku,
saling terkait.
Jemari erat saling terkait. Sampai kemudian kata – kata
hilang dengan sendirinya, namun kami tahu kami sedang berbicara tanpa suara,
dalam diam.
Dan kami terus saja berjalan, menempuh.
Sampai kemudian, terdengar lamat – lamat suara lantang
bersahutan. Kami mengenali suara – suara itu, kakak kakak senior! Kami sudah
dekat pos berikutnya.
Kami pun saling memandang, masih enggan melepaskan jemari.
[+] “aku duluan, kamu tunggu disini. aku akan selalu jawab
dengan berteriak supaya kamu tau apa aja pertanyaan mereka, ok?”
ia hanya menjawab dengan mengangguk, aku melangkah ke pos
dan ia tak mau melepaskan jemari sampai jarak langkah keduaku...
Ah, mengapa jarak antar satu pos dengan pos yg berikutnya
ini terlalu dekat, sih?
Aku tak ingin ini segera berakhir.
15 September 2016.
Aku tak ingin ini segera berakhir.
15 September 2016.





No comments:
Post a Comment