Saturday, May 25, 2024

APEM

 *.APEM.*


[Menarik nafas dalam, panjang, lalu berbicara ; -tidak cepat tidak yakin bisa diisebut lambat-, dalam tigaperempat bisik, sebenarnya terlalu kencang untuk disebut berbisik, namun terlalu lirih untuk disebut celoteh. Bukan pianissimo, jauh dari forte, lebih mendekati sedikit dibawah mezzo-piano. Berjeda dalam setiap koma, bersela dalam setiap titik]


"...SIlakan, hakimi saja aku. Labeli dengan apapun yang memang dirasa pantas menggambarkan aku. Kamu tentukan saja, bagaimana aku di benakmu. Bila itu membuatmu merasa jadi seorang yang lebih baik. Bila itu membuatmu lega. Tak apa, semoga jadi setitik upaya dalam jalan membuatmu saat ini lebih bahagia dibanding sekian waktu lalu sebelumnya."


[Hela nafas]

"...Silakan, bila karena aku tidak akan pernah memungkiri, bila karena mungkin aku tak tahu caranya berhenti untuk ; menjajaki, mengkaji, mendalami, mendalami, dan lebih mendalami, serta menjelajahi, dalam mencecap berbagai rasa di setiap aku melangkahjejak hidup, bila karena itu membuatmu yakin bahwa aku semenyebalkan itu dan memang layak kamu labeli apapun itu."


>bomboloni<

"...Bagaimana bisa, aku menahan diri. Saat melirik melihat tampilan saja sudah tersengat. Dengan tekstur yg terpapar apapun jadi nampak menarik; disalut manis, atau perpaduan pelbagai citra. Dan ini, iya ini... saat tiba membedah isian. Berkali kejutan menyenangkan kudapat, apapun isian yg kudapat. Ia lumer sebagaimana akupun lungkrah."


.title.

Tapi, entah kenapa, sesuatu selalu membuatku kembali. Pada yg satu itu. Selalu kuingat, terekam kuat, saat terhidang hangat. Yg satu itu.


>kalua Jeruk<

"...Sulit, menyangkal kehendak diri, untuk memenuhi rasa ingin tahu, dahaga akan rasa. Dan menyenangkan memang, tepat saat pahit asam kulit berkelindan paduan manis menyentuh dan menggelitikbangkit inderasa. "


.title.

Namun, tak selalu mengerti mengapa, sesuatu selalu membuatku kembali. Pada yg satu itu. 


>croissant<

"...Di setiap waktu -siang, sore, malam-, selalu menyenangkan menikmatimu. Namun pagi selalu menjadi saat yang terbaik. Ada sesuatu yg tak terjelaskan tentang menikmatimu di pagi hari. Ditemani kafein, disesap perlahan dengan tenang. Endorphin selalu menyapa saat ini terjadi. Ah, pagi dan dirimu..."


.title.

hanya, tak terjelaskan memang, sesuatu selalu membuatku kembali. Pada yg satu itu. Kadang mengeras di bagian tertentu namun lembut saat digigit dibagian lain. Yg satu itu.


>borondong<

"...Camellia Sinensis, dengan berbagai teman pemadan; rosehip, camomile, krisan, jiaogulan, jasmine, dan sejenisnya, selalu menjadi penguat yg tidak hanya sekedar sepadan saat menghayatimu. Legit nyenyat khas dirimu. Senja tidak sekedar waktu yg terlewat tanpa makna, saat menyesap(bersama)mu."


.title.

bagaimana lagi, begitu adanya, sesuatu selalu membuatku kembali. Pada yg satu. Kinca atau tanpa, legit tetap penuh terasa. Yg satu itu.


>mille feuille<

"...Selalu penuh debar saat mendedahmu, lapis demi lapis, creamy. Pun selalu ada rasa enggan berhenti saat mendekati detik detik menyelesaikanmu. Tak sadar sering berupaya menunda, pelan dan sedikit demi sedikit, agar terselami sampai akhir. Menyimpan yg terbaik di akhir. Dan kemudian terjadilah, saat sesal dan bahagia bekerja sama, karenanya tak terhindar rasa bingung melanda. Sesal karena tak ingin berakhir, bahagia bisa menyelesaikan(mu)."


.title.

Memang, apalagi yg bisa kukatakan, sesuatu selalu membuatku kembali. Pada yg satu. Mungkin karena ia dicipta saat, pencipta -pencinta- tersenyum penuh rasa. Yg satu itu.


>sfogliatella<

"...Saat menikmatimu, selalu mengingatkanku pada ruap tanah yg dirungkum tumpukan daun gugur saat hujan di selatan italia. Lapis demi lapis daunnya menjadi pesona tersendiri. Hangat lembut isianmu menjadi temuan istimewa saat kuungkap lapisan indahmu itu. Khas uniknya memberi kesan, tertanam kuat dan dalam.'


.title.

Entahlah, apa karena lembutnya, atau karena kurva dan teksturnya itu, yang selalu membuatku masih saja selalu ingin kembali. Pada yg satu itu. Satu itu.


>jojorong<

"...Sulit, sungguh sulit dan nyaris tak mungkin, menunda meraih menjamah merengkuh, saat dirimu terpapar padaku. Bukan berarti harus tergesa, pelan dan mengatur ritme saat menikmatimu pun bisa. Tapi memang harus segera, inisiasi pertama menggerusmu tak bisa ditunda. Biarkan manis lembut terpapar dan lepas saat pengikatmu terkuak. Setelahnya, terserah saja, biarkan alam memandu."


.title.

Katakan saja, sampaikan saja, adalah tak masuk akal bahwa setelah semua cecap itu, selalu saja aku ingin kembali. Pada yang satu itu. Iya, yang satu itu.


>gulab jamun<

'....Adalah sebuah tindak kejahatan, bila hasil cipta indah dari adonan yang dihangatkan pelan sampai suhu perlahan naik ke titik dimana cairan terkuras tuntas, dibiarkan saja hanya tertatap? Tanpa terjamah? Sedangkan ia memang tercipta memang untuk itu? Keterlaluan."


.title.

Apa katamu? Logika? Harus selalu logis? Wahai kamu, sejak kapan logika bisa selalu jalan seiring dengan hati? Iya, tidak logis memang pada yang satu itu. Sesuatu selalu membuatku ingin kembali. Satu itu.


>getuk lindri<

"...Semua warna(mu) adalah daya tarikmu. Memanggilku tanpa kuasa menghindar. Meraihmu adalah pilihanku, bukan semata karena panggilanmu. Merengkuhmu adalah panggilanku, bukan semata karena inginmu. Menjadi keputusan bersama, saat saling menyatukan diri."


>peach cobbler, ptichye moloko, nishalda, cuer, tiramisu, mochi, gemblong, wajit, churros, pie, dan semuamua yg lainnya. Namun tetap, bukan yg itu. Yang satu itu.


.title.

Kembali. Pada yg satu itu. Entah kenapa. Tak tau mengapa. 


Mungkin karena setelah cecap rasa saat semua jejaklangkah hidup itu tertempuh, sadar bahwa mungkin hanya perlu satu. Yang satu itu. 

Atau, mungkin memang semua sekedar masalah waktu, dan teristimewa sekedar masalah; hati.


Kembali, ke (.title.)mu. 


Yg satu itu.