pemenang mencatatkan sejarah.
pemenang menciptakan sejarah.
maka jadilah pemenang, dan catatkanlah nama dan pencapaianmu dalam sejarah sebagaimana yg kau kehendaki. karena memang itulah keistimewaan pemenang. dan kita semua entah kenapa memaklumi, adalah hak sang pemenang melakukan itu.
maka kemudian para pendongeng bercerita kesana kemari sebagaimana ia ingin tunjukkan ia bagian dari kaum yg menang.
maka kemudian para penyair menuliskan liris sebagaimana ia ingin tunjukkan ia bagian dari kaum yg menang.
maka kemudian para penyanyi melantunkan syair cerita liris kesana kemari sebagaimana ia ingin tunjukkan ia bagian dari kaum yg menang.
manusia mana yg sepenuh hati rela mengikrarkan dirinya (bagian dari kaum yg) kalah?
dan rama mengalahkan rahwana, dan rama adalah pahlawan, dan rahwana adalah penjahat. dan lumrah benar sudah apa yg ia perbuat sebagai pemenang, tak ada yg membantah.
dan rama mengalahkan rahwana, dan rama sang tampan, dan rahwana sang buruk rupa. dan lumrah benar sudah dianggap sebagai bagian cerita yg semestinya.
dan dengan jumawa, para pencatat sejarah dari sisi sang pemenang, atas titah sri rama, menyampaikan; karena rama sudah menunjukkan pengorbanan besar untuk meraih kembali sita, maka ia berhak meragukan dan mempertanyakan; apakah sita masih layak untuk dirinya? apakah sita yg kulitnya dicurigai telah tersentuh laki laki lain, masih suci? setelah sekian lama berada ditangan lelaki yg dicatatkan sejarah sebagai penjarah; rahwana?
sebagai pemenang, ia berhak mendapatkan yg terbaik.
sebagai pemenang, ia harus mendapatkan yg terbaik.
sebagai pemenang, ia berhak menentukan.
dan keputusan agar pemenang mendapatkan yg terbaik kemudian ditentukan; sita harus membuktikan dirinya suci. bukan, mungkin bukan hatinya dan atau jatidirinya. mungkin hanya tubuhnya, iya benar, daging yg dibungkus kulit itu.
dan kemudian sita harus merelakan dirinya menebus keraguan dengan membiarkan dirinya menembus api. didorong oleh keyakinan dirinya tidak bersalah, ia rela tempuh ujian itu, demi diterima kembali oleh sang pasangan yg ia yakini ia kasihi. bila setelah ia menempuh perjalanan menembus api tanpa bekas tanpa terbakar kulitnya, sucilah ia.
dan dalam dongeng kemudian disampaikan kepada kita, sita melalui ujian tersebut dan semakin bercahaya dirinya, tanpa luka tanpa bekas di kulitnya. entah di hatinya.
sejarah tidak pernah mencatat, tidak pernah mengulas, apa yg ada di benak sita ketika ia lalui ujian itu?
sebagai manusia, perempuan, terbersitkah ia berpikir bahwa rahwana sang kalah tidak pernah mempertanyakan meragukan dirinya? rahwana sang kalah bersedia menerima dirinya sebagaimana ia adanya?
sebagai manusia, perempuan, terbersitkah ia berpikir bahwa selama ia bersama rahwana sang kalah tak sekalipun rahwana menyentuhnya, terbukti setelah ia mampu melalui ujian itu, -walau pasti dengan segala bujuk dan upaya sebagaimana lelaki yg mendamba maka rahwana sang kalah ingin lakukan-,?
sebagai manusia, perempuan, terbersitkah ia berpikir bahwa mungkin rahwana sang kalah, mungkin lebih memilih penyerahan hati dan mengenyampingkan pencapaian atas daging yg terbungkus kulit yg ia miliki? walau amat indah wajah dan tubuh, memang legenda menyampaikan tentang sita.
dan memang ketika memilih hati, legenda kuno sampai fakta kontemporer, entah kenapa sang pemilih hati sering dibenamkan sejarah, kalah.
dan aku, masih saja memilih hati.