Wednesday, February 15, 2012

ketika rama menepis sita

pemenang mencatatkan sejarah.
pemenang menciptakan sejarah.
maka jadilah pemenang, dan catatkanlah nama dan pencapaianmu dalam sejarah sebagaimana yg  kau kehendaki. karena memang itulah keistimewaan pemenang. dan kita semua entah kenapa memaklumi, adalah hak sang pemenang melakukan itu.

maka kemudian para pendongeng bercerita kesana kemari sebagaimana ia ingin tunjukkan ia bagian dari kaum yg menang.
maka kemudian para penyair menuliskan liris sebagaimana ia ingin tunjukkan ia bagian dari kaum yg menang.  
maka kemudian para penyanyi melantunkan syair cerita liris kesana kemari sebagaimana ia ingin tunjukkan ia bagian dari kaum yg menang.
manusia mana yg sepenuh hati rela mengikrarkan dirinya (bagian dari kaum yg) kalah?

dan rama mengalahkan rahwana, dan rama adalah pahlawan, dan rahwana adalah penjahat. dan lumrah benar sudah apa yg ia perbuat sebagai pemenang, tak ada yg membantah.
dan rama mengalahkan rahwana, dan rama sang tampan, dan rahwana sang buruk rupa. dan lumrah benar sudah dianggap sebagai bagian cerita yg semestinya.

dan dengan jumawa, para pencatat sejarah dari sisi sang pemenang, atas titah sri rama, menyampaikan; karena rama sudah menunjukkan pengorbanan besar untuk meraih kembali sita, maka ia berhak meragukan dan mempertanyakan; apakah sita masih layak untuk dirinya? apakah sita yg kulitnya dicurigai telah tersentuh laki laki lain, masih suci? setelah sekian lama berada ditangan lelaki yg dicatatkan sejarah sebagai penjarah; rahwana? 
sebagai pemenang, ia berhak mendapatkan yg terbaik.
sebagai pemenang, ia harus mendapatkan yg terbaik.
sebagai pemenang, ia berhak menentukan.
dan keputusan agar pemenang mendapatkan yg terbaik kemudian ditentukan; sita harus membuktikan dirinya suci. bukan, mungkin bukan hatinya dan atau jatidirinya. mungkin hanya tubuhnya, iya benar, daging yg dibungkus kulit itu.

dan kemudian sita harus merelakan dirinya menebus keraguan dengan membiarkan dirinya menembus api. didorong oleh keyakinan dirinya tidak bersalah, ia rela tempuh ujian itu, demi diterima kembali oleh sang pasangan yg ia yakini ia kasihi. bila setelah ia menempuh perjalanan menembus api tanpa bekas tanpa terbakar kulitnya, sucilah ia.
dan dalam dongeng kemudian disampaikan kepada kita, sita melalui ujian tersebut dan semakin bercahaya dirinya, tanpa luka tanpa bekas di kulitnya. entah di hatinya.

sejarah tidak pernah mencatat, tidak pernah mengulas, apa yg ada di benak sita ketika ia lalui ujian itu?
sebagai manusia, perempuan, terbersitkah ia berpikir bahwa rahwana sang kalah tidak pernah mempertanyakan meragukan dirinya? rahwana sang kalah bersedia menerima dirinya sebagaimana ia adanya?
sebagai manusia, perempuan, terbersitkah ia berpikir bahwa selama ia bersama rahwana sang kalah tak sekalipun rahwana menyentuhnya, terbukti setelah ia mampu melalui ujian itu, -walau pasti dengan segala bujuk dan upaya sebagaimana lelaki yg mendamba maka rahwana sang kalah ingin lakukan-,?
sebagai manusia, perempuan, terbersitkah ia berpikir bahwa mungkin rahwana sang kalah, mungkin lebih memilih penyerahan hati dan mengenyampingkan pencapaian atas daging yg terbungkus kulit yg ia miliki? walau amat indah wajah dan tubuh, memang legenda menyampaikan tentang sita.




dan memang ketika memilih hati, legenda kuno sampai fakta kontemporer, entah kenapa sang pemilih hati sering dibenamkan sejarah, kalah. 











dan aku, masih saja memilih hati.
















http://permalink.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/67817





pubilkasi lain, klik disini

Friday, February 10, 2012

INTIMIDASI

[jangan (pernah) mau di]
INTIMIDASI

karena terintimidasi. ya benar, ia merasa benar benar terintimidasi dan kemudian gigih melawan segala daya upaya, tak menyerah.

walau enggan, dan tak sertamerta, dan tak dengan segera, namun akhirnya ia akui juga pada saatnya, bahwa ia ternyata rentan terhadap jenis intimidasi yang satu ini.

sebagaimana kemudian ia sampaikan begini dengan lirih;

"...saat ini entah kenapa, seakan udara menjadi amat tipis dan sulit ditarik nafas agar paru memiliki pasokan yang cukup dan kemudian bisa didistribusikan melalui nadi ke seluruh tubuh. cukup hanya karena ia melangkah mendekati aku. tinggi hitam dengan raut galak dan mata yg tajam menusuk, ngeri.

jarak bermeter pun aku sesak sudah, namun aku masih saja melawan dengan logika walau alam bawah sadar menitahkan sebaliknya.
ketika bersenti saja sudah jarak itu, seakan oksigen menguap menghilang dari ruangan.
ketika bermili saja sudah jarak, tak ada lagi pasokan oksigen yg mengalir agar fungsi otak tetap berjalan untuk berpikir.
dan ketika nihil sudah jarak antara dua, aku tak tahu lagi apa yg terjadi, gelap karena mata tak lagi terbuka namun pada saat yg sama pelangi dan bintang bertebar ke setiap sudut berpendar..."

demikian ia pelan katakan.

dan ia sungguh tak mau dan tak sudi dan tak pernah suka, diintimidasi.
bangga diri, penguasaan diri, dan segala yg ibunya didik serta ajarkan, harus selalu dipegang teguh. jangan sampai luluh karena intimidasi.

dan sungguh ia benci padaku yg mengintimidasinya sedemikian rupa. 

sebagaimana ia kemudian lanjutkan sampaikan kepadaku dengan sengit;

"...dulu itu entah kenapa, dari jauh saja sudah terlihat menyebalkan. laki laki dengan rambut gondrong itu yg berbondu, jeans sobek di lutut, dan nampaknya lebih menikmati menghabiskan waktu di parlemen jalanan atau di alam terbuka dibanding di ruang kuliah. kalau berpapasan selalu saja ada nama panggilan baru yg menyebalkan : "hey budak leutik", "hey begang", atau pertanyaan gak mutu dan gak penting seperti "sehari makan berapa kali? tambah ya?" ih sebal. semakin aku cemberut malah semakin terlihat senang, dengan senyum dan cengiran yg mengesalkan. yg membuat lebih baik menghindar saja dan mencari jalan lain daripada berpapasan. memang dasar tukang intimidasi...!"

demikian ia lantang katakan.

masih saja kemudian ia lanjutkan,

"...yg menyebalkan, setelah menghindar, masih saja terngiang panggilan dan penampakan itu. nempel seperti permen karet yg selalu memenuhi mulutnya ketika kuliah, bahkan bertahun kemudian ketika akhirnya setelah sekian lama berpisah bisa bertemu kembali, ia masih saja mengunyah permen karet. dan di pertemuan singkat, di perbincangan sederhana, di obrolan sejenak, apa yg ia ucapkan, tampilkan, lekat mengendap dalam pikir. hal hal aneh, unik, dan berbagai pemikirannya yg mengejutkan, nempel walau banyak tak ku mengerti. lihat, dalam pikir saja ia mampu mengintimidas!" 

dan ia tahu, hanya yg lemah yg mudah terintimidasi. dan ia tidak ingin menjadi mahluk lemah. hanya satu kata, lawan!
tapi masih saja,

"...seharusnya ia tak boleh membuatku menangis, dan aku tak boleh mudah menangis. bukankah katanya tak akan pernah seseorang membuat pasangannya menangis bila memang ia menjadi separuh dirinya. ini berkali kali, aku menangis. berkali ia membuatku menangis, hanya karena ia diam, tak terdengar, tak terlihat, tak ada kabar. seharusnya aku tidak mudah terintimidasi oleh diamnya ia, seharusnya aku tidak menangis. lihat, dengan diam saja ia sudah mengintimidasi...!!"  

dan ia akhirnya mengerti, kata logika memang mengatakan tak boleh ada kata menyerah pada intimidasi, namun kata hati sering lebih punya arti.
logika melihat intimidasi sebagai sebuah kata utuh, hati menghilangkan lima huruf terakhir dari kata itu.

dan sebagaimana kaumnya secara alami memilih, ia kemudian lebih memilih hati.

.
..
....
......
............
.........................
..........................................

dan kini, hari ini, Februari 2012, beribu kilometer sudah jeda antara dua, giliranku, aku yg semakin hari semakin terintimidasi, sesak nafas, pandangan kabur, logika buntu. aku terintimidasi, karena jauh dari ia dan buah hati yg ia beri.

eungap.

**************


pubilkasi lain, klik disini

Wednesday, February 8, 2012

=Seorang manusia dan bayangannya=.

=Seorang manusia dan bayangannya=.

Bertahun yg lalu, hiduplah seseorang yg selalu saja mampu menyayangi dan memaafkan semua orang yg ia temui. Karenanya, Tuhan mengirim salah satu malaikat untuk menemuinya.

"Tuhan memintaku untuk datang dan menemuimu dan memberitahumu bahwa Ia ingin memberimu hadiah bagi atas segala kebaikanmu" ujar sang malaikat. "Mintalah sebuah berkah kemampuankekuatan . Bersediakah kamu diberi kekuatan untuk menyembuhkan?"

"Tentu saja tidak," jawabnya. "Lebih baik Ia beri saja kesembuhan bagi mereka yg harus disembuhkan"

"Bagaimana bila diberi kemampuan mengarahkan kembali mereka yg tersesat?"

"Itu tugas para malaikat sepertimu, (aku hanya manusia). Aku tidak ingin diagungagungkan atau dijadikan panutan abadi, (aku hanya manusia)."

"Baiklah, aku tidak bisa kembali tanpa memberi sebuah mukjizat. Kalaupun kamu tidak memilih, aku akan pilihkan satu untukmu."

Setelah berpikir sejenak, sang manusia kemudian berkata:

"Baiklah, aku ingin hal hal yg baik terlaksana melalui diriku, tapi tanpa siapapun menyadari, bahkan oleh diriku sendiri, sehingga aku tak terjerumus kesombongan."

Kemudian sang malaikat pun memberi kemampuan menyembuhkan, namun pada bayangan manusia tersebut, dan hanya bila surya menyinari wajahnya saja. Karenanya, kemanapun ia pergi maka yg sakit tersembuhkan, bumi menjadi subur, dan para penyedih menemukan kembali kegembiraan.

Sang manusia berkelana ke berbagai sisi bumi selama bertahun, tanpa menyadari keajaiban yg ia hasilkan karena ketika ia menghadap matari, bayangannya selalu ada di belakang dirinya. Karenanya, selama hidup dan sampai mati ia tidak menyadari mukjizat dirinya.

Tulisan diatas bukan terjemahan, namun interpretasi pribadi (dan karenanya ketepatan (akurasi) penerjemahan kata cenderung terabaikan, dan kecenderungan subyektifitas -unsur selera- tidak terhindarkan), atas tulisan FIKSI pendek karya PAULO COELHO, yg diterjemahkan ke Bahasa Inggris dari tulisan asli berbahasa Portugis (maklum, si abah Ulo orang Brazil).

Berikut versi bahasa Inggris yg dipetik dari : http://paulocoelhoblog.com/2010/11/10/the-man-and-his-shadow/

Many years ago, there lived a man who was capable of loving and forgiving everyone he came across. Because of this, God sent an angel to talk to him.

‘God asked me to come and visit you and tell you that he wishes to reward you for your goodness,’ said the angel. ‘You may have any gift you wish for. Would you like the gift of healing?’

‘Certainly not,’ said the man. ‘I would prefer God to choose those who should be healed.’

‘And what about leading sinners back to the path of Truth?’

‘That’s a job for angels like you. I don’t want to be venerated by anyone or to serve as a permanent example.’

‘Look, I can’t go back to Heaven without having given you a miracle. If you don’t choose, I’ll have to choose one for you.’

The man thought for a moment and then said:

‘All right, I would like good to be done through me, but without anyone noticing, not even me, in case I should commit the sin of vanity.’

So the angel arranged for the man’s shadow to have the power of healing, but only when the sun was shining on the man’s face. In this way, wherever he went, the sick were healed, the earth grew fertile again, and sad people rediscovered happiness.

The man traveled the Earth for many years, oblivious of the miracles he was working because when he was facing the sun, his shadow was always behind him. In this way, he was able to live and die unaware of his own holiness.