setelahnya.
mata tak kuasa terpejam. semua luruh. segala luluh. jatuh dalam. hempas tegas namun lembut di saat yg sama. lalu gelap merengkuh menjadi selimut atas raga yg jiwanya sedang terlepas. lungkrah. lelah. yang. indah.
setelahnya.
aku membuka mata. mengangkat tubuh dari pembaringan. terduduk di tepinya. menghela nafas pelan. agar tak membangunkanmu. memicingkan mata, menyigi setiap sudut meniti ruang. remang tetap mampu menyajikan siluet. atas kurva. kurva. kontur. kontur. sisi. sisi. sudut. sudut. yg terbaring lelah disitu. yang. indah.
setelahnya.
aku berdiri. menjauh dari tepi. ruang samping. menghampiri teras. memejamkan mata merentang tangan. membiarkan setiap pori tubuh tanpa kecuali merasakan bergeraknya udara. semua. tanpa kecuali. tak ada yg lain selain udara yg terhirup. tak ada yg lain. tak ada. yang. se .indah. ini.
setelahnya.
waktu bergulir. waktu untuk kembali. kembali terduduk. kembali terduduk di tepinya.
setelahnya.
matanya terbuka. menerbitkan senyum. dan mata itu menyampaikan kata sapaan tanpa suara, entah setengah bertanya entah meminta;
"lagi?"
setelahnya.....
@argoparahyangan28, 31 Mei 2018.
dgn latarbelakang suara lagu "the air that i breathe" versi K.D.Lang.
Thursday, May 31, 2018
Tuesday, May 29, 2018
Eufimisme. Implistisme.
Di titik itu, aku ingin berhenti. Namun penjelajahan justru dimulai situ, di titik itu. Awal dari sesuatu yg nampaknya tak ingin ku akhiri. Akhir dari penantian akan suatu awal.
Disitu, di titik itu.
Titik itu.
Itu.
Pusat semestamu, dimana aku membiarkan gravitasimu/ku merengkuhku/mu. Pusat semestaku, dimana jemaritakkasatmataku/mu menggenggammu/ku.
Di titik ini, aku akan berhenti. Namun penyidikan justru akan terlaksana lebih dalam, di titik ini. Tak akan berakhir sampai tersidik awalnya. Upaya ungkap awal dari sesuatu yg sebenarnya tak memiliki akhir.
Disini, di titik ini.
Titik ini.
Ini.
Pusat ruang intisariku, dimana ruangutamanya adalah intisarimu. Pusat ruang intisarimu, yang selalu lepas rela kubiarkan terisi intisariku, sepenuh yang kau mau, sebutuhlengkap hasrat alamimu.
Di titik itu, yang ini, kita biarkan alam memegang kendali. Kita serahkan intisari semesta kita untuk silih memadu lalu mencair, sejalan nafas menjadi likat memadat untuk kemudian menyublim. Diserap ruang dihirup waktu.
Di titik itu, yang ini.
(usap ruang dada dimana labuh kalbu).
Thursday, May 3, 2018
INTERNUSA 5.
Uphill. (Wind beneath your hairs).
Mungkin tidak lagi kamu ingat. Tepatnya, tidak lagi dirasa perlu untuk mengingat. Atau sudahlah, kita sepakati saja bahwa memang kita tak pernah ke situ; ke bukit itu.
Namun sempatkanlah hadir disitu, berbelas menit sebelum corong masjid menyuarakan panggilan bagi mereka yg hendak meraih kemenangan, sebelum langit memudar dari terang. Saat itu, dari ketinggian bukit bisa kau lihat betapa kita, manusia, tak pernah sepenuhnya rela membiarkan gelap menguasai alam. Kita memang selalu mencoba menyiasati alam. Bohlam, neon, tl, petromax, lilin, obor, dan berbagai alat pengubah enerji menjadi cahaya, perlahan nyala satu persatu di kejauhan. Seolah perlahan puluhan, ratusan ribu, jutaan, kerlip kunang kunang bergumam nyala satu persatu saat sang cahaya utama mulai menyembunyikan diri di ufuk. Identik dengan apa di dalam sini yg pelan menyala lalu tak terbendung saat berdekatan denganmu.
Di bawah sana, di kota yg dilingkup bukit seperti mangkuk itu, biasanya angin semakin gegas bergerak dari ketinggian mencari tekanan di kerendahan.
Temukan satu titik tempatmu berdiri, atau duduk menjuntaikan kaki dari jok, atau kap kendaraanmu. Pokoknya temukan sajalah satu titik tempatmu memandang ke bawah sana, dari bukit itu, di atas situ.
Di atas situ, biarkan angin itu merambahi pipimu yg biasanya memerah saat dingin. Disesap hidung yg pahatan lekukannya pastilah dicipta sang mahakriya sambil tersenyum. Perlahan mengusap bibirmu yg pastilah formasinya nyaris selalu berbentuk kurva u elips memanjang. Ah bibirmu itu, yg sempat dulu... ah sudahlah.
Biarkan udara yg bergerak menyusup ke celah kain, mengisi rongga di antara lembut rambutmu, menyisir setiap lembarnya, setiap jalinan kisut ia uraikan dengan indah. Tepatnya; menjadi semakin indah dari biasanya.
Di bawah sini, biar aku memandang ke atas situ. Ah diatas situ tak perlu kamu tahu aku ada dibawah sini. Nihilkan saja aku bila kau rasa perlu. Kamupun tak perlu tahu; saat itu pastilah aku cemburu pada angin. Sangat. Sungguh.
Di atas situ, biarkan nalurimu yg memandu; apakah kau pejamkan mata dan biarkan rasa bicara saat angin bergerak melingkupmu, atau biarkan matamu -jendela jiwamu- terbuka menikmati jutaan kerlip kunang kunang dan bintang di kejauhan sana.
Biarkan saja aku dibawah sini.
07 Januari 2018.
Mungkin tidak lagi kamu ingat. Tepatnya, tidak lagi dirasa perlu untuk mengingat. Atau sudahlah, kita sepakati saja bahwa memang kita tak pernah ke situ; ke bukit itu.
Namun sempatkanlah hadir disitu, berbelas menit sebelum corong masjid menyuarakan panggilan bagi mereka yg hendak meraih kemenangan, sebelum langit memudar dari terang. Saat itu, dari ketinggian bukit bisa kau lihat betapa kita, manusia, tak pernah sepenuhnya rela membiarkan gelap menguasai alam. Kita memang selalu mencoba menyiasati alam. Bohlam, neon, tl, petromax, lilin, obor, dan berbagai alat pengubah enerji menjadi cahaya, perlahan nyala satu persatu di kejauhan. Seolah perlahan puluhan, ratusan ribu, jutaan, kerlip kunang kunang bergumam nyala satu persatu saat sang cahaya utama mulai menyembunyikan diri di ufuk. Identik dengan apa di dalam sini yg pelan menyala lalu tak terbendung saat berdekatan denganmu.
Di bawah sana, di kota yg dilingkup bukit seperti mangkuk itu, biasanya angin semakin gegas bergerak dari ketinggian mencari tekanan di kerendahan.
Temukan satu titik tempatmu berdiri, atau duduk menjuntaikan kaki dari jok, atau kap kendaraanmu. Pokoknya temukan sajalah satu titik tempatmu memandang ke bawah sana, dari bukit itu, di atas situ.
Di atas situ, biarkan angin itu merambahi pipimu yg biasanya memerah saat dingin. Disesap hidung yg pahatan lekukannya pastilah dicipta sang mahakriya sambil tersenyum. Perlahan mengusap bibirmu yg pastilah formasinya nyaris selalu berbentuk kurva u elips memanjang. Ah bibirmu itu, yg sempat dulu... ah sudahlah.
Biarkan udara yg bergerak menyusup ke celah kain, mengisi rongga di antara lembut rambutmu, menyisir setiap lembarnya, setiap jalinan kisut ia uraikan dengan indah. Tepatnya; menjadi semakin indah dari biasanya.
Di bawah sini, biar aku memandang ke atas situ. Ah diatas situ tak perlu kamu tahu aku ada dibawah sini. Nihilkan saja aku bila kau rasa perlu. Kamupun tak perlu tahu; saat itu pastilah aku cemburu pada angin. Sangat. Sungguh.
Di atas situ, biarkan nalurimu yg memandu; apakah kau pejamkan mata dan biarkan rasa bicara saat angin bergerak melingkupmu, atau biarkan matamu -jendela jiwamu- terbuka menikmati jutaan kerlip kunang kunang dan bintang di kejauhan sana.
Biarkan saja aku dibawah sini.
07 Januari 2018.
Subscribe to:
Posts (Atom)