Thursday, January 9, 2020

benci

benci,
sungguh.
forrest gump, film yg kubenci. benci filmnya mengapa berakhir. benci mengapa masih saja aku terpaku di depan layar saat semua deretan nama pemangkuperan usai ditampilkan dan hanya menyisakan legam hitam di layar. aku tak ingin ini berakhir! aku masih ingin melihat mendengar mencerna mengunyah semua yg dilemparkan sang pencerita itu di layar! ayolah, jangan berakhir. ayolah, berbaikhatilah, buailah terus satu pemirsa ini dengan paparanmu. tapi hitam jua layar berakhir. ah tega! aku benci!
english patience, juga film yg menyebalkan. benci mengapa masih saja aku terpatri pada semua rasa yg ditimbulkannya. benci pada waktu terlewatkan hanya dengan menekur diri dilena kesan gambar bergerak hasil kecermatan dan kepekaan luar biasa pengarah lensa. benci pada rasa nelangsa pahit nan indah disentuh kesan kisah. dan rasa itu menempel terus nyaris tak digerus waktu. seperti betapa bencinya aku pada semua rempah adonan pariaman yg masih saja menempel pada indra perasa jauh lama setelah aku selesai mengunyah dan mencernanya. tapi aku kemudian tak kuasa untuk kembali menghampiri, meraih, mencerna, mengunyahnya. lagi, lalu lagi, kemudian lagi, dan lagi. seperti melakukan sebuah kesalahan dengan sesal yg lezat.
sudahlah, cukuplah, jangan terus kesan itu mengawangiku, tersiksa tahu! menyebalkan tahu! ah sudahlah, biar kucoba hapus dengan dendang dolores cranberries ; "...do you have to, do you have to let it linger?"
dan apel. hanya dibayangi mangga mengkal di posisi runner up sebagai buah paling mengesalkan. bagaimana tidak mengesalkan, muncul suka suka musim mereka saja. dimasa masa saat renyahnya diinginkan, saat gusi kangen rindu pada sari juicy waktu dikunyah, tiba tiba menghilang. entah dimana tak ditemukan. ditinggal saat sedang...ah menyebalkan memang. pantas saja dibenci. tapi saat kemudian muncul, dikunyah lagilah renyah juicynya dan pasti bila apel punya ekspresi maka ia sedang tersenyum, smirk, meledek pengunyahnya. benar, pantas dibenci.
endless love, lionel richie & diana ross, atau luther vandross & mariah carey, lagu yg amat kubenci. benci pada tak kuasa dan tak mampunya aku menahan diri ikut melafalkan nada menimpali dengan suara kedua dengan falsetto saat mariah atau diana mengucap "....and your eyes" dan entah bagaimana tiba tiba aku membalas dengan suara apa adanya "...your eyes, your eyes" lalu mengambil peran suara kedua "...they tell me how much you care". menyebalkan kan? mending kalo di kamar mandi atau sendiri mendengar dari audio di mobil, bagaimana saat berada di ruang publik? aduh memalukan. sama memalukannya saat refleks pada dendang superstar local genius kita, haji oma, aku bisa tiba tiba saja ikut berdendang "....kalau sudah tiada, sungguh terasa, betapa kehadirannya...sungguh berharga". george michael juga tak mau ketinggalan ingin ikut ambil peran dalam mempermalukanku, mudah saja ia menggiringku di kissing a fool ; "...people, you can never change the way they feel, will always make a lover feel a fool, but you knew... ioved you". belum lagi stevie wonder, selalu sukses membuatku refleks mengambil suara latar kedua saat "for your love, i would do anything, just to see...the smile upon your face....". mereka memang benciable banget, dan banyak lagi selain mereka. layak kan membenci mereka mereka yg membuat kita merana? iya kan?
.
..
...
....
.....
......
.......
........
dan, sadarkah betapa menyebalkannya dirimu sehingga sungguh kubenci?

08 April 2019


No comments:

Post a Comment