Beberapa saling bertukar kata, namun selebihnya -kebanyakan dari mereka- menenggelamkan diri dengan pikirannya sendiri dalam diam. Tak sedikit yg kemudian melunglaikan kepala menutup mata dan melepas ikatan dengan alam sadar. Mencoba lepas sejenak saja setelah lelah seharian ini mengamalkan doa dengan tindakan paling utama dan terbaik: gerak mencari nafkah, bukan dengan sekedar kata2 khusyuk. Sebagian kecil menyibukkan benak dengan menenggelamkan diri pada perangkat berlayar mungil dan ibu jari tak henti bergerak menyentuh layar mungil itu.
Sebagian tak terelakkan menyeruakkan penanda gerak langkah mencari nafkah dengan raga: sisa keringat di kulit dan kain penutup tubuhnya.
Sebagian tak terelakkan menampilkan ekspresi penanda gerak langkah mencari nafkah dengan daya fikir: mata yg tergayuti kantung beban jatuh.
Dan aku, tak terelakkan dan tak akan mengelak, bagian dari mereka. Kaum pekerja.
Aku tidak yakin ada diantara mereka yg menyempatkan diri memikirkan apakah yg duduk disebelahnya nanti akan memiliki pilihan berbeda, sehingga harus menjauh memisahkan posisi duduk atau berdiri.
Aku lebih yakin mereka merasa sama, nasib yg identik, kaum pekerja yg berada di wahana yg sama. Saling kenal pun tidak. Tidak seluruhnya paling tidak. Namun iya, satu rasa, derap langkah kaum pekerja, menuju arah yg berbeda namun satu tujuan:
...pulang...
Hari demi hari, setiap hari. Menuju ke yg dicita, dicinta.
Bekerjalah, kaumku, hirau sedikit sajalah pada mereka para orang besar yg sedang memperebutkan perhatianmu. Namun tetaplah, gerak bekerja jangan henti. Nasibmu, bukan terutama ditentukan oleh mereka, tapi lebih oleh gerak langkah kerjamu. Bergeraklah.
Aku akan selalu menjadi bagianmu.
13 Juni 2014

No comments:
Post a Comment