Monday, December 10, 2018

rambat

di ruang itu, gema namamu. lirih tipis nyaris tak kuasa tertangkap gendang telinga. namun saat rambatnya mencapai satu relung, tempat satu lonceng bernama; hati, bersemayam, ia dentang kencang. 

di relung itu, samar hadirmu. layang tipis nyaris tak kuasa tertangkap kornea. namun saat rambat cahayanya mencapai satu balung, tempat satu lentera bernama; jiwa, bertahta, ia benderang terang.

di balung itu, tak kesat rasamu. nyaris hambar tipis tak kuasa tercecap syaraf inderasa. namun saat rambat rasanya mencapai satu ceruk, tempat satu halaman bernama; kalbu, bersimaharatu, tegas kuat ia terpapar.

disitu, tersimpan. masih. selalu.

Thursday, May 31, 2018

setelahnya.

setelahnya.

mata tak kuasa terpejam. semua luruh. segala luluh. jatuh dalam. hempas tegas namun lembut di saat yg sama. lalu gelap merengkuh menjadi selimut atas raga yg jiwanya sedang terlepas. lungkrah. lelah. yang. indah.

setelahnya.

aku membuka mata. mengangkat tubuh dari pembaringan. terduduk di tepinya. menghela nafas pelan. agar tak membangunkanmu. memicingkan mata, menyigi setiap sudut meniti ruang. remang tetap mampu menyajikan siluet. atas kurva. kurva. kontur. kontur. sisi. sisi. sudut. sudut. yg terbaring lelah disitu. yang. indah.

setelahnya.

aku berdiri. menjauh dari tepi. ruang samping. menghampiri teras. memejamkan mata merentang tangan. membiarkan setiap pori tubuh tanpa kecuali merasakan bergeraknya udara. semua. tanpa kecuali. tak ada yg lain selain udara yg terhirup. tak ada yg lain. tak ada. yang.  se .indah. ini.

setelahnya.

waktu bergulir. waktu untuk kembali. kembali terduduk. kembali terduduk di tepinya.

setelahnya.

matanya terbuka. menerbitkan senyum. dan mata itu  menyampaikan kata sapaan tanpa suara, entah setengah bertanya entah meminta;

"lagi?"

setelahnya.....




@argoparahyangan28, 31 Mei 2018.
dgn latarbelakang suara lagu "the air that i breathe" versi K.D.Lang.

Tuesday, May 29, 2018

Eufimisme. Implistisme.



Di titik itu, aku ingin berhenti. Namun penjelajahan justru dimulai situ, di titik itu. Awal dari sesuatu yg nampaknya tak ingin ku akhiri. Akhir dari penantian akan suatu awal.

Disitu, di titik itu.
Titik itu.
Itu.

Pusat semestamu, dimana aku membiarkan gravitasimu/ku merengkuhku/mu. Pusat semestaku, dimana jemaritakkasatmataku/mu menggenggammu/ku.

Di titik ini, aku akan berhenti. Namun penyidikan justru akan terlaksana lebih dalam, di titik ini. Tak akan berakhir sampai tersidik awalnya. Upaya ungkap awal dari sesuatu yg sebenarnya tak memiliki akhir.

Disini, di titik ini.
Titik ini.
Ini.

Pusat ruang intisariku, dimana ruangutamanya adalah intisarimu. Pusat ruang intisarimu, yang selalu lepas rela kubiarkan terisi intisariku, sepenuh yang kau mau, sebutuhlengkap hasrat alamimu.

Di titik itu, yang ini, kita biarkan alam memegang kendali. Kita serahkan intisari semesta kita untuk silih memadu lalu mencair, sejalan nafas menjadi likat memadat untuk kemudian menyublim. Diserap ruang dihirup waktu. 

Di titik itu, yang ini.
(usap ruang dada dimana labuh kalbu).

Thursday, May 3, 2018

INTERNUSA 5.

Uphill. (Wind beneath your hairs).

Mungkin tidak lagi kamu ingat. Tepatnya, tidak lagi dirasa perlu untuk mengingat. Atau sudahlah, kita sepakati saja bahwa memang kita tak pernah ke situ; ke bukit itu.

Namun sempatkanlah hadir disitu, berbelas menit sebelum corong masjid menyuarakan panggilan bagi mereka yg hendak meraih kemenangan, sebelum langit memudar dari terang. Saat itu, dari ketinggian bukit bisa kau lihat betapa kita, manusia, tak pernah sepenuhnya rela membiarkan gelap menguasai alam. Kita memang selalu mencoba menyiasati alam. Bohlam, neon, tl, petromax, lilin, obor, dan berbagai alat pengubah enerji menjadi cahaya, perlahan nyala satu persatu di kejauhan. Seolah perlahan puluhan, ratusan ribu, jutaan, kerlip kunang kunang bergumam nyala satu persatu saat sang cahaya utama mulai menyembunyikan diri di ufuk. Identik dengan apa di dalam sini yg pelan menyala lalu tak terbendung saat berdekatan denganmu.

Di bawah sana, di kota yg dilingkup bukit seperti mangkuk itu, biasanya angin semakin gegas bergerak dari ketinggian mencari tekanan di kerendahan.

Temukan satu titik tempatmu berdiri, atau duduk menjuntaikan kaki dari jok, atau kap kendaraanmu. Pokoknya temukan sajalah satu titik tempatmu memandang ke bawah sana, dari bukit itu, di atas situ.

Di atas situ, biarkan angin itu merambahi pipimu yg biasanya memerah saat dingin. Disesap hidung yg pahatan lekukannya pastilah dicipta sang mahakriya sambil tersenyum. Perlahan mengusap bibirmu yg pastilah formasinya nyaris selalu berbentuk kurva u elips memanjang. Ah bibirmu itu, yg sempat dulu... ah sudahlah.
Biarkan udara yg bergerak menyusup ke celah kain, mengisi rongga di antara lembut rambutmu, menyisir setiap lembarnya, setiap jalinan kisut ia uraikan dengan indah. Tepatnya; menjadi semakin indah dari biasanya.

Di bawah sini, biar aku memandang ke atas situ. Ah diatas situ tak perlu kamu tahu aku ada dibawah sini. Nihilkan saja aku bila kau rasa perlu. Kamupun tak perlu tahu; saat itu pastilah aku cemburu pada angin. Sangat. Sungguh.

Di atas situ, biarkan nalurimu yg memandu; apakah kau pejamkan mata dan biarkan rasa bicara saat angin bergerak melingkupmu, atau biarkan matamu -jendela jiwamu- terbuka menikmati jutaan kerlip kunang kunang dan bintang di kejauhan sana.

Biarkan saja aku dibawah sini.

07 Januari 2018.

Friday, April 27, 2018

INTERNUSA 6.

Sweat (steepstep tracks)

Ambil langkah, awali pelan pelan saja. Biarkan waktu memandu langkah pacu perlahan.
Aku lupa, apakah tungkai kaki panjangmu itu memang terbiasa dibawa memburu detik waktu atau tidak.
Aku jelas tak lupa, bagaimana tungkai tumitmu terangkat saat hembusan nafasmu terasa hangat di wajahku saat kita nyaris tak berjarak. Saat itu kita... ah sudahlah.

Jangan sampai terlupa, pilih jenis alas kaki ternyaman bagimu; over pronator, neutral pronator, atau supinator. Malah mungkin, biarkan saja permukaan kulit telapak kaki imutmu itu menyentuh permukaan jalur pacu pilihanmu; tanah, gravel, rumput, pasir padat, sintetis, atau aspal. Biarkan sensor sensor syaraf di bagian paling ujung bawah tubuhmu itu terstimulasi selama kau memacu. Ah seingatku, justru biasanya setelah disitu dibagian dimana nyaris seluruh ujung simpul syarafmu berkumpul itu terstimulasi, baru kemudian kita memacu, saat itu, saat kita....ah sudahlah.

Menurut mereka, nyaris seluruh bagian otot bergerak ketika kita menggerakkan tungkai kaki menjejakkan telapak menelusuri jalur. Menyusur jelajah dan kemudian tarikan nafas semakin kerap. Setiap orang memiliki ritmenya sendiri, setiap orang memiliki kekhasan liuktubuh unik saat bergerak berselancar meniti lajur. Aku belum menemukan padanan kata untuk satu kata asing ini; paradox. Untuk menggambarkan betapa gemulai gerakmu juga menyiratkan kuat tegas kukuh gerakmu saat mendayung di aliran waktu. Betapa kelenturan bersanding kegetasan dengan laras, unik tiada tara.
Aku terkesan saman sekaligus terbuai balet, terbius bedoyo ketawang dan terpana jaipong di saat yg sama, terasuk kecak dan saat itu juga terpesona gambyong,  tersihir sintren waktu terperangah hula, tergugu maori namun tergagap whirling dervishes, ah sudahlah, ya itulah...itu.
Segala kontradksi itu, hal hal paradoksal tersebut, bisa dirangkum cukup dalam tiga buah kata berbeda. Pertama; indah. Kedua; indah. Ketiga; indah.

Dan,
tak bisa,
tak mungkin,
tak mampu,
nirdaya untuk lupa.
demikian pula gerakmu, saat itu, saat kita... ah sudahlah.

Dan tolonglah, jangan berhenti. Bergeraklah terus sesuai waktu dan kehendak pacumu. Biar, biarlah kamu tak perlu tahu aku ada sekurang berbelas berpuluh langkah nirkehendak menyusulmu, bahkan mensejajarimu lagi pun nirkuasa. Bergeraklah terus menempuh jalur, meniti lajur. Ikhlaskan mataku, jendela jiwa dimana selalu ada bagian dirimu bersemayam jauh didalamnya, menelusuri & merekam setiap milidetik indahmu.

Melangkahlah selalu, biarkan jelajah jejak hidupmu memberi sejarah pada jalur yg kau tempuh.

Aku akan ada, masih, dan selalu.

27 April 2018.
Argo Parahyangan 30.

Tuesday, April 3, 2018

Sangkal

Tidak, aku tidak rindu.
Tapi aku nirkuasa menyanggahmu,
pada sangkaanmu.
Bahwa aku rindu.

Tidak, aku tidak rindu.
Tapi aku tanpa kehendak membantahmu,
pada dugaanmu.
Bahwa aku rindu.

Tidak, aku tidak rindu.
Tapi aku, ah sudahlah.
Ya aku.

Tuesday, February 6, 2018

[ber]gerak.

ditulis 2011-2012
dan ketika ia siap, merebahkan tubuhnya dengan ringan, bulu mata lentiknya semakin memperindah garis wajahnya ketika perlahan ia menutup mata, bibir lembut nan penuh dan segar itu berbisik pelan : "pelan pelan saja ya...". aku tersenyum dan mengangguk. akan aku penuhi keinginanmu, apapun yg kau butuhkan.

dan kemudian akupun, pada awalnya hanya aku, bergerak. namun kemudian setelah sekian waktu, lebih tepat: kami, yg bergerak. pelan saja, sebagaimana ia minta.

di saat kami bergerak, bersama, selalu tak bisa kuhindari kuperhatikan garis wajahnya, saat itu selalu jelas bagiku pahatan pencipta tak melewatkan satu bagian pun lekuk tekuk pahatannya sebagaimana seharusnya ia melekuk menekuk.

di saat kami bergerak, bersama, selalu tak bisa kuabaikan bagaimana ia menarik nafas dan kemudian menghembuskannya pelan sambil tetap menutup mata, di saat seperti ini naluri alami membiarkan ia melepas kendali dirinya yg biasanya ketat, dan bibirnya merekah sedikit saja.
di saat kami bergerak, bersama, selalu tak bisa kunafikan bagaimana begitu kuhargai kuhormati ia, saat setelah segala lelah sepanjang hari semua ia tekuni, masih saja ia menetapkan saat dimana kami harus bersama, bergerak.

dan saat aku berhenti bergerak, sedikit tiba - tiba aku hentikan gerak laju, dia sedikit membuka mata dan garis wajahnya mengungkap kecewa kecil dan raut tanya yg tak terucap, mengapa? namun mata itu kembali tertutup, rautnya kembali ke semula, kedua katup bibirnya tertarik memanjang kesamping nyaris tersenyum sambil menghembuskan nafas pelan ketika aku kembali melanjutkan laju gerak, tetap pelan tentu saja, sebagaimana ia minta.

kami, atau mungkin sebaiknya; ia, ingin sampai, kesana. dan bagiku, sebuah anugerah dan keindahan nyaris nirwana bisa membuatnya ke tujuan itu, sampai, kesana. pada awalnya tujuannya hanya ia, namun sebagaimana alam menitahkan maka akhirnya nanti tak terhindarkan, kami akan bersama sampai, kesana.

dan kapanpun ia menyampaikan bahwa sudah saatnya bergerak, maka terjadilah. sebagaimana embun daun seharusnya menguap setelah lewat masa pagi, sebagaimana embun udara harus tumpah ke tanah ketika awan kehilangan kuasa dan daya untuk menahan. 

pelan saja, sebagaimana ia suka, sebagaimana ia minta. dan aku turuti, aku penuhi. namun sering naluri melawan kendali diri, dan laju sering terpacu tak lagi pelan. dan entah sadar atau entah memang ia paham bahwa mungkin pacu laju yg tak selalu pelan yg sebenarnya ia inginkan, ia butuhkan, agar teraih tujuan itu, sampai. tak kulihat raut tanya dan tak suka sebagaimana aku lihat ketika gerak laju sedikit tiba - tiba aku hentikan tadi. justru ketika aku turuti naluri yg membangkang terhadap kendali diri, laju terpacu tak lagi pelan, ia hanya sedikit membuka bibirnya sambil tetap memejam mata dan tak terlihat terganggu dan tak muncul raut tak suka ketika ia agak terguncang guncang gerak laju. namun akhirnya kembali kurengkuh kendali diri itu, kupelankan kembali. dan ia hanya tersenyum, menikmati laju gerak kami, menikmati pelan namun teguh harus sampai ke tujuan. dan aku, kupelankan laju, bukan karena tak ingin sampai, kesana. namun lebih karena; tetap akan sampai kesana, namun tak secepat itu. biar kunikmati perjalanan ini.

dan waktu terus bergulir, seiring kami bergerak, bersama. berhenti, gerak kembali, sejenak henti, namun pasti selalu diikuti gerak kembali, pasti. pelan, terpacu, pelan. ke samping, terhentak ke pinggir, lurus, sebagaimana jalan tujuan mengharuskan. gerak dan gerak. pelan, terpacu, pelan, terpacu, dan terpacu, dan semakin terpacu. pada akhirnya aku, ia, kami, membiarkan saja naluri membimbing gerak, merelakan alam menuntun laju. apa adanya. dan kami semakin dekat, mendekat, dekat, lebih dekat, dan sampai, tak terhindarkan. sebagaimana alam menitahkan, kami bersama sampai, disini.
"sudah sampai......" aku bisikkan pada ia, dan ia membuka mata dengan raut muka lelah namun terpenuhi, keinginannya, kebutuhannya. dan tentu saja sebagaimana pembawaan dirinya, senyum ia kembangkan, indah tak terbantah.

ia benahi dirinya sejenak, dirapikannya apa yg ia kenakan, diperiksanya polesan bibir dan pipinya, juga gerai rambut sebahunya yg sekian waktu terhimpit sandaran kepala sambil memejam mata, diraihnya tas mungil namun penuh perangkat, kemudian ia buka jendela dengan tombol otomatis, ia buka pelan namun tegas pintu kendaraan.

"tunggu ya, setelah selesai meeting disini, antar aku kembali ke tempat tadi, tolong tunggu 45 menit sampai 1 jam lagi jemput di depan sini ya." aku mengangguk dan tentu saja tersenyum. aku akan menunggu sebagaimana biasanya itu tak lagi tugasku, tapi memang inginku. aku kembali bergerak laju, masih pelan, kusandarkan kendaraan ini di sebuah tempat tak jauh dari tempat ia turun tadi.

dan aku masih menunggu, duduk, depan kemudi dalam kendaraan ini. dan nanti akan kuantar lagi ia, sampai, kesana, kemana yg ia mau. pelan sebagaimana ia biasanya suka, atau membiarkan naluri bicara, kupenuhi.