Thursday, April 3, 2014

poetic cry

Ternyata aku salah. Untuk menganggap atau tepatnya berharap bahwa perempuan itu anggun, lembut, gak kolokan, dan berbagai sifat indah lainnya sebagaimana konon memang perempuan diciptakan indah. Memang, di usiaku yg baru menginjak belasan pasti tidak dianggap sebagai laki-laki yg layak berpendapat -apalagi menghakimi- tentang perempuan. Apalagi nyaris tidak ada jejak perempuan selama jelajah hidupku yg masih singkat ini, kecuali dua: ibu, dan kakakku.

Dan siang ini, anggapan dan harapan akan keindahan itu runtuh.

Perempuan yg kebetulan saja lahir lebih dulu dari aku itu, tiba tiba masuk rumah dan tidak menghiraukan bahwa pintu juga benda yg bisa rusak bila digebrak begitu. Tidak ada garis anggun di garis wajahnya, lenyap. Kusut sekusut seragam putih abu - abu yg ia kenakan. Tiba - tiba ia renggut gelas di tanganku dan ia habiskan tandas sekejap air yg tadinya untuk membasahi tenggorokanku sendiri yg juga lelah dan belum sempat mengganti seragam putih biru. Ekpresi wajah protesku ia balas dengan membelalakkan mata, "apa!?" Sambil melotot, hiii. Kemudian dilemparnya tas baduy yg jadi ciri khasnya itu, sehingga isinya mencelat berserak.

"...kamu kenapa nak? Koq berangasan begitu?" Ibu muncul dari kamar dengan muka kaget, namun meneduhkan sebagaimana khasnya.

"...aku sebel bu, sebeeeeeel!!" Si berangasanpelototserem itu menjawab. Aku akhirnya memilih melipir, duduk menjauh namun penasaran tak meninggalkan ruangan.

"Iya lah, pasti lagi sebel, keliatan koq gak ada yg lagi seneng mukanya sejelek teteh" aku memberanikan diri terlibat.

"Apa kamu?! Ikut2an aja!" Selahnya sambil mencoba meraih benda apa saja yg mencelat berserakan tadi untuk dilemparkan padaku.

"Eh sudah! Sana kamu ganti baju, teteh kamu juga ganti baju sana!" ibu menyuruhku dan si jutek itu.

Aku masuk kamarku, si judes masuk ke kamarnya sendiri. Ibu mengikuti dia ke kamarnya. Terdengar lamat - lamat mereka berbicara.

Ibu, "Kamu kenapa, coba ceritakan pada ibu".
SiBete, "panitia seleksi sekolah gak adil bu, dan pasti gak obyektif, menyebalkan pokoknya!"
Ibu, "memangnya ada panitia seleksi apa?"
SiKusut, "itu, kan ada lomba tulis puisi dan juga lomba baca puisi, masa teteh gak diikutkan!"
Ooh, rupanya kakakku yg memang tulisan dan puisinya sering masuk majalah dan koran itu ingin jadi wakil sekolahnya tapi gagal, hihihi sukurin! Batinku.
Ibu, "lho ya kamu lihat dan pelajari, mungkin mereka yg diikutkan selain kamu itu memang lebih baik dari kamu"
SiBete "memang ada yg bagus bu, temen sebelah kelasku puisinya bagus sekali, tapi yg lain b banget, teteh tahu koq dan bisa ngebedain mana puisi yg layak dan tidak. Dan teteh juga punya puisi yg kayaknya lebih baik..."
"coba kamu ajak bicara guru panitia seleksi, pasti mereka bisa menjelaskan keunggulan puisi yg terpilih dibanding puisimu" ibu sambil mengusap-usap punggungnya.
SiJudes, "eeeh, ehmmm, sebenarnya...aduh"
Ibu, "lho kenapa? Kamu daftarkan puisimu juga kan jadi mereka bisa lihat, baca, dan nilai?"
SiJutek "eeeeh, anu bu, teteh gak masukin daftar...." Kuintip dari pintu mukanya bersemu merah.
Ibu, "euleuh euleuh, terus kenapa kamu protes? Gak kamu masukin artinya kan kamu gak minat ikutan"
SiBingung, "..bukannya gak mau ikutan, tapi kan mereka tahu teteh punya banyak puisi yg udah dimuat di majalah-majalah, kan gak usah daftar juga mereka harusnya tau"
Ibu, "....duh naaak, ibu selalu berusaha memberi contoh rendah hati, kenapa teteh jadi tinggi hati begini? Kamu tidak daftar ya artinya kamu menyatakan tidak ingin ikut"
mukanya makin memerah."Teteh, puisi itu selayaknya lahir dan hadir dari hati. Dan kerendahan hati adalah hasil dari kehalusan hati yg sering melahirkan puisi, Untuk seseorang yg sering menulis puisi, apalagi kamu perempuan, ibu tidak perlu mengingatkan lagi itu padamu."
SiJutek mukanya sekarang menunduk.
Ibu, "pendaftaran sudah ditutup?"
SiMalu dengan muka masih memerah "...yg tulis puisi sudah tutup bu, kalo yg lomba baca puisi sih masih dibuka"
Ibu, "ya sudah, terima salahmu sendiri, jangan mengeluh, hadapi saja" tegas. "Sekarang, ibu minta kamu daftar yg lomba baca puisi"
SiGalau, "tapi...teteh kan suaranya jelek dan sukanya nulis aja, bukan membacakan mendeklamasikan..."

Ibu keluar kamar dan dia mengikuti, ibu menunjuk ke isi tas yg berserakan di lantai, si teteh duduk bersimpuh memunguti dan memasukkan ke tas.

"Kamu anak ayahmu, dan diantara semua orang di dunia, ayahmulah pasti yg yakin kamu bisa jadi pembaca puisi yg lebih dari sekedar bagus"

"Ayah bu? Kenapa ibu bilang ayah yakin?"

Ibu menarik nafas panjang dan dalam...

"Saat kamu lahir, dan tangismu memenuhi ruangan, selepas membisikkan adzan di telingamu, ayahmu menghampiri ibu, ia berkata pada ibu dengan mata berkaca-kaca: ...lihat sayang, dengar sayang, tangisnya saja indah, puisi bagiku..."

Teteh, kakakku itu, terdiam, terpaku.

"Betul ayah bilang begitu? Gak bohong?"

"Ibu tidak pernah ingin, tidak akan pernah, memberi contoh berbohong pada anak-anak ibu"

Teteh, kakakku, gurat wajahnya berubah. Kurva - kurva terbentuk kembali di wajahnya. Kurva U tercetak jelas di bibirnya, di matanya cahaya menyala.

"Aku besok akan daftar lomba baca puisi bu, malah kalo diperbolehkan aku ingin membaca puisiku sendiri, yg tentang ayah, rindu ayah!" Lalu segera ia punguti rapikan semua yg berserak tadi, bangkit dan kembali masuk ke kamarnya membuka kembali catatan kumpulan puisinya.

Kulihat ibu masih berdiri, walau sedikit tetap bisa kulihat senyum tipis di bibirnya. Lalu matanya menyanyu, semakin sayu, ia ambil satu frame photo diatas piano, diusapnya wajah yg tercetak di poto itu, lalu berbisik lirih "...lihatlah, anak-anakmu". Ada tetes bening di ujung matanya ketika ia mengucap itu sambil mengusap penuh sayang pada wajah di poto itu, ayahku, almarhum.

Aku juga anak ayahku, sebagaimana ayahku tunjukkan dahulu, telah dan akan terus kuserahkan hati sepenuhnya pada perempuan - perempuan yg saat ini mengisi jelajah hidupku, ibu, dan ya...teteh.Akan kujaga.

Ternyata aku salah telah salah sebelumnya.

Dan siang ini, anggapan dan harapan akan keindahan itu kembali tumbuh, kuat mengakar.

[Diatas KA Ciremai Express No.7103, Bandung-Cirebon 3 April 2014.]