Thursday, January 9, 2020

pertanyaan pagi

yanda, dari mana datangnya embun? dari luluh, teteh, dari luruh. air sumarah luluh dipeluk udara, kemudian udara merelakannya luruh ketika dititah matari, sarinya luruh direngkuh daun.

yanda, mengapa embun didaun? karena ia tempat labuh, aa, labuh sebelum dan agar air dapat menjadi apapun yg alam titahkan. ketika embun hadir, daun pun tak memaksa embun tinggal, tak pernah kuasa ia biarkan embun jatuh ke tanah atau kembali dipeluk udara.

yanda, mengapa matari terbit? karena pasti, teteh, karena rela. ia tidak memilih terbit, tidak pula menolak, hadir setiap hari, namun selalu sepenuh hati ia bagi kehangatannya.

yanda, bagaimana pelangi hadir? disebabkan mata hati, aa, yg terbuka. sehingga dapat matamu tangkap semua warna yg sebelumnya disembunyikan matari dan kemudian diurai oleh air & udara.

yanda, dari mana datangnya aku?
dari luluh, teteh aa, dari luruh.
karena pasti, aa teteh, karena rela.
disebabkan mata hati, teteh aa, yg terbuka
ketika yg luluh merelakan dirinya luruh, dan sarinya dihadirkan, dan hadirlah kalian mewarnai.

24 Juli 2010



[socana]

aduh ternyata tidak mudah menerjemahkan ke bahasa ibu...

[bahasa ibu]
socana, nu estu pangcampernikna, jandela hatena, mung tiasa ngintun isarat, yen anjeuna tos lami mikaterang.
socana, nu estu kuring hoyong mihartos bulungbung jerona, jandela kalbuna, mung tiasa ngintun firasat, yen anjeuna tos lami ngantos sora hate eta kabedalkeun.
socana, nu duka kunaon kuring janten ngahiap mun neuteup, ngahaturkeun pinaros, kunaha kedah ngantos saparantos salami waktos, sora hate teh kadugikeun. 
duh enung, duka atuh kunaon kaum istri mah kedah we hoyong ngadangu (deui) anu saleresna tos caang dipikaraos dipikaterang.

[bahasa tanah air, versi asli]
matanya, yg selalu terlihat cantik bagiku, jendela hatinya itu, hanya bisa mengirim isyarat. bahwa memang sejak lama ia tahu itu.
matanya, yg kedalamannya selalu ingin kuselami, jendela jiwanya itu, hanya bisa mengirim pesan, memang sejak lama ia menunggu bunyi hati itu terucapkan.
matanya, yg entah mengapa sering membuatku terkesiap ketika memandangku, menunjukkan tanya, mengapa harus setelah sekian lama ukuran waktu, bunyi hati itu baru tersampaikan.
entah mengapa perempuan selalu saja ingin mendengar (kembali) sesuatu yg sebenarnya sudah ia rasa dan tahu.

aya nu tiasa/kersa ngahartoskeun ti basa tanah air ka basa ibu nu langkung sae ti kuring?
ada yg bisa menterjemahkan dari bahasa tanah air ke bahasa ibu yg lebih bagus lagi dibanding versi diatas?
anybody please do disregard any hesitation to interpretate from versi asli to the basa ibu?

atau ada yg mau ke bahasa lain? francais? jawa? padang? portuegesa? espanola? basque? et cetera et cetera?

tulisan lain ada di klik aja ya...

24 Mei 2011.

perempuan lain itu

maafkan aku.
perempuan lain itu, ada.
perempuan lain itu, hadir. diantara kita.

maafkan aku.
akupun tak tahu kenapa bisa muncul perasaan seperti ini ke perempuan lain, yg lebih kuat dari perasaanku kepadamu, kamu yg kupilih kunikahi.

aku mengerti,
kamu tak akan sepenuhnya mengerti,
mengapa terjadi seperti ini.

aku tahu,
bahwa kita berdua sama - sama tahu,
hal seperti ini akan terjadi juga.
hanya masalah waktu.

aku paham,
kamu tak akan benar - benar paham,
pada apa yg terjadi kemudian.

tapi inilah adanya,
perempuan lain itu, ada.
perempuan lain itu, hadir.
maafkan aku,
maafkan hanya bila kau mau berbagi,
maafkan hanya kalau kau mampu.

ah,
aku mungkin tak akan pernah mengerti hal ini dan mungkin sudah sifat alami kaummu, perempuan, bahwa betapa sering kamu kesal terpicu ulah dan hal yang -menurutku- kecil dan tak layak menguras enerjimu. namun, perempuan lain itu, berbeda. hal - hal kecil ulahku entah kenapa malah membuatnya tersenyum, tertawa kecil saja, namun terdengar indah. seperti pagi ini -setelah malam terlewatkan bersama, malam dimana kita saling membangunkan ketika yg satu terlelap, dan menikmati keintiman yg terperi- ketika kusentuhkan dagu ke pipi lembutnya, mulanya ia diam dan nampak kesal terganggu tidurnya, tapi kemudian perlahan tersenyum, ya tersenyum, kemudian tertawa kecil, giggles, tanpa membuka mata. mungkin karena sudah akrab dan sering sudah aku bersamanya sampai hapal ia dengan aroma tubuhku sehingga tanpa melihat pun ia tahu siapa yg menggelitik pipinya, dan bagian lainnya pun ia biarkan ku gelitik, halus, lembut, dan keintiman pun berlanjut.
dampak yg sepertinya sama nampaknya juga terjadi padaku, seperti kemarin dulu, ketika aku terbatuk, dan tidurnya terganggu, dan ia protes. maafkan aku, biasanya ketika kamu, istriku, protes maka sering refleks aku protes balik. tapi ketika ia lantang memprotesku, aku tak berdaya melawan, dan akhirnya kupeluk ia, mencoba meredakan, dan semua sesak terlepaskan ketika ia akhirnya tersenyum.

oh,
nyaris lupa kuceritakan padamu, ingat betapa sering kamu, -perempuan yg sepenuh sadar kunikahi- memboroskan enerji mencereweti betapa sering ceroboh dan teledornya aku, mulai dari bingungnya kamu mengapa aku bisa menikmati sesuatu yg (menurut standar defisimu) semrawut? mendapati dan melakukan sesuatu yg membahayakan diriku sendiri dan juga terkadang sekelilingku? dan aku hanya bisa tertawa melihatmu memandangku dengan frustasi, bebal nakalnya! gak berubah! begitu serumu. tapi hadirnya ia, perempuan lain itu, tak hanya sedikit ia membentuk laku baru, langkahlaku-ku. ya mungkin tak akan sepenuhnya ia akan mampu merubah, tapi setidaknya tumbuhlah rasa itu, rasa mau mengalah, hanya pada ia, perempuan lain itu. walau aku tahu, dan entah kenapa aku tahu pasti, sepenuhnya ia menerima seperti itulah aku sebelum hadirnya ia, perempuan lain itu.

ya,
tentu saja, sanggahlah saja, bila bagiku; ia lebih cantik darimu, lebih mudah membuatku merasa kehilangan ketika jauh, lebih terasa hadirnya bagiku. bukan karena punah sudah semua yg kurasa dan kusimpan untukmu, yg kupilih kunikahi. masih ada disini, kuat, tersimpan di sini, tetanam dalam, amat dalam. tak ada kurangnya dirimu, untukku dirimu lebih dari cukup. tapi begitulah, bagi sebagian banyak orang ia, perempuan lain itu, tidak secantik yg kupikir, bagiku ia yg tercantik, yg merajam hati selalu keinginan itu; -desakan untuk selalu dekat dengan ia-, kebutuhan akan hadirnya justru lebih terasa ketika ia tiada. bahkan sebenarnya ia yg kulabuhkan ke diri, bukan (hanya) aku yg meluruhkan diri ke ia, perempuan lain itu. tak masuk akal menurutmu? ya sanggahlah saja, tak bisa kujawab mengapa kenapa. karena itulah entah kenapa sebenarnya benar - benar aku tak mengerti, kenapa bisa muncul perasaan seperti ini ke perempuan lain, yg lebih kuat dari perasaanku kepadamu, kamu yg kupilih kunikahi

hm,
kamu tentu ingat bahwa aku selalu suka mengamati hujan ketika jatuh, entah hujan pagi, entah siang, entah malam, terutama di sore hari. dan sore kemaren, -saat bersama ia- maka tumpahan air yg tak kuat digenggam awan ketika mereka semakin berat terakumulasi dilangit di atas sana, wingit dan sahdu lebih terasa. ku genggam dan peluk ia, perempuan lain itu, kujaga dari dingin yg mencoba bersimaharajalela. ketika ia susupkan kepalanya ke dadaku mencari perlindungan setelah suara gelegar petir itu, aku tahu saat itu juga, ia, perempuan lain itu, senantiasa akan kulindungi, sepenuh hati.

dan pagi ini, setelah ditelikung dingin sisa hujan subuh tadi, sehingga masih rapat saja selimut itu menutupi tubuh kami setelah semalam penuh bersama, saling membangunkan ketika yg satu terlelap, saling menyumarahkan rasa dan membangun keintiman yg selalu rubuh setiap mendekati lelap, berulang kali, malam tadi.
dan pagi ini, masih saja aku belum beranjak dari sisinya, perempuan lain itu, tak puas juga lekat aku memandanginya, menyentuh lembut, semua terasa hening dan hanya terdengar degup jantung, milikku dan perempuan lain itu, dan sang waktu kali ini menolak untuk menampilkan wajahnya sebagai perintang. dan....























"yanda, udah dong, kesiniin vara-nya, udah waktunya dimandiin"

aku tersenyum, kuangkat lembut perempuan lain itu, diserahkan ke tangan bundanya yg lebih paham dan ahli menangani masalah perempuan lain itu dalam hidupnya.
dua perempuan indah.

+days after 17th june 2005+



sus scorfa faeces *bo hoki, bo hwat* (punten sawios tong diaos, pamali...)

ah pokona mah kieu, aya tilu urang budak ngora sosobatan. sebut we nami alias: ujang ibi, ujang ucup, jeung ujang yono. kacida teu baralegna eta tilu sobat teh, tapi teuing kunaon ku sabab meureun pinter kodek, teu baraleg ge anggeur we hirupna mayeung....emang keur jamanna meureun nya nu parinter kodek ahli ngibul kalahkah jaradi diaku ku masarakat.
ah pokona mah kieu, eta tilu sobat panasaran hayang ngasaan naek gunung. da saumur - umur ngan saukur naek ka para jeung ka na genteng wungkul, tara naek gunung mah. da biasa hirup ngeunah, tara we kapikiran hayang hese, komo naek gunung mah. tapi da teuing kunaon, ujug2 we godaan naek gunung teu karuateun nahan, kudu we dicumponan.
ah pokona mah kieu, eta tilu sobat akhirna nepi tah ka sisi gunung, sebut we eta gunung ngarana dilandi gunung hareupmonas. tah didinya teh aya nu jajaga, jadi juru kuncen gunung, aya 2 tah kuncen na teh. sebat we salah sahijina nami aliasna: abah ato. puguh eta eta tilu sobat teh rumasa si abah ato simana kuat, da elmu teu baleg nu dipikaboga si tilu sobat teh jigana hasil nitis ti si abah ato eiu. hiji deui nu janten kuncen teh, geus maot, namina si abah ano, ayeuna propesi kuncen si abah ano diwariskeun ka nini ega. puguh teu sasakti si abah ano, jauh pisan, teu bisa dibandingkeun. mung duka kumaha da para wargi di parumpon abah ano teh percanten we nini ega ge sakti ngan saukur kulantaran si nini turunan ti si abah ano.
ah pokona mah kieu, si tilu sobat ngahaja ngadeup ka 2 kuncen, menta widi.
boh si abah ato, boh si nini, dua duana omat2an, mun naek gunung eta, tong nepikeun katincak eu-eu na bagong. pamiarsa, aya nu teu teurang naon eu-eu bagong teh? ya ieu atuh sing jentre bilih teu terang mah: tai bagong, nama latinnya: sus scorfa, eu-eu tah ceuk dokter mah digentos namina janten: faeces. da rumasa meureun pamiarsa seueur pisan nu geuleuhan, janten ngarah langkung sae sareng keren, gentos we lah ku nu keren : sus scorfa faeces. kan ayeuna mah jaman na kitu, karesep masarakat eyuna mah kitu, nu barau mung saukur digentos namina, janten ditutup kateusaenana, padahal angger we: bau.
ah pokona mah kieu, tah eta nu namina sus scorfa faeces teh,katelah pisan pamalina, tong waka katoel, kaambeu ge tos bahaya. komo deui katincak, wah bakal sial pisan ceunah ceuk dua kuncen teh...
tapi da nafsu naek gunung geus dijungjung, pokona mah nepi we tilu sobat teh ka puncak gunung, mung teu babarengan, ujang ibi heula, teras ujang yono, mung ujang ucup mah saeutik deui ka puncak geus ngalehleh cape...ditanya ku ujang ibi: "euy ucup, kunaon atuh maneh teh, saeutik deui yeuh..." ucup ngajawab bari hahehoh capeeun: "teu kuat euy, beak nafas". ujang yono nembalan: "naha bisa beak nafas, pan modal tanaga mah sarua malah leuwih hade tidinya". ucup ngajawab: "duka atuh, asa bararau yeuh" ibi jeung yono papelong pelong, terus babarengan nanya ka ucup: "ucup, didinya ngarasa nincak nanaon teu?" ucup langsung ngahuleung, terus umba ambeu, terus bari sedih nembal : "aaaaaaaaah euy, nincak taeun bagong yeeeeeeeeeeeuuuuuuuuh". ibi jeung yono babarengan: : "alaaaaaaaaaaaaaaaah siah, siaaaaaaaaaaaaaaallll"
ah pokona mah kieu, ucup ceurik. ibi jeung yono sura seuri.
malah yono, make gaya khasna, kalahkah mapatahan "sodara2, kumaha ge sadayana kumaha amal - amalan. sing santun, kedah jagi etika"
ucup beuki ceurik, bari geuleuh, boh ku faeces boh ku papatah yono.
ah pokona mah kieu, eta tilu sobat balik turun gunung. terus masing2 misah, hirup jalan masing2. gawe, karir, nikah, baroga anak.
ah pokona mah, sanggeus 17 taun papisah, ngayakeun reuni we akhirna.
ah pokona mah kieu, ternyata teu 100% bukti pamali ti 2 kuncen gunung teh, mung 50%, ternyata eta tilu sobat katelah suksesnya, jadi terpandang diaku ku masarakat. mung, tah ieu meureun 50% sialna, ucup istrina euweuh geulis2na, matre pisan, jeung judes kacida. nu bingung, naha geuning istri ibi ge teu beda jeung ucup, katelah tara gumujengna eta istri wanoja teh.
ucup jeung yono panasaran, nanya : "naha euy geuning bobogaan didinya bisa kitu, pan mung ucup baheula nu nincak ssf (disingkat we lah pamiarsa eta si eu eu)?"
ibi, bari nahan ceurik, nembal : "hampura euy ucup, sabenerna mah baheula, ihiks, eta teh, ihiks, sim kuring labuh kana gugunduk, ihiks, gugunduk, ihiks, taeun bagong tea..." ucup jeung yono: "haaaaaaah, naha teu bau atuh ibi?"
ibi : "nyaeta, kuring geuwat ceungkat, terus baju jeung calana dipiceun terus ganti baju, gugunduk di abur daun ngarah teu katingali, pas ucup tukangan ibi, tah jadi we teu katingali da katutup daun, ku ucup teu karasa katincak..., duh hampura ucup, ayeuna aya kabukti sial geuning..., ihiks ihiks ihiks."
ucup bengong, yono sura seuri asa rumangsa pangbersihna. jeung baku biasa, mapatahan bari goyang goyang panangana : "tuh pan ceuk kuring ge, sadayana kumaha amalan, kumaha ngajagi etika na" padahal intina mah narsis rumangsa pangteunincakna jeung teu pangbauna.
ucup ngeukeup ibi, ibi ceurik ngagukguk, ceuk ucup : " geus ibi, geus, repeh...urang mihampura, tong diinget inget deui soal taeun bagong mah"
pas beres ucup ngomong kitu, jol tah istri yono, kacida geulis, seger, jeung katingali pisan solehah jeung bageur pisan, jeung jiwa aktif jigana, naros ku sae basa jeung intonasi:
"euleuh, bapa bapa, na kunaon, hapunten abdi tumaros, naha dugi ka ragrag cisoca, tara tara ti sasari, atanapi dupi ku sono pisan kitu dugi ka pageuh ngeukeup salira? duh sae tur bagja atuh nya sosobatan siga kitu teh..."
ucup nembal:
"ah punten, sanes kitu, ieu mah mung emut ka nostalgia, kapungkur, hehehe, punten, hehehe, eta kapungkur emut abdi duaan nincak, hehehe, punten, kungsi nincak taeun, heheheh, eta taeun bagong....pas naek gunung hareupmonas jaman ngora keneh"
istri yono nu geulis bageur jeung sajabana, bengong, kaget, ngahuleung, teras seuri alit bari nutupan biwirna nu campernik...
ibi naros : "eueluh, muhun pikaseurieun aya aya wae yeuh pangalaman kuring jeung sobat ucup jeung yono nuju ngora"
istri yono, nahan nafas, teras nembal deui:
"sumuhun, da abdi ge kapungkur nuju mahasiswa ge ngiring pecinta alam, teras pernah oge ngiring tim survei naek gunung nu sami, sareng....aduh isin abdi....ehm, punten, sami abdi, ehm, kapungkur ge abdi nincak faeces eta oge...aduuuuh isiiiiin"
ucup jeung ibi bengong,
terus melong ka yono.
eta duaan, ibi jeung ucup,
ujug2 babarengan seuri ngabarakatak tarik teu eureun - eureun bari tutunjuk ka yono ............................................................................................................................................................................................................................................................
06 Maret 2010

Beurit's Choice



[fableseries]
barusan saja mendengar kembali cerita ini, dan disela waktu dan upaya mencari kantuk, dituliskan ulang sajalah...

2 ekor tikus, sekian lama diam di lubang mereka yg hanya punya satu jalan masuk yg juga satu2nya jalan keluar. dan seekor kucing setia menanti di depan pintu itu. postur siap terjang dan terkam sang kucing begitu kentara dan menggentarkan 2 ekor tikus yg terperangkap di lubangnya sendiri. lubang tempat mereka hidup tidaklah buruk, paling tidak untuk standar kehidupan tikus. bahkan bagi standar tikus, lubang tempat tinggal mereka termasuk diatas rata - rata standar tempat tinggal kaum tikus. tidak mewah, tapi lebih dari cukup.

dan tak perlu kita ragukan bahwa alam memang menggariskan tikus (dan seluruh mahluk hidup tentu saja) selalu mengikuti naluri paling mendasar untuk bertahan hidup dengan: makan dan segala upaya mendapatkan makanan.

dan tak perlu kita pertanyakan mengapa alam menggariskan kucing selalu geram dendam penuh gairah memburu menyantap tikus.

dan sebelum tiba masa hadirnya seekor kucing yg dengan setia menjaga satu2nya jalan masuk keluar lubang itu. segala upaya dilakukan tikus untuk mengepul dan menimbun makanan. kadang mereka ambil utuh, sering hanya sisa saja yg mereka dapatkan. dan untuk saat itu, cukup atau bahkan lebih dari cukup untuk mereka.

sejak hadirnya kucing yg entah mengapa amat setia menjaga jalan masuk keluar itu, tak leluasa lagi, bahkan tak bisa lagi mereka keluar mencari dan mengupayakan makanan. mereka tak tahu bagaimana kucing bisa bertahan sekian lama setia menongkrongi jalan itu, mereka tak tau dan bingung bagaimana kucing sekian lama mendapatkan makanannya sendiri selain menunggu menyantap mereka yg memendam diri di lubang, yg mereka tau, mereka sendiri butuh makanan, segera.

kucing kadang mengintip ke lubang, kadang mengaisngaiskan cakarnya ke dalam, tentu saja tikus sudah mengantisipasi dengan memipihkan badannya dan menjauh dari cakar cakar itu.
tikus sering mengintip keluar lubang, mengamati situasi dan tentu saja mencari peluang bagaimana bisa keluar tanpa terkejar cakar tanpa teraih taring kucing. Namun entah kenapa, kucing siaga satu selalu, setia.
matanya tajam, otot kaki kakinya mengencang dan siap dipakai sprint dengan percepatan mencapai kecepatan maksimum hanya dalam hitungan kurang dari sedetik, itu hasil pengamatan tikus ketika mereka mengintip sedikit saja di lubang dan bau tubuh mereka tercium oleh hidung dengan kumis panjang kucing.

hingga suatu waktu, di upaya pengintipan yg entah keberapa kalinya entah sudah menginjak hari keberapa mereka terpendam terkurung di lubang itu, mereka nyaris saja bersorak kegirangan bila tidak ingat akan kewaspadaan: si kucing nampak seperti tertidur, dan bila mereka bersorak dikhawatirkan akan terbangun!

tikus pertama menawarkan tikus kedua untuk terlebih dahulu keluar lubang, supaya nanti dapat kehormatan mendapatkan makanan utama! begitu katanya.
tikus kedua tertawa. entah bagaimana suara tertawa tikus, tapi begitulah adanya. di sela tawanya dia lantangkan; dan makanan itu untukku, hanya untukku, tidak akan kusisakan untukmu yg berpurapura memberi kehormatan dan kemudian hanya diam menunggu di lubang ini sampai aku kembali membawa makanan! begitukah? tawanya cukup keras.

dan kucing jadi terbangun.

dan mereka, kucing dan tetikus, kembali ke situasi klise, saling mengintip, saling menunggu. kucing tajam mengawasi, tikus waspada mengamati.

waktu tak pernah memberi peluang bagi mereka yg berharap ia akan berhenti, tak peduli tak mau tahu, ia terus saja berlalu. dan ketika kita mulai menghitung nafas yg sudah mulai hilang satu persatu, ia malah akan semakin kencang berlari.

tikus semakin lapar, kucing pun mungkin sama. mengingat mereka tak saling beranjak dari situasi stagnan, status quo, tak ada yg mengambil langkah berarti. 

dan sang waktu tidak mencatatkan satu kata ini dalam kamusnya: kompromi. ia masih saja, terus saja, berlalu.

dan diantara semua kejadian dalam hidup yg kita alami, selalu ada minimal satu kejadian tunggal yg menentukan arah hidup dan memberi arti. mari kita rangkum saja hal itu dalam kalimat ini: kejutan hidup, dan semua bentuk harapan yg ditimbulkannya. dan ini yg kemudian terjadi: si kucing, entah kenapa terbaring terkulai lemah. matanya yg biasanya tajam menatap ke lubang ikus, kini terpejam dan kehilangan cahaya hidup. otot otot kaki yg selalu mengencang setiap dia mencium bau tikus mengintip dari lubang, kini terlihat tipis kurus dan tak bertenaga. dadanya yg sebelumnya terlihat berotot membusung melambangkan jumawa kaum pemangsa, kini cekung menampilkan garis tulang tubuhnya.

tikus pertama berbisik, apakah ia tertidur seperti sebelumnya?
tikus kedua menggumam, apakah ia hanya berpura tidur?
tikus pertama menggerutu sambil memicingkan mata, awas jangan lantang bicara lagi dan membangunkan dia!
tikus kedua menyorongkan kepalanya keluar lubang dan setengah berbisik, apakah, mungkinkan, ia mati?
tikus pertama kemudian ikut mendorongkan diri sedikit saja agar matanya dapat menilisik kucing di kejauhan, apakah dia juga kelaparan seperti kita? 
tikus kedua manggut manggut, pastilah kemampuan bertahan hidup kucing tak sebaik kita, para tikus, bukankah kita selalu disebut sebagai mahluk yg mampu bertahan hidup?
tikus pertama bertanya dan masih saja berbisik, jadi kamu yakin dia mati?
tikus kedua memunculkan lagi kepalanya keluar lubang dan menjawab dengan tak lagi berbisik, semua tanda kehidupan tak tampak lagi, aku mencium aroma kematian, tidakkah kau cium bau yg sama?
kedua tikus itu pun menyorongnyorongkan hidungnya dan mengedutngedutkan hidung membaui udara.

tikus kedua angkat bicara dengan tegas, aku yakin dia mati.
tikus pertama menunjukkan muka ragu, bagaimana kalau dia hanya pura - pura mati?
tikus kedua, kalo dia tidak mati, ketika kita sedikit saja keluar lubang seperti barusan kita lakukan untuk mengendus aroma dia, dia pasti terbangun dan mengaiskan cakarnya ke dalam lubang sebagaimana selalu ia lakukan selama ini!
tikus pertama masih ragu, apakah bisa kita dapatkan makanan sekarang?
itu yg ia tanyakan karena hanya itu yg ada dibenaknya saat ini.
tikus kedua menyela, tak ada gunanya, tak ada bedanya, diam di lubang ini kita akan mati kelaparan, nyaris tak bersisa makanan kita, aku akan keluar mencari makanan.
tikus pertama menahan tikus kedua, setengah memohon ia membujuk, janganlah kau paksakan keberuntunganmu...masih ada sisa yg bisa kita makan, kita berhemat sajalah sambil menunggu kepastian kucing itu, pasti membusuk ia!
tikus kedua terdiam sejenak kemudian menjawab, kau mungkin benar tentang kucing itu, tapi kau salah bila kita pun hanya diam menunggu dan membiarkan waktu berlalu, dan yg kau bilang sisa itu sudah lama tak layak makan, dan mati juga kita nanti karena memakan yg tak layak itu!
tikus pertama kesal dan geram, terserah kau saja, aku sudah peringatkan! jangan salahkan aku pada apa yg nanti terjadi padamu! aku lebih baik menunggu! paling tidak hangat di dalam lubang ini tidak berangin seperti di luar sana!
tikus kedua mulai beranjak dan mengerahkan tenaga terakhirnya menuju jalan keluar lubang, aku akan bawakan kau makanan nanti, walau kau tak membantuku, tetap akan kubawakan.
tikus pertama memalingkan muka, tak usah kau janjikan yg muluk, tak usah janjikan sesuatu yg tak bisa kau penuhi, aku tak mau mengikuti kebodohanmu! masih hidup saja sudah beruntung kau nanti!

dan tikus kedua bergerak dan bergerak, ragu ia tanggalkan, keyakinan ia mantapkan. namun waspada tetap ia kuatkan. penuh sekarang tubuhnya melewati jalan keluar lubang itu. ia tetap bergerak, dan melangkah, dan bergerak, dan melangkah. semakin mengecil jarak ia dan kucing itu, dan waktu kali ini terasa lambat berjalan ketika semakin mendekat tempat kucing berbaring. tak ada jalan lain, tak ada pilihan lain, harus dan tak bukan hanya melewati depan hidung si kucing jalan tersisa sebelum ia terbebas menuju ke arah makanan berada. semakin dekat ia, semakin kencang degup jantungnya sampai terasa sesak nafasnya. namun ia jalani juga, ia hadapi juga. kali ini ia alami, sesuatu yg sebelumnya hanya ia pahami hanya dalam bentuk kata, benar - benar ia pahami betul dia alami kali ini; satu - satunya cara menghadapi rasa takut, hanya bisa dengan dihadapi, dijalani.



..................................................................................
.................................................................
.........................................................
.................................................
...........................................
...................................
..........................
.....................
................
............
......
...
..
.








ia bernafas lega, dihembuskannya nafasnya panjang panjang, sudah lebih dari tiga langkah ia menjauh dari celah antara dinding dan hidung berkumis panjang si kucing. artinya, tahap pertama sudah ia lewati. ketika ia lewati hidung kucing itu, ia merasa masa paling kritis sudah ia lalui, karena tepat dibawah hidung kucing itu tersimpan taring dan tak jauh dari situ cakar juga tepat disebelah mulut kucing karena ia tidur, atau mati?, dengan posisi telungkup. dari ujung matanya ia lirik tikus pertama yg hanya mengintip dari lubang dengan mulut menganga dan  muka yg tegang. kemudian sambil sedikit tersenyum ia menatap ke depan dengan pasti, sekarang ke tempat makanan berada! dan ia kemudian melangkah lagi.

dan kemudian...


..................................................................................
.................................................................
.........................................................
.................................................
...........................................
...................................
..........................
.....................
................
............
......
...
..
.


yg ia tahu,
yg ia ingat,
yg ia dengar terakhir kali,
sebelum semuanya menjadi gelap,
adalah suara jerit tikus pertama, kencang.
nyaring sekali namun hanya terdengar sekejap kemudian semua lenyap setelah rasa sakit luar biasa. 
dan rasa sakit itu, sungguh tak terperi pedih perihnya, namun hanya terasa sekejap dan semua hilang, sirna, lenyap, pupus, punah.

tikus kedua sudah sampai di titik akhir perjalanannya, dan bilapun memang ada yg mencatatkan hidupnya, maka ia hanya akan menjadi bagian terlupakan dari sejarah. debu waktu yg segera akan terlupakan.

ia sudah mencoba, dan mati.
ia mati, setelah sebuah usaha.
ia menunjukkan upaya, dan sampai ia pada mati.
dan walau mati, mukanya tak menunjukkan raut sesal.

dan ia tetap saja, mati.

dan di lubang itu, tikus pertama menggigil, ngeri.
dan di lubang itu, tikus pertama tak bisa menahan desakan dari dalam tubuhnya, mengguncangguncangkan torsonya, dan karena tak ada lagi isi dalam perutnya, hanya cairan asam dan udara pahit yg ia muntahkan.
dan di lubang itu, tikus pertama menangis, lalu tertawa, menangis, lalu tertawa, menangis, lalu tertawa.
dan di lubang itu, tikus pertama meracau di tengah tawanya, sudah kubilang kan! tak kau dengar juga aku! sudah kubilang jangan betempur pegi betempur pula kau! entah ya mati lah kau! tercabik sudah tubuhmu oleh cakar kucing itu!
lalu kemudian ia menangis, dan masih saja muncul racau disela tangisnya, sudah kubilang jangan betempur pegi betempur pula kau! entah ya mati lah kau! sudah kubilang kan, kucing keparat itu hanya pura2 mati! dan habislah kau dicabik taring dan dimakannya!
lalu ia tertawa lagi, untung aku tak ikut kau! untung aku tak sebodoh kau! ha! ha! masih hidup lah aku! tak tercabik lah tubuhku!
lalu ia menangis, lagi, dan lagi. kali ini tak henti tangisnya. selama masih berkelebat dalam ingatannya terkaman kucing itu, tak kuasa ia hentikan tangisnya. masih terekam jelas bagaimana kucing itu tiba - tiba bangkit dalam sekejap mata, sekedip pun tak sampai, belum bertemu antara bulu mata dan bagian bawah mata, tiba - tiba sudah ditangkupnya tegenggam tikus kedua itu di tangannya, terselip diantara cakar yg sebagian menancap tajam ke tubuhnya. semakin keras tangisnya ketika ingatannya sampai pada saat taring kucing mencabik tubuh temannya itu, dan tubuh kurus temannya karena tak makan berhari hari tandas dalam sekejap.

sesekali kembali ia tertawa, ketika ingat bahwa ia merasa tak sebodoh temannya itu, dan ia masih hidup. terutama karena ketika tertawa ia jadi lupa perutnya tak terisi sekian lama.

namun lebih sering ia menangis, terus, sampai lelah dan tak ada lagi tenaga tersisa untuk menangis, tak ada lagi elan, dan hanya perih di perutnya yg mengingatkan ia masih hidup.

di luar sana, ia dengar geram kucing yg belum kenyang, dan nampaknya tak akan pernah ia kenyang. yg jelas, sekarang kucing itu memiliki tenaga lebih dibanding sebelumnya. dan masih saja ia coba kaiskaiskan tangannya ke dalam lubang mencoba meraih satu lagi santapannya.

dan kini, tikus pertama itu, terbaring, disana, di lubang tempat ia selama ini berlindung. di lubang yg selama ini ia ditemani dinding berlumut, lantai lembab, dan kecamuk antara dua pilihan;

menunggu akhir perjalanan hidup karena lapar, atau sampai pada saat dimana akhirnya ia tak kuasa lagi dan tak bertenaga lagi menghindarkan diri dari kaisan cakar kucing yg amat rajin mencari - cari.

dan
waktu
terus
berlalu.

dan waktu
terus berlalu.

dan waktu terus berlalu.






+salapanwelaseptemberteungahpeutinghesesare+

19 September 2010.



juritmalam



Ah, mengapa jarak antar satu pos dengan pos yg berikutnya ini telalu jauh, sih?
Aku ingin ini segera berakhir.

Sesal,
kenapa sih aku mau – maunya ikut kegiatan kayak gini?
Sebal,
karena entah gak tau, sama siapa harus marah?
Kesal,
pada diri sendiri, gak ada lagi selain pada diri sendiri.

Lelah,
jarak tempuh yg tak terlihat ujungnya dimana.

Selalu saja para senior itu mampu menemukan setiap kesalahan sekecil apapun. Atau lebih tepatnya, memang itu yg mereka fokuskan cari. Supaya ada pembenaran pada setiap kejutan dan gerakan yg mereka perintahkan lakukan, perintah yg selalu membuat adrenalin naik drastis. Namun, terus saja aku berjalan, terus saja aku menempuh. Entah apa yg membuat aku mau saja ikut kegiatan ini, di organisasi ini. Yg untuk menjadi anggotanya saja harus menempuh ujian perjalanan seperti ini.

Hitam gelap malam, basah lengket tanah merah, lembab udara malam, sisa hujan sore tadi. Sesekali aku berhenti untuk membersihkan sepatu dari lengketan tanah merah yg membuat langkah berat, kadang dengan menggesekkannya ke rumput, bila beruntung ada bebatuan yg lebih efektif melepas lengketan tanah dari sepatu. Lalu kembali kaki diajak melangkah, menyeret tubuh yg sebenarnya enggan bergerak. Logika memberontak, apa untungnya berlelah begini? Namun hati tak bersetuju dengan logika, dan entah kenapa bagi manusia yg satu ini, hati lebih sering menang. Terus saja ia jalani, melangkah, menempuh.

Tak lama setelah beberapa puluh kali menjejak langkah menyeret tubuh dari pemberhentian terakhir membersihkan sepatu, terlihat ada seorang yg duduk menyelonjorkan kaki di pinggir rute. Tepat disebelah tabung karton lilin penunjuk arah rute...hati hati kusapa ia dengan sandi penempuhan ujian ini:
[+] “pandu...”
[-] “setia...”



kuperhatikan, oh lega, ternyata bukan kakak senior, ia peserta juga seperti aku, tapi ia peserta putri. Celana panjang yg dilapisi rok abu abu itu tampak penuh sisa lumpur. Matanya redup dan bahunya turun. Kusapa lagi:

[+]“hey miem, kenapa? koq duduk disitu?”
[-] “oh jalu, udah kaget aja kirain kakak senior penguji.... aduh cape, pegel... tadi di pos sebelumnya salah jawab melulu jadi kena hukum terus....”
[+] “oooh, sama kak Andri (-ini hanya inisial dan bukan nama sesungguhnya, sekali lagi, inisial) ya?”
[-] “koq tau?”
[+] “ya taulah, siapa lagi coba?”
[-] “duh haus...”
[+] “bekal minum kamu habis? nih punyaku...”
dan dia tenggak habis, dan aku hanya ternganga...padahal sengaja tadi disisakan buat jaga – jaga...ludes tandas sudah sekarang...
[-] “waah, lega...makasih ya! punyaku tadi dibuka dan dibuang sama kak I*e (inisial lagi).., padahal perasaan jawab sandi ambalannya bener tapi gak tau tuh disalahin mulu...”
[+] “wah aku sih tadi sama kak Ncuy (nama samaran), gara gara salah nyebutin susunan dewan ambalan..., pegel juga kaki nih kena 30x tadi...”
[-] “pos berikutnya siapa ya? duh semoga bukan kak Rani (bukan nama asli)...sereeeem”
[+] “sudahlah, kita teruskan aja yuk, toh akan kita hadapi juga, pokoknya nanti kita sama sama di leher kita bersyal ungu dan dengan badge ungu itu di lengan kanan”

ia mengangguk, redup perlahan menghilang dan kembali kulihat cahaya di matanya. ia menjulurkan tangan, kubantu ia berdiri. terasa hangat telapak tangannya. ditengah dingin malam, hangat lengan manusia terasa berbeda memang. Lalu kami pun jalan beriringan.

Lalu sunyi menguasai, kami melangkah dalam diam. Seolah semua suara diserap oleh gelap. Bahkan suara langkah sepatu yg semakin kami berjalan semakin berat digayuti tanah merah pun lenyap. Atau mungkin hanya aku saja yg merasa demikian? Diam diam kulirik ia perlahan, nampak ia terus saja berjalan sambil agak menunduk. Entah apakah ia juga merasakan hening ini juga? Kemudian aku sadar, ini bukan hening yg wajar...tak mungkin jangkrik dan serangga malam tiba – tiba menghilang begitu saja. Naluri dan insting mendadak terjaga. Telinga makin kutajamkan mendengar, pandangan mata makin waspada melihat sekeliling... ini sunyi yg tak wajar...

tiba – tiba...


tiba
tiba....


t
i
b
a

t
i
b
a
...

dari semak rumput liar yg tumbuh tinggi sepinggang manusia, yg tumbuh di sepanjang pingggir rute kami menempuh, di bagian kiri kami, terlihat sepasang titik cahaya. Hanya sepasang saja, 2 titik cahaya. Sepasang titik cahaya itu seolah menatap kami, dan balik kubalas tatap tajam. Namun kemudian, muncul bertambah sepasang lagi... sepasang merah, sepasang jingga. Lalu, muncul berurutan beberapa pasang lagi, merah menyala, jingga merona, banyak di sepanjang sisi kiri rute...bergerak-gerak, muncul lagi, muncul lagi, semakin banyak...berjejer sepanjang pinggir rute...



Bagian belakang leher meremang, instingku menyala, ini tidak wajar! Dan kemudian tiba – tiba seperti ada yg menekan tombol saklar pengeras suara, semua serangga malam berbunyi! jangkrik, tongeret, dan apapun itu!

Sertamerta kugenggam tangannya kuat kuat, setengah kuseret ia, sambil kuseru : “ayo lari, jangan liat kiri kanan, ikut aku saja...”

kami pun berlari, dan berlari. Melupakan beban tanah lengket yg menempel di telapak sepatu. Pokoknya harus segera menjauh dari situ, dari entah apapun itu tadi dibalik semak. Terus saja berlari, menghela tubuh yg sebenarnya lelah sudah terkuras di tiap pos yg kami jalani. Tanpa sadar tangannya kucengkram sangat kuat dan kuseret ia berlari, dan baru berhenti ketika ia akhirnya terjatuh yg nyaris juga membuatku ikut jatuh terseret.

[-] “aduuh, udah...apa sih jadi takut banget tauuu! ada apa sih koq ujug ujug lariiii! tuh jadi jatuh kan!”
ia merajuk marah dengan muka memelas.

Kuperhatikan sekeliling, rupaya ketika berlari tadi kami tidak sadar sudah meninggalkan area kebun dan hutan lalu melewati rute perkampungan. Deretan rumah penduduk terlihat di kiri kanan kami. Ini cukup memberikan rasa tenang, apalagi di kejauhan terdengar suara pengeras suara masjid melantunkan shalawat awal sebelum memasuki saat adzan subuh... nafas pun kembali ku atur, menenangkan diri.

Kembali kubantu pelan ia berdiri, tapi tak sengaja ketika ia berdiri aku malah terjatuh dan ia ikut terjatuh dan menindihku, hidungnya hanya 0.5mm saja dari hidungku, raut mukanya lumayan terlihat jelas di remang subuh, mengapa ia tiba – tiba terlihat cantik ya?.....

[-] “iiih kamu jalu! apaan sih!”
kembali ia merajuk marah, kali ini dengan muka bersemu merah.
[+] “maaf miem, gak sengaja, abis berat sih!” sambil cengengesan.
[-] “aku kan gak gede, sama kak rizthy aja (nama alias) lebih mungil aku, sembarangan aja bilang berat tau!”
[+] “iya, iya, maaaf”
[-] “ada apa sih koq tiba – tiba nyeret lari?”
dan aku ceritakan apa yg aku lihat tadi, sambil menuntunnya duduk di pos ronda berupa saung bambu di pinggir rute. Mukanya kaget dan seolah tak percaya, tapi kemudian tubuhnya merapat ketakutan dan memegang erat lengan kiriku.

[-] “boong ah! gak mungkin!”
[+] “ya sudah kalau gak percaya mah, gak apa apa. berarti kamu berani ya jalan sendiri ke pos berikutnya”
aku berdiri bersiap berjalan meninggalkan ia.
[-] “jangaaaaan! iya iya percaya” sambil mencengkram lengan kiriku sampai sakit.
[-] “bareng aja ya, tapi jangan jalan dulu atuh... masih sakit pegel lari dan jatuh tadi, kamu sih!” dan aku mau saja menurut.

Akhirnya kami kembali duduk bersebelahan.

ia pun tanpa diminta bercerita, diajak siapa ikut organisasi ini, tertarik pada gapura saung bambu di depan sanggar organisasi ini, terpesona pada kakak kakak senior yg terkesan teguh tangguh terlihat dari pancaran mata mereka. Untuk karakter organisasi seperti ini, biasanya hanya akan menarik bagi orang tertentu aja, tapi kemudian terkesima melihat betapa teman – teman seangkatannya yg ‘gak punya tampang’ dan ‘gayanya gak banget’ untuk mau tertarik organisasi ini, tapi koq mereka pada mau ikutan? Ada apa sih di organisasi ini? Penasaran?

[+] “gak punya tampang, dan gayanya gak banget itu, salah satunya aku ya?” aku langsung menyela.
[-] “hehehe, iya sih awalnya, eh tapi nggak ding...setelah kita sering kegiatan jadi lebih kenal dan tau koq, hehehe”
[+] “nanti kayaknya kita harus pisah deh kalo kita udah deket pos berikutnya, gak mungkin deh kita masuk pos barengan, pasti bakal jadi bahan makanan empuk bagi mereka”
[-] “oh iya, ya? Duh beneran deh kreatif sekali kakak kakak kita itu mencari bahan!”

dan kemudian sunyi kembali menguasai tempat duduk kami, namun kali ini masih ada suara jangkrik dan lamat lamat shalawat dari masjid yg jauh. Tak terhindarkan kembali kuamati dia, kenapa selama ini di sanggar dia hanya sekedar terlihat cantik, tapi sekarang koq...gimana ya? Orangnya lembut sih, tapi kalau udah keluar cerewetnya....aduuuh. Deretan giginya saja yg kuingat kalo ia sedang nyerocos bicara di sanggar. Aku jengah, duh udah jangan liatin dia terus...

[+] “yuk jalan lagi, udah berkurang kan pegelnya”
[-] “bentar lagi aja...” ia kembali mengeluarkan jurus muka memelasnya...tapi aku tak mau lagi kalah oleh jurus itu.
[+] “hayu sekarang aja, ntar ada kakak senior lewat, kita lebih susah!”
akhirnya ia menurut.

Sepanjang jalan mukanya masih memberengut, biarin deh biar agak berkurang cantiknya. Sambil berjalan kuceritakan saja nama – nama bunga kampung yg kebetulan tumbuh di sepanjang sisi rute. Bakung, Nusa Indah, Babadotan, dan beberapa lainnya. Yang walaupun dilabeli kampung, bunga tetaplah bunga, tetap cantik adanya. Sebagian sudah mekar, namun kebanyakan masih kuncup. Kuceritakan bahwa kalo mau bersabar, beberapa jenis bunga itu kuncupnya itu akan mekar menunggu matahari terbit. Hal – hal indah memang seringkali membutuhkan kesabaran untuk mekar.

Udara bersih, langit cerah, dibasuh hujan sore tadi, awan sudah tuntas menumpahkan isi jutaan bulir rindunya pada bumi. Ia melenyapkan diri. Sekarang giliran bintang – bintang yg menemani langit. Dan aku tunjukkan pada ia beberapa rasi yg bisa lebih jelas terlihat dengan mata telanjang dari sepanjang garis ekuator bumi, dan Indonesia salah satunya. Scorpio, Cygnus si rasi angsa, dan beberapa lagi. Titik merah Mars sengaja tak kucari karena mengingatkan pada entah apapun itu di semak tadi. Dan tiba – tiba ada semburat cahaya melintas di langit, bintang jatuh! Kuminta ia mengucap satu permintaan dalam hati, harus dalam hati! Kalau keluar suara suka gak terkabulkan! Dan ia memejam mata, menengadah, duh ekspresinya...eh sudah sudah! Kemudian ia membuka mata setelahnya, duh matanya, eh sudah sudah! Aku mengutuki diri sendiri! Pegang kendali dirimu jangan terbawa suasana! aku memarahi diriku sendiri. 



Perlahan cahaya kembali mekar di wajahnya, ujung bibirnya tertarik kesamping membentuk kurva elips, tipis namun kentara. Indah, eh sudah sudah!

Tanpa sadar, sepanjang perjalanan rute, ia mengaitkan jemarinya ke lenganku. Kami berjalan beriringan. Aku terus saja bercerita, ia mendengarkan dan sesekali menimpali. Ketika tangannya terlepas dari lenganku, ia diam saja ketika jarinya kutarik kuraih kugenggam juga dengan jemariku, saling terkait. 



Dan kami terus saja berjalan, menempuh.
Jemari erat saling terkait. Sampai kemudian kata – kata hilang dengan sendirinya, namun kami tahu kami sedang berbicara tanpa suara, dalam diam.
Dan kami terus saja berjalan, menempuh.

Sampai kemudian, terdengar lamat – lamat suara lantang bersahutan. Kami mengenali suara – suara itu, kakak kakak senior! Kami sudah dekat pos berikutnya.

Kami pun saling memandang, masih enggan melepaskan jemari.

[+] “aku duluan, kamu tunggu disini. aku akan selalu jawab dengan berteriak supaya kamu tau apa aja pertanyaan mereka, ok?”

ia hanya menjawab dengan mengangguk, aku melangkah ke pos dan ia tak mau melepaskan jemari sampai jarak langkah keduaku...





Ah, mengapa jarak antar satu pos dengan pos yg berikutnya ini terlalu dekat, sih?
Aku tak ingin ini segera berakhir.

15 September 2016.


randomthoughts&feels



ririncik

geuning sono: ka hujan. hujan nineung: ka taneuh. taneuh mikaemut: ka dangdaunan luruh. dangdaunan miharep: ka imbun. imbun mikawelas: ti cisoca. anjeun mingantos: cihujan. cisoca mikameumeut: ka anjeun, ka anggo ku anjeun sibeungeut sabari nyumputkeun cirembai. cirembai: kulantaran gorowonghate, ngabulungbung jero.

19 Juni 2010.

tentang bulan

(+) "ayo, berceritalah"
(-) "hmmm"
(+) "ayo dong yanda, cerita lagi dong malam ini"
(-) "cerita apa atuh bageur?"
(+) "apa ajalah, udah lama yanda gak cerita, ya yanda ya?"
(-) "hmmm, apa yg belum yanda ceritakan geulis?"
(+) "apa ya? yanda mau cerita apa? biasanya suka adaaa aja tiba-tiba cerita kalo sebelum tidur"
(-) "aduh, kan gak selalu begitu atuh kanyaah? kan suka ujug - ujug langsung tidur kalo capek..., sok atuh kamu kasih ide atau awal ceritanya, nanti yanda lanjutkan"
(+) "iiiih yanda mah! apa atuh ya? cerita tentang budak leutik berani masuk hutan udah ya?
(-) "budak leutik berani naik gunung?"
(+) "udah pernah"
(-) "budak leutik berani mengembara berlayar jauh?"
(+) "itu juga udah"
(-) "budak leutik berani lawan anak laki laki yg gede suka ganggu?"
(+) "udah 2 kali"
(-) "budak leutik suka nolong temennya"
(+) "udah, sering pisan dan teteh suka, tapi yang lain aja deh!"
(-) "budak leutik yg kalo jatuh suka nangis tapi sebentar aja terus berusaha bangun sendiri?"
(+) "ih yanda mah..."
(-) "budak leutik selalu sayang bundanya"
(+) "gak usah diceritain juga udah ngerti atuh teteh mah..."
(-) "apa lagi ya?"
(-) "jangan cerita tentang hujan lagi ya! keseringan yanda mah cerita tentang hujan...apa atuh yanda? gimana yanda aja deh!"
(-) "cerita apa atuh teteh pinter? masa hujan gak boleh diceritain lagi? gak suka ya?"
(+) "suka koq, pisan, banget. tapi masak hujan terus yg diceritain..."
(-) "ya udah, bentar yanda merem dulu ya. hmmmm, baiklah, yanda gak punya cerita malam ini, tapi dengerin aja ya teteh campernik...

kamu tau kenapa matahari cemburu sama bulan?
eh kamu udah ngerti belum cemburu itu apa? haha, koq geleng geleng kepala...
cemburu itu kalo bunda kesel liat yanda di rumah di depan komputer terus dan gak deketin bunda...iya itu artinya bunda cemburu sama komputer...bunda jadi berkurang kan cantiknya kalo lagi gitu? haha, jangan bilang ke bunda ya!
cemburu itu kalo kamu gak kebagian eskrim tapi adikmu dapet, suka ngambek kan? hahaha, muka kamu juga suka aneh kalo lagi ngambek...haha ih koq nyubit yanda, kecil-kecil kamu nyubitnya koq kenceng?
ah nanti sejalan dengan waktu kamu bakal tahu sendiri mengalami sendiri cemburu itu apa, kadang manis tapi seringnya asem.

ya udah, balik lagi ke matahari yg cemburu sama bulan, kamu tau kenapa?
matahari bisa menyombongkan diri karena ia bisa membuat bumi dan planet lainnya mengelilingi dirinya, menjadikan ia merasa satu - satunya pusat semesta, tapi kita, manusia, nampaknya lebih memberi perhatian pada bulan, karena manusia bisa memberi banyak nama pada bulan. ketika hanya kurang dari setengah tubuhnya yg bisa kita lihat, kita beri nama ia: sabit. orang inggris menamainya : crescent, dibacanya : kreseun. bukan, bukan, bukan kerseun, itu mah pohon buah depan rumah kamu atuh, yg buahnya kalo mateng jatuh ke tanah dan suka kamu ambilin. balik lagi ke bulan, ketika tubuhnya penuh sempurna terlihat oleh kita, kita beri nama ia: purnama. bahkan bangsa atau suku - suku tertentu bisa memberi nama macam - macam pada bulan, ketika ia hanya terlihat setengah ada yg memberi nama: sapasi, ketika tigaperempat diberi nama: sabatok, dan banyak nama lainnya.

kalo kita bisa memberi nama berbeda pada satu hal namun memiliki kondisi berbeda, itu artinya alam sadar sekaligus alam bawah sadar memberi perhatian lebih pada hal tersebut. sama seperti kita memberi nama pada satu hal yg ini: padi ketika ia masih ditanam, gabah ketika dipanen, beras ketika ia telah ditumbuk, dedak untuk tumbukan sisa gilingan tumbuk beras, nasi ketika ia dimasak, lontong ketika ia dimasak dibungkus dauh pisang, ketupat ketika ia dimasak dikukus dalam bungkus daun kelapa, lemper ketika dimasak gurih dibungkus daun, bubur ketika dimasak dengan komposisi air yg banyak sehingga cair, dan banyak lainnya.
kamu tau nggak, yanda, bunda, kamu, adikmu, saudara-saudaramu setanah air, hidup di sebuah bangsa yg hidupnya amat dipengaruhi oleh tumbuhan makanan yg bernama: oryza sativa, sehingga kita bisa memberi banyak nama pada satu tumbuhan dan makanan itu. itu pertanda dan ungkapan rasa sayang yg mendalam suatu kaum dan bangsa pada tanaman itu. dan seharusnya, rasa sayang yg mendalam juga diberikan pada para penanamnya...

teteh bageur tau nggak, konon sebagian bangsa timur tengah punya banyak nama untuk satu jenis binatang: kuda.
teteh pinter tau nggak, konon sebagian bangsa di timur jauh punya banyak nama untuk satu jenis benda: uang, emas.
teteh geulis tau nggak, kebanyakan bangsa di eropa punya banyak nama untuk jenis minuman: yg difermentasikan.
dan setiap bangsa, setiap budaya, setiap peradaban, punya keunikannya tersendiri.

kamu sekarang tau, kenapa yanda punya banyak nama panggilan untukmu, selain nama aslimu...

ah udah, kan mau cerita tentang bulan ya? iya deh.
neng imut kanyaah yanda, kamu puasa kan? saum? setengah hari ya? kadang2 penuh sampai magrib? wah hebat...sekarang mah kamu latihan aja dulu, nanti udah gede baru harus penuh ya?
nah matahari cemburu! soalnya bulan puasa, ramadan, juga pake bulan tuh! supaya kita tahu kapan kita mulai saum, juga katanya harus liat bulan neng cekas... dinamakannya : hilal. gimana cara liat bulannya? hmmm, nanti deh yanda liat dulu internet atau tanya ke ahlinya, hilal itu gimana. iya teteh bageur, iya, gak apa apa kalo kita gak tau ya bilang aja gak tau, gak usah malu, tapi kemudian cari dan nanya - nanya jawabannya jangan diem aja.
teteh nanti kalo udah lancar baca, ntar baca ya, ada bangsa yg populasinya -jumlah orangnya atuh populasi artinya- terbanyak di dunia, budayanya juga sangat dipengaruhi bulan, perayaan tahun barunya aja suka dibilang : lunar new year, tahun baru berdasarkan pergerakan bulan. temen sebangsa kita yg kebetulan keturunan dari sana, di indonesia menyebutnya imlek. dan kaum kaum sekitar negara tempat bangsa itu terutama berdiam, sangat terpengaruh budaya tersebut. di vietnam disebut tet nam moi, di korea disebut seollal, di jepang disebut oshogatsu, di tibet disebut losar, di mongolia disebut tsagaan sar, dan banyak sebutan lainnya.
dan di pertengahan tahun, di malam ke 15 bulan ke 8 budaya mereka, ada tradisi saling mengirim mooncake, namanya aja kue 'bulan'!

jelas aja matahari cemburu atuh, ketika bumi kita berkeliling satu kali ke matahari, maka bulan bisa duabelas kali mengililingi bumi kita.
jelas aja matahari cemburu atuh, begitu banyak bentuk permainan anak - anak yg muncul di berbagai suku, bangsa, yg dimainkan kala terang bulan.
nenek dan uyutmu, sempat mengajarkan lagu dan permainan ini sama yanda :

"bulantok-bulantok
bulan gede bulan montok
moncorong sagede batok

bulantok-bulantok
aya bulan sagede batok
bulanting-bulantingaya bulan sagede piring"

seru lho dulu yanda bermain di lapangan terbuka bersama teman - teman dibawah terang bulan purnama sambil nyanyi lagu bulantok!
sedih juga rasanya melihatmu hidup saat ini di jaman dimana semakin jarang ada tanah lapang terbuka dan gratis untuk bermain dengan sesama seumurmu...

nanti, pada saatnya nanti, teteh akan sering denger orang bercerita, menulis, menggambarkan, saat - saat matahari terbit, matahari terbenam. tapi menurut yanda, teteh pasti akan lebih sering denger orang bercerita, menulis, mendongeng, kisah - kisah yg diilhami bulan. mulai dari nini anteh, sampai kelinci yg bersembunyi di bulan.

(-) "naah, yanda cerita itu aja, apa tadi, nini ontoh? eh anteh ya? atau kelinci pastii lucu...jangan kayak cerita yg sekarang mah pusing"
(+) "haha, iya iya, besok besok yanda pasti cerita itu, sabar ya, sekarang denger aja dulu..."

matahari juga cemburu, karena matahari kalah telak dalam satu hal ini: menyaksikan manusia, pasangan manusia, saling menyatukan diri, saling menumpahkan rasa. entah kenapa manusia lebih sensitif dan lebih terpengaruh oleh malam, oleh penampakan bulan, ketika mereka saling mengungkapkan rasa. amat sangat jarang terjadi di bawah terik matahari. bahkan romansa dan lagu - lagu yg ditulis yg terilhami bulan, amat sangat banyak.

eh teteh bageur geulis pinter, kanyaah yanda, udah tau belum? bahwa dulu proses hadirmu di kehidupan yanda bunda juga diawali di sebuah malam dengan bulan purnama?
halo, halo, halo, teteh, denger yanda gak?
wah udah bobo juga akhirnya....

met tidur pupujan ati rungruman kalbu yanda.

(ditulis saat menunggu sahur di hari hari terakhir ramadhan 2010, ditemani lagu - lagu ciptaan eros djarot terutama lagu 'andai bulan') September (?) 2010.