Tuesday, February 28, 2017

INTERNUSA. 3.

Bagian 3.
EveningPark's Strander.

Pilihlah satu senja, atau pagi. Jalanlah di suatu setapak, di taman yg kamu suka, yg kamu mau. Telusuri setiap titiannya. Atau duduklah di satu titik sudut bangku taman. Biarkan dedaunan meneduhimu. Nikmati ruap wangi tanah basah sisa dibasuh hujan sewaktu lalu di kota tropis yg bertekstur memerangkap awan ini.

biar aku pilih bangku di titik sudut lainnya. tak terlalu dekat, meski tak cukup jauhpun agar masih terintip jelas sosokmu dibalik naungan dedaunan itu.

biar, biarlah kamu disitu. aku disini.

tak perlu kau indahkan aku disitu, malah mungkin niatpun kau tidak. Nihilkan aku sebagaimana itu kau rasa perlu. Coba redupkan pandanganmu dan hiruplah udara seperlahandalam mungkin, hembuskan selembut ingatanmu akan masa kecil dalam buaian dekapan sang rahim. Rentangkan tangan lepas lega bila kau rasa perlu. Geretakan setiap otot bahu punggung lenganmu saat kau lakukan itu. Biar kuresapi indah semua gerakmu itu.
Biar udara milikmu, dan biar milikmulah semua selaksa udara. Biar semua dedaunan rimbun itu seikhlas sedia alam memberikan oksigen bagimu. Biarkan oksigen terganti dan berulang terganti memenuhi relung dadamu. Biar paru menyerap oksigen dan menitipkannya pada bulir bulir yg kemudian mengalir dalam nadimu. Biar aliran bulir bulir pembawa oksigen itu menelusuri setiap titik, lekuk, sudut, bahkan setiap seperseratus mili bagianmu. Biar semua jaringan, setiap sel, dirimu tersegarkan terjaga terbaharui. Dan terutama, biar bulir itu sampai ke sel sel otakmu, menjaga hidup sel sel otak yg memiliki fungsi; menyimpan kenangan, tentang seseorang yg pernah sering membuatmu tertawa walau tidak sesering membuatmu menangis, yg duduk di sudut lain tanpa perlu kau tahu.

Ah cemburu, sebuah kata yg kuat kusematkan kuunjukkan padamu; wahai oksigen, yg ia hirup selalu. Sungguh!
Harusnya itu aku.

..................

INTERNUSA. 2.

Bagian 2.
Catwalk Among Papers.

pilihlah satu lorong. pilih saja dimana yg kamu suka, yg kamu mau. atau telusuri sajalah semua, susuri satu persatu, tanpa kecuali. ambil satu atau dua atau tiga berlembarlembar tetulisan atau gegambar pilihanmu sendiri; fiksi, biografi, puisi, katalog, jurnal, text, karakter, grafis, susastera, birama, memoar, apapun itu. jangan, duh jangan selintas selewat saja kamu buka lembar lembar itu. biarlah paling tidak berbelas lembar kamu biarkan dirimu merasuki isi tetulisan itu. atau paling tidak selalu bersiap ada judul tetulisan lain siap disidik bila satu telah tertelaah. agar tak segera kau beranjak dari lorong itu, atau paling tidak tetap ada di dalam kumpulan lorong itu. atau duduklah di tempat yg disediakan untuk menelaah isi & tetaplah disitu. di satu atau beberapa sisi.

biar aku pilih lorong lainnya. tak terlalu dekat, meski tak cukup jauhpun agar masih terintip jelas sosokmu dibalik celah celah lorong itu.

biar, biarlah kamu disitu. aku disini.

tak perlu kau tahu aku disitu, malah mungkin inginpun kau tidak. teruskan saja sidik telaah tetulisan itu. biarkan aku saja yg mengamatimu. menikmati, bagaimana semua pendar binar terang itu berebut menerobos berbagai celah lorong itu, mereka seolah tak rela ada lekuk tekukmu yg direngkuh gelap. menikmati, bagaimana terkadang paparan cahaya tak kuasa melingkup seluruhmu dan hanya jatuh di sebagianmu, menghasilkan gradasi juga kontras terang gelap yg mempertegas bentuk sekaligus menghadirkan nuansa misteri. menikmati, -ketika kau melangkah mendekat ke binarpendar dengan sorotan rendah-, bagaimana binarpendar  itu menjamahmu perlahan, mengikuti gerak pelanmu, bertahap dari ujung alas ujung kakimu yg lentip, binarpendar bergerak menyentuhmu lembut perlahan keatas, -berhenti  sekian jenak di beberapa titik tahap, seolah itu titik eksplorasi kesayangan si pendarbinar-, sebelum kemudian kembali bergerak, ke atas dan ke atas. Sampai penuh kemudian, akhirnya pendarbinar memaparkan dirimu apa adanya sebagaimana indah yg dititahkan alam dan pembentuknya. Atau saat pendarbinar hanya melingkup sebagianmu, dan hanya memaparkanmu dalam siluet. ah, hanya lensa dengan rana dan fokus yg tepat yg hanya bisa diatur oleh rasa, yg bisa menangkap nuansa ini. apapun itu, cahaya ikhlas kau berikan saat saat sepenuh rasa untuk menyentuhrengkuhmu, perlahan pelan, sebagian, atau sepenuhmu. ah cahaya, cemburu padamu amat layak ditujukan untuk itu. sungguh!

............

INTERNUSA. 1.


Bagian 1.
Solitude Seater.

pilihlah satu tempat. pilih saja dimana yg kamu suka, yg kamu mau, abaikan hal lainnya. pilihlah saja. duduk disitu di satu sisi. sesap sajalah seduhan pilihanmu sendiri; kafein, lactosa, polifenol, alkoloid, glukosa, aspartam, sakarin, cocoa, ekstrak bebuahan, apapun itu. jangan, duh jangan segelas jangan secangkir. mintalah paling tidak dua tiga cangkir, atau paling tidak selalu bersiap memesan seduhan lagi setiap cangkirmu tandas. agar tak segera beranjak dari dudukmu. diamlah disitu, duduklah disitu. di satu sisi.

biar aku pilih satu sisi lainnya. tak terlalu dekat, meskipun tak cukup jauhp agar masih terpapar jelas sosokmu dari tempatku.

biar, biarlah kamu disitu. aku disini.

tak perlu kau lihat aku, malah mungkin tak ingin kau lakukan. teruskan saja sesap seduhan itu. biar aku saja yg melihatmu. menikmati, bagaimana cahaya memaparkan dirimu ke mataku. bagaimana tangan tangan berjari lentik itu menangkup hangatnya cangkir, bila seduhan pilihanmu hangat. bagaimana jemari itu melawan gravitasi mengangkat cangkir membantu sesapanpenuhmu, bila seduhan pilihanmu dingin. bagaimana matamu itu, salah satu bagian kesukaanku, setengah menutup ketika menyesap seduhan. bagaimana bibir itu menyentuh pinggiran cangkir, ah aku cemburu pada pinggiran cangkir itu. sungguh!

.................