ditulis 2011-2012
aslinya disini. re-repost. :: ber(gerak)
dan ketika ia siap, merebahkan tubuhnya dengan ringan, bulu mata lentiknya semakin memperindah garis wajahnya ketika perlahan ia menutup mata, bibir lembut nan penuh dan segar itu berbisik pelan : "pelan pelan saja ya...". aku tersenyum dan mengangguk. akan aku penuhi keinginanmu, apapun yg kau butuhkan.
dan kemudian akupun, pada awalnya hanya aku, bergerak. namun kemudian setelah sekian waktu, lebih tepat: kami, yg bergerak. pelan saja, sebagaimana ia minta.
dan kemudian akupun, pada awalnya hanya aku, bergerak. namun kemudian setelah sekian waktu, lebih tepat: kami, yg bergerak. pelan saja, sebagaimana ia minta.
di saat kami bergerak, bersama, selalu tak bisa kuhindari kuperhatikan garis wajahnya, saat itu selalu jelas bagiku pahatan pencipta tak melewatkan satu bagian pun lekuk tekuk pahatannya sebagaimana seharusnya ia melekuk menekuk.
di saat kami bergerak, bersama, selalu tak bisa kuabaikan bagaimana ia menarik nafas dan kemudian menghembuskannya pelan sambil tetap menutup mata, di saat seperti ini naluri alami membiarkan ia melepas kendali dirinya yg biasanya ketat, dan bibirnya merekah sedikit saja.
di saat kami bergerak, bersama, selalu tak bisa kunafikan bagaimana begitu kuhargai kuhormati ia, saat setelah segala lelah sepanjang hari semua ia tekuni, masih saja ia menetapkan saat dimana kami harus bersama, bergerak.
dan saat aku berhenti bergerak, sedikit tiba - tiba aku hentikan gerak laju, dia sedikit membuka mata dan garis wajahnya mengungkap kecewa kecil dan raut tanya yg tak terucap, mengapa? namun mata itu kembali tertutup, rautnya kembali ke semula, kedua katup bibirnya tertarik memanjang kesamping nyaris tersenyum sambil menghembuskan nafas pelan ketika aku kembali melanjutkan laju gerak, tetap pelan tentu saja, sebagaimana ia minta.
kami, atau mungkin sebaiknya; ia, ingin sampai, kesana. dan bagiku, sebuah anugerah dan keindahan nyaris nirwana bisa membuatnya ke tujuan itu, sampai, kesana. pada awalnya tujuannya hanya ia, namun sebagaimana alam menitahkan maka akhirnya nanti tak terhindarkan, kami akan bersama sampai, kesana.
dan kapanpun ia menyampaikan bahwa sudah saatnya bergerak, maka terjadilah. sebagaimana embun daun seharusnya menguap setelah lewat masa pagi, sebagaimana embun udara harus tumpah ke tanah ketika awan kehilangan kuasa dan daya untuk menahan.
pelan saja, sebagaimana ia suka, sebagaimana ia minta. dan aku turuti, aku penuhi. namun sering naluri melawan kendali diri, dan laju sering terpacu tak lagi pelan. dan entah sadar atau entah memang ia paham bahwa mungkin pacu laju yg tak selalu pelan yg sebenarnya ia inginkan, ia butuhkan, agar teraih tujuan itu, sampai. tak kulihat raut tanya dan tak suka sebagaimana aku lihat ketika gerak laju sedikit tiba - tiba aku hentikan tadi. justru ketika aku turuti naluri yg membangkang terhadap kendali diri, laju terpacu tak lagi pelan, ia hanya sedikit membuka bibirnya sambil tetap memejam mata dan tak terlihat terganggu dan tak muncul raut tak suka ketika ia agak terguncang guncang gerak laju. namun akhirnya kembali kurengkuh kendali diri itu, kupelankan kembali. dan ia hanya tersenyum, menikmati laju gerak kami, menikmati pelan namun teguh harus sampai ke tujuan. dan aku, kupelankan laju, bukan karena tak ingin sampai, kesana. namun lebih karena; tetap akan sampai kesana, namun tak secepat itu. biar kunikmati perjalanan ini.
dan waktu terus bergulir, seiring kami bergerak, bersama. berhenti, gerak kembali, sejenak henti, namun pasti selalu diikuti gerak kembali, pasti. pelan, terpacu, pelan. ke samping, terhentak ke pinggir, lurus, sebagaimana jalan tujuan mengharuskan. gerak dan gerak. pelan, terpacu, pelan, terpacu, dan terpacu, dan semakin terpacu. pada akhirnya aku, ia, kami, membiarkan saja naluri membimbing gerak, merelakan alam menuntun laju. apa adanya. dan kami semakin dekat, mendekat, dekat, lebih dekat, dan sampai, tak terhindarkan. sebagaimana alam menitahkan, kami bersama sampai, disini.
"sudah sampai......" aku bisikkan pada ia, dan ia membuka mata dengan raut muka lelah namun terpenuhi, keinginannya, kebutuhannya. dan tentu saja sebagaimana pembawaan dirinya, senyum ia kembangkan, indah tak terbantah.
ia benahi dirinya sejenak, dirapikannya apa yg ia kenakan, diperiksanya polesan bibir dan pipinya, juga gerai rambut sebahunya yg sekian waktu terhimpit sandaran kepala sambil memejam mata, diraihnya tas mungil namun penuh perangkat, kemudian ia buka jendela dengan tombol otomatis, ia buka pelan namun tegas pintu kendaraan.
"tunggu ya, setelah selesai meeting disini, antar aku kembali ke tempat tadi, tolong tunggu 45 menit sampai 1 jam lagi jemput di depan sini ya." aku mengangguk dan tentu saja tersenyum. aku akan menunggu sebagaimana biasanya itu tak lagi tugasku, tapi memang inginku. aku kembali bergerak laju, masih pelan, kusandarkan kendaraan ini di sebuah tempat tak jauh dari tempat ia turun tadi.
dan aku masih menunggu, duduk, depan kemudi dalam kendaraan ini. dan nanti akan kuantar lagi ia, sampai, kesana, kemana yg ia mau. pelan sebagaimana ia biasanya suka, atau membiarkan naluri bicara, kupenuhi.