Thursday, January 9, 2020

perempuan lain itu

maafkan aku.
perempuan lain itu, ada.
perempuan lain itu, hadir. diantara kita.

maafkan aku.
akupun tak tahu kenapa bisa muncul perasaan seperti ini ke perempuan lain, yg lebih kuat dari perasaanku kepadamu, kamu yg kupilih kunikahi.

aku mengerti,
kamu tak akan sepenuhnya mengerti,
mengapa terjadi seperti ini.

aku tahu,
bahwa kita berdua sama - sama tahu,
hal seperti ini akan terjadi juga.
hanya masalah waktu.

aku paham,
kamu tak akan benar - benar paham,
pada apa yg terjadi kemudian.

tapi inilah adanya,
perempuan lain itu, ada.
perempuan lain itu, hadir.
maafkan aku,
maafkan hanya bila kau mau berbagi,
maafkan hanya kalau kau mampu.

ah,
aku mungkin tak akan pernah mengerti hal ini dan mungkin sudah sifat alami kaummu, perempuan, bahwa betapa sering kamu kesal terpicu ulah dan hal yang -menurutku- kecil dan tak layak menguras enerjimu. namun, perempuan lain itu, berbeda. hal - hal kecil ulahku entah kenapa malah membuatnya tersenyum, tertawa kecil saja, namun terdengar indah. seperti pagi ini -setelah malam terlewatkan bersama, malam dimana kita saling membangunkan ketika yg satu terlelap, dan menikmati keintiman yg terperi- ketika kusentuhkan dagu ke pipi lembutnya, mulanya ia diam dan nampak kesal terganggu tidurnya, tapi kemudian perlahan tersenyum, ya tersenyum, kemudian tertawa kecil, giggles, tanpa membuka mata. mungkin karena sudah akrab dan sering sudah aku bersamanya sampai hapal ia dengan aroma tubuhku sehingga tanpa melihat pun ia tahu siapa yg menggelitik pipinya, dan bagian lainnya pun ia biarkan ku gelitik, halus, lembut, dan keintiman pun berlanjut.
dampak yg sepertinya sama nampaknya juga terjadi padaku, seperti kemarin dulu, ketika aku terbatuk, dan tidurnya terganggu, dan ia protes. maafkan aku, biasanya ketika kamu, istriku, protes maka sering refleks aku protes balik. tapi ketika ia lantang memprotesku, aku tak berdaya melawan, dan akhirnya kupeluk ia, mencoba meredakan, dan semua sesak terlepaskan ketika ia akhirnya tersenyum.

oh,
nyaris lupa kuceritakan padamu, ingat betapa sering kamu, -perempuan yg sepenuh sadar kunikahi- memboroskan enerji mencereweti betapa sering ceroboh dan teledornya aku, mulai dari bingungnya kamu mengapa aku bisa menikmati sesuatu yg (menurut standar defisimu) semrawut? mendapati dan melakukan sesuatu yg membahayakan diriku sendiri dan juga terkadang sekelilingku? dan aku hanya bisa tertawa melihatmu memandangku dengan frustasi, bebal nakalnya! gak berubah! begitu serumu. tapi hadirnya ia, perempuan lain itu, tak hanya sedikit ia membentuk laku baru, langkahlaku-ku. ya mungkin tak akan sepenuhnya ia akan mampu merubah, tapi setidaknya tumbuhlah rasa itu, rasa mau mengalah, hanya pada ia, perempuan lain itu. walau aku tahu, dan entah kenapa aku tahu pasti, sepenuhnya ia menerima seperti itulah aku sebelum hadirnya ia, perempuan lain itu.

ya,
tentu saja, sanggahlah saja, bila bagiku; ia lebih cantik darimu, lebih mudah membuatku merasa kehilangan ketika jauh, lebih terasa hadirnya bagiku. bukan karena punah sudah semua yg kurasa dan kusimpan untukmu, yg kupilih kunikahi. masih ada disini, kuat, tersimpan di sini, tetanam dalam, amat dalam. tak ada kurangnya dirimu, untukku dirimu lebih dari cukup. tapi begitulah, bagi sebagian banyak orang ia, perempuan lain itu, tidak secantik yg kupikir, bagiku ia yg tercantik, yg merajam hati selalu keinginan itu; -desakan untuk selalu dekat dengan ia-, kebutuhan akan hadirnya justru lebih terasa ketika ia tiada. bahkan sebenarnya ia yg kulabuhkan ke diri, bukan (hanya) aku yg meluruhkan diri ke ia, perempuan lain itu. tak masuk akal menurutmu? ya sanggahlah saja, tak bisa kujawab mengapa kenapa. karena itulah entah kenapa sebenarnya benar - benar aku tak mengerti, kenapa bisa muncul perasaan seperti ini ke perempuan lain, yg lebih kuat dari perasaanku kepadamu, kamu yg kupilih kunikahi

hm,
kamu tentu ingat bahwa aku selalu suka mengamati hujan ketika jatuh, entah hujan pagi, entah siang, entah malam, terutama di sore hari. dan sore kemaren, -saat bersama ia- maka tumpahan air yg tak kuat digenggam awan ketika mereka semakin berat terakumulasi dilangit di atas sana, wingit dan sahdu lebih terasa. ku genggam dan peluk ia, perempuan lain itu, kujaga dari dingin yg mencoba bersimaharajalela. ketika ia susupkan kepalanya ke dadaku mencari perlindungan setelah suara gelegar petir itu, aku tahu saat itu juga, ia, perempuan lain itu, senantiasa akan kulindungi, sepenuh hati.

dan pagi ini, setelah ditelikung dingin sisa hujan subuh tadi, sehingga masih rapat saja selimut itu menutupi tubuh kami setelah semalam penuh bersama, saling membangunkan ketika yg satu terlelap, saling menyumarahkan rasa dan membangun keintiman yg selalu rubuh setiap mendekati lelap, berulang kali, malam tadi.
dan pagi ini, masih saja aku belum beranjak dari sisinya, perempuan lain itu, tak puas juga lekat aku memandanginya, menyentuh lembut, semua terasa hening dan hanya terdengar degup jantung, milikku dan perempuan lain itu, dan sang waktu kali ini menolak untuk menampilkan wajahnya sebagai perintang. dan....























"yanda, udah dong, kesiniin vara-nya, udah waktunya dimandiin"

aku tersenyum, kuangkat lembut perempuan lain itu, diserahkan ke tangan bundanya yg lebih paham dan ahli menangani masalah perempuan lain itu dalam hidupnya.
dua perempuan indah.

+days after 17th june 2005+



No comments:

Post a Comment