Sunday, August 5, 2012

rendezvous


sudah jarang memang, kabut turun di kota ini. sehingga nyaris saja terhapus dari ingatan tentang kabut di kota ini. tapi pagi itu kabut turun, seolah menjadi penanda dan pengingat akan sesuatu yg sekian lama sengaja terrahasia dan keinginan untuk kembali menggali sesuatu yg sekian lama upaya untuk memahaminya tersia sia.

dan pagi itu menembus kabut, kutinggalkan kaki bukit di pinggiran kota ini, memacu roda menggilas aspal yg masih basah sisa gerimis subuh tadi. mengibas embun di dedaunan tetumbuhan pinggir jalan untuk dipaksa jatuh oleh pergerakan angin ketika aku memacu. ya, memacu diri menuju sebuah titik, dimana ia janjikan akan menunggu. sepanjang jarak yg kutempuh meninggalkan kaki bukit berkabut menuju titik itu, tak bisa kuperintah benak dan hati untuk berhenti berandaireka, apa yg akan kuucap? apa yg akan kutanya? apa yg akan kujawab? dan nyaris tak peduli bahwa seharusnya yg kuandaireka adalah; apa yg akan kau ucap? apa yg akan kau tanya? apa yg akan kau jawab? bagi seorang egois seperti aku, nampaknya untuk didengar lebih menjadi kebutuhan melebihi kesiapan untuk mendengar. egoisme diri memang sebenarnya tidak kita sadari sudah muncul berawal dari pikir, bahkan jauh sebelum menjadi tindakan. ah biarlah, segera kusibak dan singkirkan semua tanya itu, terutama setelah penjaja koran pagi di perempatan yg kulewati tadi nyaris saja berkenalan dengan besi dan roda yg kupacu. kuucapkan maaf sambil sekaligus menebus kompas, pikiran rakyat, republika, dan koran tempo. kemudian kupacu lagi ke titik itu, bergerak, didorong rasa tidak sabar untuk segera bertemu.

dan akhirnya kutemukan ia. duduk anggun. di kursi itu. di pinggir jendela kaca, di tengah ruangan. tidak sekedar sama seperti yg kuingat dulu, lebih dari seperti yg kubayangkan selama ini, seperti ia adanya. indah seperti biasanya, indah seperti seharusnya, indah sebagaimana adanya ia, apa adanya. semua yg melekat pada dirinya seolah memang terbuat dan dibuat dan khusus untuk dirinya. entah subyektif, entah obyektif, tapi itulah pendapatku. dan senyum yg ia kembangkan sebagai reaksi pertamanya melihatku, mengukuhkan pagi itu semakin kuat terdefinisikan sebagai; pagi yg tak akan terlupakan.

dan ketika ia julurkan tangannya, kusambut kugenggam namun tak jua kulepas sampai ia menarik sendiri jemari hangat itu. dan kemudian ia hanya tertawa kecil dengan muka bersemu merah ketika kuingatkan betapa dahulu tangan yg sama kugenggam sepanjang film yg kita tonton bersama di gedung bioskop tepat di seberang kedai kue titik tempat kita bertemu itu. "iya inget, dan dulu jemari tanganku kau genggam tarik kemudian kau cium kecil dan gosokkan ke hidungmu, aku tidak lupa". demikian ucap yg keluar dari bibir manis itu, yg sayang tak pernah berani kukecup dulu, hanya berani sampai tanganmu. dan kemudian setelah itu semua mengalir saja.

"pindah kesana yuk?" sambil menunjuk ke bagian lain kedai kue yg lebih terlindung dari pandangan. aku pun bersetuju. bersama coklat susu panas, croissant, dan teh hangat, kami pun berpindah duduk. dan kembali semua mengalir, berbagai cerita, berbagai tanya, berbagai jawab, mengalir. tak disadari saat itu aku dan kamu menjadi cair, tak ada lagi aku tak ada lagi kamu, hanya ada kita. kureguk tehmu, kau reguk coklat panasku, dan sungkan lenyap ditelan pagi yg semakin beranjak siang. dari sekian banyak coklat susu panas yg pernah kureguk sebelumnya, bisa kupastikan inilah coklat susu ternikmat yg pernah kureguk. mungkin karena ada bekas bibirmu di cangkir itu, mungkin karena ada sisa rasacita dirimu di larutan itu, atau mungkin karena aku terlalu dan selalu terperangah menikmati mengamati berbagai ekspresi bibir dan matamu sepanjang pagi itu. senyum, cemberut, tertawa, memberengut, nyengir, tersipu. saat bersamamu.

"jadi ceritakanlah sekarang, mengapa dulu tiba - tiba kamu menghilang, meninggalkanku" tiba - tiba kau menyergahku. dan akhirnya muncul juga pertanyaan dari bibir ranum itu. tanya yg sebenarnya sedayaupaya aku alihkan ke hal lain. "tanya hal yg lain sajalah, pasti ku jawab" aku coba menawar, dan ia menggelengkan kepala. "jawablah, kenapa?" duh, tanya yg dikubur sekian lama sekian dalam, namun akhirnya menyeruak ke permukaan. dan masih saja aku mencoba menawar, "mau jawaban yg menyenangkan, atau jawaban yg jujur?" dan kemudian ia menyergah "apa bedanya?" lalu kutimpali "jujur tidak selalu menyenangkan, kan? kamu tau itu?" semakin tak sabar ia kembali berkata "jawab sajalah, apapun pilihanmu!" dan aku pun menarik nafas dalam - dalam, lama dan pelan. kemudian kusampaikan pelan "sejujurnya, aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. tapi bila bisa semua diakumuluasikan dan disimpulkan dalam dua kata, maka jawabnya adalah: kebodohan, arogansi" matamu menunjukkan rasa bingung mendengar jawaban itu, yg kemudian: "maksudmu? aku tidak mengerti..." dan aku jawab "hanya ia yg bodoh bisa meninggalkan yg seindah dirimu, dan arogansi yg menyebabkan kebodohan itu. dan ya, saat itu dulu aku lebih bodoh dari aku saat ini, namun entah kenapa masih saja tersisa arogansi itu sampai hari ini". diluar dugaan, kau tersenyum. "kamu cerdas, bisa merangkai jawaban yg jujur dan tetap bisa meramu dengan menyenangkan sekaligus". dan kali ini aku kembali menghela nafas, dan mengeluarkannya dengan lebih lega. dan aku tambahkan "jadi hari ini kamu tahu sudah, terungkap sudah, tak lagi tersimpan" dan senyummu semakin saja terasa lebih manis.

dengan pelan aku sampaikan jua "tanpa aku sadari, aku banyak menulis tentangmu. sekian lama setelah aku melewati fase dimana aku sadari dulu itu lebih bodoh dan lebih arogan dibanding saat ini, aku paham bahwa hal seperti ini, rasa yg kita miliki bersama, justru menyakiti diri sendiri bila dibiarkan mengendap tersimpan. di masa masa, fase, dimana aku biarkan saja mencoba menahan tersimpan terendap, menulis menjadi salah satu cara agar tidak terlalu pahit dan pedih saat menahan rasa itu."
dan mata indahmu terkejut, "memangnya apa saja yg kamu tulis?"
aku jawab "tidak terlalu banyak juga, mungkin karena memang hal paling pribadi dan yg paling indah bagiku, tak begitu mudah diungkapkan dalam tulisan. namun ini salah satunya, karena salah satu yg paling kuingat dan paling indah terrekam dalam ingatan, adalah matamu;

bila ada waktu kita bertemu, biarkan aku lihat jauh ke dalam mata indahmu, biarkan kucari, masih adakah aku disana?
luangkan waktu temui aku, biarkan lepaskan dirimu dan lihat jauh ke dalam mata hitamku, temukan dirimu disana.

nah, semakin terungkap sudah"

dan mendengar itu, matamu berbinar... dan aku semakin terperangah, suka. amat suka. pada matamu. dan kamu jengah aku pandangi seperti itu "iiih koq ngeliatinnya seperti itu sih?" dan untuk kesekian kalinya semu merah itu bersemburat di pipimu, menjadikannya semakin indah. dan masih saja kupandangi matamu, mengirim rasa dan bunyi hati lewat mataku ke matamu.
matanya, yg selalu terlihat cantik bagiku, jendela hatinya itu, hanya bisa mengirim isyarat. bahwa memang sejak lama ia tahu itu.
matanya, yg kedalamannya selalu ingin kuselami, jendela jiwanya itu, hanya bisa mengirim pesan, memang sejak lama ia menunggu bunyi hati itu terucapkan.
matanya, yg entah mengapa sering membuatku terkesiap ketika memandangku, menunjukkan tanya, mengapa harus setelah sekian lama ukuran waktu, bunyi hati itu baru tersampaikan.
entah mengapa perempuan selalu saja ingin mendengar (kembali) sesuatu yg sebenarnya sudah ia rasa dan tahu.

dan waktu memang aneh, terasa amat pendek ketika kita merasakan sesuatu yg indah dan sebaliknya terasa amat lama ketika bersusah hati. namun satu yg pasti, waktu memang bukan padanan untuk dijadikan lawan karena kita tak akan pernah menang.
dan pagi semakin beranjak siang. dan semua yg tadi begitu cair perlahan mau tidak mau menguap. ia harus kembali menjadi ia, dan aku kembali menjadi aku, untuk sementara 'kita' kembali ditanam saja di lubuk terdalam.

dan sebelum kata pisah tidak lagi hanya sebuah kata, sebelum menjadi tindakan yg terlaksana, kutanya pelan; boleh kucium matamu? tentu saja ia tidak mengiyakan, tidak menjawab.

tapi kemudian ia memejamkan mata. dan aku menghampirinya.




*************************** // ***************************






*paragraf pertama, dan kemudian mengalir di paragraf setelahnya, terpengaruh larik milik Sapardi Djoko Damono dibawah ini:

SAJAK-SAJA EMPAT SEUNTAI
/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka....
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku.

/2/
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana -
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya.

/3/
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya -
tapi kapan kita pernah memahami laut ?
memahami api yang tak hendak surut ?

/4/
apakah yang kita dapatkan di luar kata :
taman bunga ? ruang angkasa ?
d taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan.

/5/
apa lagi yang bisa ditahan ? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan -
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan ?

/6/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang -
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang.

di tulisan ini juga di copy paste dan sedikit modifikasi beberapa paragraf dari tulisan saya berjudul 'secangkir' dan 'agar tak segera henti hujan'.




pubilkasi lain, klik disini

Tuesday, July 10, 2012

secangkir

air, bening, jernih. 

sama sajalah dimanapun dan bagaimanapun, air ya air., begitu kata mereka tentang air, H2O. air keran, air sumur, yg dimasak sampai mendidih, dan air dalam kemasan botol, di teko, dalam kendi, ya tetap air. jadi air itu biasa sajalah. diingat sesaat kala dahaga, dan ketika hasrat dahaga telah usai pun kemudian dilupakan.
namun tetap saja, tak akan pernah terlupakan. air yg itu, yg diminum mentah dari pancuran mata air yg kutampung di cangkir kaleng mungil itu, yg kita minum berbagi dari cangkir yg sama. saat kita sejenak rehat dari melangkahkan kaki menempuh jalur bukit, lembah, menyeberang sungai, menempuh rimba, dari satu pos ke pos lain, dari satu shelter ke shelter selanjutnya. berdasarkan nomor urut, kamu pasti satu setengah jam lebih dahulu berangkat dalam penempaan hiking individual ini. namun kemudian kutemukan dirimu terduduk diam penuh keringat tanpa tenaga di gubuk pinggir jalur petani itu. menyerah pada lelah. dengan bekal air yg sudah kosong,. tentu saja otomatis kuberikan botolku dan tandas lenyap isinya dalam hitungan detik. ketika akhirnya kutemukan pancuran mata air di lekuk lembah yg tertutup batang pohon kelapa dan dikelilingi pohon pisang - pisangan itu, kamu juga yg lebih banyak habiskan dari cangkir kaleng itu. tak peduli lagi dimasak atau tidak, higienitas yg selalu diupayapaksa untuk selalu kamu dapatkan, lenyap. dan yg kuingat ketika akhirnya kemudian adalah; setengah menyeret dirimu yg memegang erat tali ransel di belakang punggungku agar tetap bisa berjalan dan tak tertinggal. terjawab sudah, keheranan saat awal di pos start tadi, apakah kuat seseorang mungil, seseorang seperti kamu -dan segala stereotype mereka yg sepertimu- menempuh perjalanan hiking seperti ini. dan entah kenapa, rela dan kunikmati saja mau tidak mau menjadi salah satu yg paling akhir memasuki finish, bersamamu. dulu sekali, di masa itu.

dan memang air saja awalnya, bening, jernih. dalam cangkir. secangkir.

dua kemasan celup kecil saja, simpan dalam cangkir kosong, baru kemudian diisi air jernih mendidih. dan biarkan saja kemasan celup itu tenggelam dan kemudian isi sari ampul celup pun mengurai dan tak lagi jernih air mendidih itu, memekat. semakin pekat semakin baik bagiku. seringnya tanpa gula, kadang kalaupun ingin cukuplah setengah sendok cangkir mungil saja pemanis itu, cukup sebagai aksen manis minimalis, amat minimal. kontras yg indah. manis, ditengah pahit pekat sari daun kering. kontras yg indah. teh, yg instan saja, cukuplah bagi yg memang memilih praktis. namun, bila ada waktu, aku taburkan serbuk sari daun kering itu ke saringan, biasanya saringan lebih lebar atau pas ukuran cangkir, sehingga pas disimpan dan tertahan kuat di bibir atas cangkir. biarkan air jernih mendidih melewati saringan dan biarkan serbuk serbuk itu tetap tertahan di saringan. dilakukan berulang, tuang keluar air dari cangkir, masukan kembali ke cangkir melewati saringan berisi serbuk daun kering itu. harus kupastikan air jernih itu benar benar panas, sepanas mungkin, melebihi dan melewati titik didihnya. karena air jernih mendidih itu akan berulang kali keluar masuk cangkir, sehingga ketika sudah sesuai pekat yg diinginkan, tetaplah panas air itu. dan ya, kadang sejumput saja gulanya, minimal. pernah juga dicoba gula merah, lebih meresap manis dan lebih menyatu dengan tekstur rasa pekat tehnya. sayang, tingkat kesabaran yg dibutuhkan untuk ritual teh yg satu ini jarang bisa kudapatkan. oh ya, juga ada bunga-bungaan yg dijadikan teh. sungguh unik. bunga dikeringkan, biasanya jenis chrysant. ketika dikeringkan bunga menguncup, padat. cukup cemplungkan bunga ini ke teko atau cangkir beisi air, panas lebih baik, kemudian perlahan bunga pun 'mekar' dalam teko/cangkir. proses mekarnya menjadi pemandangan menyenangkan untuk diamati. kenikmatan visual melengkapi kenikmatan rasa. minuman hasil pemberian alam ini memang nikmat, tak terbantahkan. harus kuberi tabik dan hormat pada para pendeta budha di biara biara jaman cina purba, yg mengembangkan hasil pemberian alam yg sederhana ini menjadi salah satu pemberi warna hidup yg istimewa, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia dengan berbagai variasinya. kuminum pagi, kuminum sore, dan lebih sering malam. menjadi ritual, sebelum menelaah ulang materi kuliah, dulu, di malam menjelang ujian. sebelum menelaah dan menuliskan laporan pekerjaan belakangan ini. atau tak perlu melakukan apa apa, cukup duduk atau berdiri di sisi jendela dan menyeruput dari bibir cangkir yg ditangkup lekat seluruh sepuluh jemari tangan. tapi ketika justru tak berniat melakukan apapun dan hanya ingin menghabiskan waktu menyeruput cairan sari daun yg pekat itu, akhirnya akupun sering terdorong mulai menulis, seperti saat ini. dan padanan situasi paling bernas untuk air pekat ngebul yg memanaskan telapak tangan ketika kutangkup cangkir itu, adalah jendela dengan gorden terbuka, saat hujan. 
bermacam sudah, jasmine, chrysant, dilmah, english breakfast, vietnam, padang, india, cina, oolong, hijau, putih, kuning, berbagai rasa berbagai wangi lainnya, sudah pernah dicoba. 

namun tetap saja, tak ada yg mengalahkan dan senikmat secangkir teh pahit panas antah berantah yg kuseruput ketika berteduh menunggu hujan saat menjemputmu, bersamamu, kuminum di sela mendengar tawamu ketika bercerita tentang betapa kakak kakak panitia lelaki seniormu berlomba bersikap baik padamu pada masa opspek itu, di warung samping masjid kampusmu itu dulu. dulu sekali, di masa itu.

dan tetap saja, awalnya, dasarnya, adalah air. jernih. bening. yg kemudian menjadi pekat karena pilihan yg kita isikan ke dalamnya. di cangkir itu. secangkir.

jarang memang, aku menyeduh kopi. namun larutan serbuk biji bijian ini selalu kusuka. secangkir saja. benar, sebagai seseorang dengan tingkat kesabaran yang rendah, sangat tertolong pada hadirnya kopi serta merta alias instan. sobek sachet tuangkan serbuk yg sudah tertakar dalam standar umum kadar serbuk biji, gula dan lainnya. cukup tuangkan air jernih mendidih ke cangkir yg sudah dijarahi isi sachet tadi, jadilah. mengepul. namun tentu saja, ada waktu dimana kusempatkan memilah memilih gelundungan arabica sebesar kacang polong. kumasukkan blender dicincang dirajam dicacah menjadi serbuk. baru kemudian aku saring dan hanya butir serbuk terhalus yg masuk cangkir kemudian panas dari air jernih mendidih merubah bentuk molekul molekul serbuk biji bijian menyatu menjadi cairan. terlalu encer untuk menjadi gel, terlalu pekat untuk hanya disebut air saja. menunggu air mendidih dan mencacah biji, prosesnya memakan waktu banyak? tentu saja. kita memang semakin dibuat lupa oleh jaman, lupa pada kenyataan bahwa nyaris semua hal terbaik yg bisa didapat dan kemudian bertahan lama bahkan seringnya abadi, tidak ada yg diperoleh dengan serta merta, tidak instan. selalu melalui sebuah gerakan bertahap dan bertingkat, proses. demikian pun rasa akan keindahan.
arabica, sesuai namanya berawal dari dataran tinggi di jazirah arab, tepatnya yaman, ethiopia, sudan. dan untuk menghasilkan biji arabica terbaik, pohonnya harus dibiarkan tumbuh sekitar 2555 hari. iya, duaribulimaratuslimapuluhlima hari. idealnya tumbuh di wilayah subtropis atau di wilayah tropis di pegunungan dengan ketinggian dan cuaca mendukung yg cukup sehingga suhunya mirip wilayah sub tropis. kelembaban udara dan zat hara tanah harus terjaga, begitu pula cahaya matahari harus cukup. begitulah memang proses yg harus ditempuh untuk menghasilkan arabica terbaik. sebagaimana pula cinta. robusta lebih tangguh dari arabica, tidak memerlukan perlakuan semanja arabica. gorengan yg tepat, menghasilkan aroma wangi yg menarik hidung tertentu bagi penggemar robusta. ada banyak yg suka aroma robusta dengan tingkat gorengan mendekati aroma ban mobil terbakar. aneh memang tapi itulah adanya. rasa memang rahasia hati. namun banyak kopi merupakan campuran, blend, arabica dan robusta. dan takaran yg tepat untuk robusta yg memiliki keasaman lebih rendah dibanding arabica namun kafeinnya lebih kuat, cukup mampu menghasilkan espresso yg nikmat bagi sebagian orang. espresso, kata yg berasal dari italia untuk; express, ekspres, cepat, segera. bukan, ini bukan penamaan untuk kopi sachet instan yg memang cepat proses membuatnya. namun penamaan kopi yg dihasilkan mesin yg menghasilkan air uap panas mendidih sehingga dihidangkan dengan cepat. capuccino, adalah espresso dengan busa susu atau krim. macchiato, caffe latte, frapuccino, mocha, americano, tubruk, dedak, pisin (itu lho, yg dituangkan ke tatakan gelas diseruput dari pinggir bibir tatakan), hitam, coklat, putih, apapun itu jenisnya, semua rasa semua variasi, pemberi kenikmatan penyukanya yg setara waktu yg terlewatkan ketika menghirup menyeruputnya. sebagaimana air pekat dari serbuk daun, maka air pekat dari serbuk biji ini pun menjadi padanan tak terhindarkan pasnya dengan jendela saat hujan. menangkupkan jemari ke cangkir membiarkan panas menjalar dari telapak tangan menghangatkan tubuh, dan menyeruput pelan sedikit demi sedikit. nikmat.

namun tetap saja, capuccino con panna di resto dekat gedung sate itu, yg krimnya pelit sedikit, yg sudah terlanjur dikalahkan dinginnya malam sehingga tak lagi panas, lebih nikmat. capuccino pesananmu yg akhirnya kuambil minum karena tak kau habiskan akibat terlalu sibuk memotong mungil mungil dan memilah memisahkan bagian lemak dari daging steak itu, yg akhirnya steak itu  pun tak setengahnya kau habiskan namun memakan waktu dua kali lipat dibanding aku habiskan seporsi penuh tandas, tetap saja capuccino con panna sisamu itu terasa lebih nikmat dari kopi variasi manapun. mungkin karena ada bekas bibirmu di cangkir itu, mungkin ada sisa rasacita dirimu di larutan capuccino itu, atau mungkin karena aku terlalu dan selalu terperangah menikmati mengamati berbagai ekspresi bibir dan matamu sepanjang makan malam itu. senyum, cemberut, tertawa, memberengut, nyengir, tersipu. saat bersamamu. dulu sekali, di masa itu.

air, iya air.

unta menyimpan persediaan di punuknya, membuat ia mampu bertahan hidup di gersang padang pasir.  konon tumbuhan menyerap menyimpan di akarnya. kaktus mampu meminimalkan penguapan air dari kulitnya. proses evolusi jutaan tahun menghasilkan kemampuan bertahan diri yg luar biasa bagi semua mahluk di muka bumi. dan air, menjadi salah satu syarat mutlak untuk hadirnya dan kelangsungan kehidupan. bagi sebagian (besar) kita, biasa saja dan santai kita habiskan dan hamburkan salah satu syarat paling mendasar dan utama bagi kehidupan ini. minum, mandi, seka, cuci, siram, dan banyak lainnya. tapi memang kecenderungan manusia untuk bertindak akan dibentuk karena keterbiasaan. ketika kita terbiasa dengan yg tersedia, ada, dan melimpah. maka kita akan jadi mahluk yg abai. ketika semua yg awalnya tersedia, ada, melimpah, tiba tiba terserabut dari keseharian kita barulah kita ditampar terbangun dari abai. betapa hal hal kecil yg sebelumnya menjadi bagian dari hal yg kita abaikan, menjadi terasa penuh arti penuh makna justru ketika ia akhirnya tiada. sesuatu yg lebih terasa ada ketika tiada. dan air, satu dari banyak hal yg sering kita abaikan. mengingat fungsinya yg amat sangat menyentuh dan memenuhi kebutuhan dasar manusia, tentu saja mengherankan bila air hanya diingat sesaat kala dahaga, dan ketika hasrat dahaga telah usai pun kemudian dilupakan. kalau air adalah mahluk yg memiliki rasa, tentu tak akan pernah mau ia diperlakukan seperti itu. tak elok kita melupakan dan menjadi abai terhadap air.

namun tetap saja, air yg paling teringat rasa fungsinya adalah air di tabung kecil di ujung batang bunga itu,   tak sampai secangkir, mungkin sepersepuluh cangkir saja isinya. tabung air yg berfungsi agar dapat selama mungkin terjaga kesegarannya. dan dengan ekspresi mata yg sulit disampaikan kata ketika kamu bergumam kaget campur senang saat kuserahkan padamu; "bunga? mawar putih?". dan aku tak perlu berkata kata namun tersampaikan sudah isi hati dan dia tak menjawab dengan kata namun dengan kecupan lembut di pipi kiriku. dan bunga itu itu tetap saja kamu simpan ketika tabung kecil berisi air itu tak lagi mampu melawan kehendak alam agar mawar putih itu mengering, dan kemudian kamu selipkan di buku harianmu. dulu sekali, di masa itu.

[alternate ending 1]
air, iya air. bening. jernih. itu pula yg akhirnya tak kuasa kutahan agar tak jatuh di pipiku ketika akhirnya alam tak mau mengalah sebagaimanakuatpun aku mencoba melawan.

kamu harus pergi.




[alternate ending 2]
dan masih saja air, iya air. bening, jernih. itu pula yg jatuh di pipimu, ketika bertahun kemudian kuselipkan besi cemerlang bundar melingkar di jari manismu. itu pula yg berkali kali jatuh di pipimu, ketika sulit dipahami oleh jiwa lembutmu bagaimana aku bisa sering bertindak seberesiko itu dan membuatmu dikuasai perasaan, yg menurutku berlebihan, khawatir. 
dan masih saja air, iya air. bening, jernih. itu pula yg jatuh di pipi ibumu, ketika melepasmu agar resmi penuh menjadi bagian diriku. itu pula yg jatuh di pipi ibuku, lebih karena tak menyangka anak laki lakinya yg satu ini bersedia menambatkan diri pada satu labuhan.
dan masih saja air, iya air. bening, jernih. yg akhirnya jatuh pula di pipiku ketika buah hati kita menangis keras menghirup kuat kuat oksigen pertama dalam hidupnya yg ia hirup langsung dari hidungnya ke paru paru. dan entah berapa banyak, bila menggunakan standar cangkir, buah hati kita dibersihkan dengan air, iya air yg steril tentu saja, oleh perawat itu sebelum diserahkan padamu.

dan secangkir air pekat panas aku hirup pelan, sedikit demi sedikit, mengamatimu dengan telaten mengasuh buah hati. 

hari demi hari. hari demi hari. hari demi hari.



[alternate ending 3]

dan masih saja air, iya air. bening, jernih. itu pula yg jatuh di pipimu, ketika bertahun kemudian kuselipkan besi cemerlang bundar melingkar di jari manismu. dulu, di saat itu.
dan masih saja air, iya air. bening. jernih. itu pula yg masih saja berkali kali jatuh di pipimu, ketika sulit dipahami oleh jiwa lembutmu bagaimana aku bisa sering bertindak seberesiko itu dan membuatmu dikuasai perasaan, yg menurutku berlebihan, khawatir. 
dan masih saja air, iya air. bening, jernih. itu pula yg jatuh di pipi ibumu, ketika melepasmu agar resmi penuh menjadi bagian diriku. itu pula yg jatuh di pipi ibuku, lebih karena tak menyangka anak laki lakinya yg satu ini bersedia menambatkan diri pada satu labuhan.
dan masih saja air, iya air. bening, jernih. yg akhirnya jatuh pula di pipiku ketika buah hati kita menangis keras menghirup kuat kuat oksigen pertama dalam hidupnya yg ia hirup langsung dari hidungnya ke paru paru. dan entah berapa banyak, bila menggunakan standar cangkir, buah hati kita dibersihkan dengan air, iya air yg steril tentu saja, oleh perawat itu sebelum diserahkan padamu.

dan secangkir air pekat panas aku hirup pelan, sedikit demi sedikit, mengamatimu dengan telaten mengasuh buah hati. hari demi hari.


air, iya air. bening. jernih. itu pula yg jatuh di pipiku ketika akhirnya alam tak mau mengalah sebagaimakuatpun aku mencoba melawan. "lepaskan saja, luapkan semua sekarang. nanti tak boleh dan jangan sampai setetespun air mata menjatuhi jenazah almarhumah". demikian ucap para sahabat dan ustadz itu sambil mengusap punggung dan menepuk bahuku, menyampaikan simpati dan berupaya empati, menenangkanku yg seperti biasa sering tak bersetuju dengan takdir. selalu kupikir, melihat betapa higien dirimu dan membandingkan kebiasaan dan gaya hidupku yg cenderung menikmati resiko, seharusnya aku yg mendahului. atau mungkin memang pada dasarnya aku seorang yg egois yg tak ingin menjadi seseorang yg ditinggal terlebih dahulu. tapi memang banyak rahasia yg bukan menjadi kemampuan manusia untuk mengungkap. mungkin ini salah satunya

air, iya air. bening. jernih. yg membersihkan tubuh kita sesaat setelah lahir. dan pada akhirnya air pula yg membersihkan tubuh kita ketika berpulang. dan ustadz akhirnya mempersilakan memperbolehkanku (http://goo.gl/F8pzu) membersihkanmu, membalutmu dengan kain putih itu, dan setelah memastikan menguatkan diri tak akan jatuh air mataku padamu, kukecup dahi yg sebelumnya ratusan ribuan kali kucium. betapa seharusnya -inginnya- jutaan kali saja sebelum hari itu kukecup selalu.



pubilkasi lain, klik disini


Thursday, April 12, 2012

gugah

aku memimpikanmu. benar, mimpi sebenar benarnya mimpi yg hanya dialami mereka yg tertidur. bukan, benar benar bukan mimpi sebagaimana orang-orang menyalahpahami dengan khayal yg hanya dialami mereka yg terjaga .//. aku memimpikanmu. mimpi sebagaimana adanya mimpi. sang alambawahsadar terlepas, ia yg menjadi pengendali, ia yg menjadi pencerita .//. aku memimpikanmu. dimana harap tak hanya jadi padanan dan sinonim asa. dimana hasrat adalah ijma. dimana ejawantah adalah muara .//. aku memimpikanmu. saat fiksi adalah benih (rindu) yg menemukan lahan subur untuk tumbuh, kembang, menggeliat dan mengecambah memenuhi ruang (kalbu) .//. aku memimpikanmu. dan aku tak ingin kau tahu bahwa aku memimpikanmu. jangan sampai, dan tak usahlah, kau dan semua tahu, bahwa aku memimpikanmu. cukup aku dan diriku saja yg simpan. mengendap dan perlahan tertanam dalam jauh di alambawahsadar. jadi kau, dan kalian, diam sajalah tak perlu aku tahu bahwa kau, dan kalian, tahu. bahwa: aku memimpikannya. aku memimpikanmu. dan ya:: .//. aku memimpikanmu. dan kau disitu. dan hanya disitu aku menemuimu. dan disana kamu tersenyum. dan disini jemari saling terkait .//.

aku memimpikanmu. dan aku benci menyadari pada akhirnya akan terjaga jua.





pubilkasi lain, klik disini

Wednesday, February 15, 2012

ketika rama menepis sita

pemenang mencatatkan sejarah.
pemenang menciptakan sejarah.
maka jadilah pemenang, dan catatkanlah nama dan pencapaianmu dalam sejarah sebagaimana yg  kau kehendaki. karena memang itulah keistimewaan pemenang. dan kita semua entah kenapa memaklumi, adalah hak sang pemenang melakukan itu.

maka kemudian para pendongeng bercerita kesana kemari sebagaimana ia ingin tunjukkan ia bagian dari kaum yg menang.
maka kemudian para penyair menuliskan liris sebagaimana ia ingin tunjukkan ia bagian dari kaum yg menang.  
maka kemudian para penyanyi melantunkan syair cerita liris kesana kemari sebagaimana ia ingin tunjukkan ia bagian dari kaum yg menang.
manusia mana yg sepenuh hati rela mengikrarkan dirinya (bagian dari kaum yg) kalah?

dan rama mengalahkan rahwana, dan rama adalah pahlawan, dan rahwana adalah penjahat. dan lumrah benar sudah apa yg ia perbuat sebagai pemenang, tak ada yg membantah.
dan rama mengalahkan rahwana, dan rama sang tampan, dan rahwana sang buruk rupa. dan lumrah benar sudah dianggap sebagai bagian cerita yg semestinya.

dan dengan jumawa, para pencatat sejarah dari sisi sang pemenang, atas titah sri rama, menyampaikan; karena rama sudah menunjukkan pengorbanan besar untuk meraih kembali sita, maka ia berhak meragukan dan mempertanyakan; apakah sita masih layak untuk dirinya? apakah sita yg kulitnya dicurigai telah tersentuh laki laki lain, masih suci? setelah sekian lama berada ditangan lelaki yg dicatatkan sejarah sebagai penjarah; rahwana? 
sebagai pemenang, ia berhak mendapatkan yg terbaik.
sebagai pemenang, ia harus mendapatkan yg terbaik.
sebagai pemenang, ia berhak menentukan.
dan keputusan agar pemenang mendapatkan yg terbaik kemudian ditentukan; sita harus membuktikan dirinya suci. bukan, mungkin bukan hatinya dan atau jatidirinya. mungkin hanya tubuhnya, iya benar, daging yg dibungkus kulit itu.

dan kemudian sita harus merelakan dirinya menebus keraguan dengan membiarkan dirinya menembus api. didorong oleh keyakinan dirinya tidak bersalah, ia rela tempuh ujian itu, demi diterima kembali oleh sang pasangan yg ia yakini ia kasihi. bila setelah ia menempuh perjalanan menembus api tanpa bekas tanpa terbakar kulitnya, sucilah ia.
dan dalam dongeng kemudian disampaikan kepada kita, sita melalui ujian tersebut dan semakin bercahaya dirinya, tanpa luka tanpa bekas di kulitnya. entah di hatinya.

sejarah tidak pernah mencatat, tidak pernah mengulas, apa yg ada di benak sita ketika ia lalui ujian itu?
sebagai manusia, perempuan, terbersitkah ia berpikir bahwa rahwana sang kalah tidak pernah mempertanyakan meragukan dirinya? rahwana sang kalah bersedia menerima dirinya sebagaimana ia adanya?
sebagai manusia, perempuan, terbersitkah ia berpikir bahwa selama ia bersama rahwana sang kalah tak sekalipun rahwana menyentuhnya, terbukti setelah ia mampu melalui ujian itu, -walau pasti dengan segala bujuk dan upaya sebagaimana lelaki yg mendamba maka rahwana sang kalah ingin lakukan-,?
sebagai manusia, perempuan, terbersitkah ia berpikir bahwa mungkin rahwana sang kalah, mungkin lebih memilih penyerahan hati dan mengenyampingkan pencapaian atas daging yg terbungkus kulit yg ia miliki? walau amat indah wajah dan tubuh, memang legenda menyampaikan tentang sita.




dan memang ketika memilih hati, legenda kuno sampai fakta kontemporer, entah kenapa sang pemilih hati sering dibenamkan sejarah, kalah. 











dan aku, masih saja memilih hati.
















http://permalink.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/67817





pubilkasi lain, klik disini

Friday, February 10, 2012

INTIMIDASI

[jangan (pernah) mau di]
INTIMIDASI

karena terintimidasi. ya benar, ia merasa benar benar terintimidasi dan kemudian gigih melawan segala daya upaya, tak menyerah.

walau enggan, dan tak sertamerta, dan tak dengan segera, namun akhirnya ia akui juga pada saatnya, bahwa ia ternyata rentan terhadap jenis intimidasi yang satu ini.

sebagaimana kemudian ia sampaikan begini dengan lirih;

"...saat ini entah kenapa, seakan udara menjadi amat tipis dan sulit ditarik nafas agar paru memiliki pasokan yang cukup dan kemudian bisa didistribusikan melalui nadi ke seluruh tubuh. cukup hanya karena ia melangkah mendekati aku. tinggi hitam dengan raut galak dan mata yg tajam menusuk, ngeri.

jarak bermeter pun aku sesak sudah, namun aku masih saja melawan dengan logika walau alam bawah sadar menitahkan sebaliknya.
ketika bersenti saja sudah jarak itu, seakan oksigen menguap menghilang dari ruangan.
ketika bermili saja sudah jarak, tak ada lagi pasokan oksigen yg mengalir agar fungsi otak tetap berjalan untuk berpikir.
dan ketika nihil sudah jarak antara dua, aku tak tahu lagi apa yg terjadi, gelap karena mata tak lagi terbuka namun pada saat yg sama pelangi dan bintang bertebar ke setiap sudut berpendar..."

demikian ia pelan katakan.

dan ia sungguh tak mau dan tak sudi dan tak pernah suka, diintimidasi.
bangga diri, penguasaan diri, dan segala yg ibunya didik serta ajarkan, harus selalu dipegang teguh. jangan sampai luluh karena intimidasi.

dan sungguh ia benci padaku yg mengintimidasinya sedemikian rupa. 

sebagaimana ia kemudian lanjutkan sampaikan kepadaku dengan sengit;

"...dulu itu entah kenapa, dari jauh saja sudah terlihat menyebalkan. laki laki dengan rambut gondrong itu yg berbondu, jeans sobek di lutut, dan nampaknya lebih menikmati menghabiskan waktu di parlemen jalanan atau di alam terbuka dibanding di ruang kuliah. kalau berpapasan selalu saja ada nama panggilan baru yg menyebalkan : "hey budak leutik", "hey begang", atau pertanyaan gak mutu dan gak penting seperti "sehari makan berapa kali? tambah ya?" ih sebal. semakin aku cemberut malah semakin terlihat senang, dengan senyum dan cengiran yg mengesalkan. yg membuat lebih baik menghindar saja dan mencari jalan lain daripada berpapasan. memang dasar tukang intimidasi...!"

demikian ia lantang katakan.

masih saja kemudian ia lanjutkan,

"...yg menyebalkan, setelah menghindar, masih saja terngiang panggilan dan penampakan itu. nempel seperti permen karet yg selalu memenuhi mulutnya ketika kuliah, bahkan bertahun kemudian ketika akhirnya setelah sekian lama berpisah bisa bertemu kembali, ia masih saja mengunyah permen karet. dan di pertemuan singkat, di perbincangan sederhana, di obrolan sejenak, apa yg ia ucapkan, tampilkan, lekat mengendap dalam pikir. hal hal aneh, unik, dan berbagai pemikirannya yg mengejutkan, nempel walau banyak tak ku mengerti. lihat, dalam pikir saja ia mampu mengintimidas!" 

dan ia tahu, hanya yg lemah yg mudah terintimidasi. dan ia tidak ingin menjadi mahluk lemah. hanya satu kata, lawan!
tapi masih saja,

"...seharusnya ia tak boleh membuatku menangis, dan aku tak boleh mudah menangis. bukankah katanya tak akan pernah seseorang membuat pasangannya menangis bila memang ia menjadi separuh dirinya. ini berkali kali, aku menangis. berkali ia membuatku menangis, hanya karena ia diam, tak terdengar, tak terlihat, tak ada kabar. seharusnya aku tidak mudah terintimidasi oleh diamnya ia, seharusnya aku tidak menangis. lihat, dengan diam saja ia sudah mengintimidasi...!!"  

dan ia akhirnya mengerti, kata logika memang mengatakan tak boleh ada kata menyerah pada intimidasi, namun kata hati sering lebih punya arti.
logika melihat intimidasi sebagai sebuah kata utuh, hati menghilangkan lima huruf terakhir dari kata itu.

dan sebagaimana kaumnya secara alami memilih, ia kemudian lebih memilih hati.

.
..
....
......
............
.........................
..........................................

dan kini, hari ini, Februari 2012, beribu kilometer sudah jeda antara dua, giliranku, aku yg semakin hari semakin terintimidasi, sesak nafas, pandangan kabur, logika buntu. aku terintimidasi, karena jauh dari ia dan buah hati yg ia beri.

eungap.

**************


pubilkasi lain, klik disini

Wednesday, February 8, 2012

=Seorang manusia dan bayangannya=.

=Seorang manusia dan bayangannya=.

Bertahun yg lalu, hiduplah seseorang yg selalu saja mampu menyayangi dan memaafkan semua orang yg ia temui. Karenanya, Tuhan mengirim salah satu malaikat untuk menemuinya.

"Tuhan memintaku untuk datang dan menemuimu dan memberitahumu bahwa Ia ingin memberimu hadiah bagi atas segala kebaikanmu" ujar sang malaikat. "Mintalah sebuah berkah kemampuankekuatan . Bersediakah kamu diberi kekuatan untuk menyembuhkan?"

"Tentu saja tidak," jawabnya. "Lebih baik Ia beri saja kesembuhan bagi mereka yg harus disembuhkan"

"Bagaimana bila diberi kemampuan mengarahkan kembali mereka yg tersesat?"

"Itu tugas para malaikat sepertimu, (aku hanya manusia). Aku tidak ingin diagungagungkan atau dijadikan panutan abadi, (aku hanya manusia)."

"Baiklah, aku tidak bisa kembali tanpa memberi sebuah mukjizat. Kalaupun kamu tidak memilih, aku akan pilihkan satu untukmu."

Setelah berpikir sejenak, sang manusia kemudian berkata:

"Baiklah, aku ingin hal hal yg baik terlaksana melalui diriku, tapi tanpa siapapun menyadari, bahkan oleh diriku sendiri, sehingga aku tak terjerumus kesombongan."

Kemudian sang malaikat pun memberi kemampuan menyembuhkan, namun pada bayangan manusia tersebut, dan hanya bila surya menyinari wajahnya saja. Karenanya, kemanapun ia pergi maka yg sakit tersembuhkan, bumi menjadi subur, dan para penyedih menemukan kembali kegembiraan.

Sang manusia berkelana ke berbagai sisi bumi selama bertahun, tanpa menyadari keajaiban yg ia hasilkan karena ketika ia menghadap matari, bayangannya selalu ada di belakang dirinya. Karenanya, selama hidup dan sampai mati ia tidak menyadari mukjizat dirinya.

Tulisan diatas bukan terjemahan, namun interpretasi pribadi (dan karenanya ketepatan (akurasi) penerjemahan kata cenderung terabaikan, dan kecenderungan subyektifitas -unsur selera- tidak terhindarkan), atas tulisan FIKSI pendek karya PAULO COELHO, yg diterjemahkan ke Bahasa Inggris dari tulisan asli berbahasa Portugis (maklum, si abah Ulo orang Brazil).

Berikut versi bahasa Inggris yg dipetik dari : http://paulocoelhoblog.com/2010/11/10/the-man-and-his-shadow/

Many years ago, there lived a man who was capable of loving and forgiving everyone he came across. Because of this, God sent an angel to talk to him.

‘God asked me to come and visit you and tell you that he wishes to reward you for your goodness,’ said the angel. ‘You may have any gift you wish for. Would you like the gift of healing?’

‘Certainly not,’ said the man. ‘I would prefer God to choose those who should be healed.’

‘And what about leading sinners back to the path of Truth?’

‘That’s a job for angels like you. I don’t want to be venerated by anyone or to serve as a permanent example.’

‘Look, I can’t go back to Heaven without having given you a miracle. If you don’t choose, I’ll have to choose one for you.’

The man thought for a moment and then said:

‘All right, I would like good to be done through me, but without anyone noticing, not even me, in case I should commit the sin of vanity.’

So the angel arranged for the man’s shadow to have the power of healing, but only when the sun was shining on the man’s face. In this way, wherever he went, the sick were healed, the earth grew fertile again, and sad people rediscovered happiness.

The man traveled the Earth for many years, oblivious of the miracles he was working because when he was facing the sun, his shadow was always behind him. In this way, he was able to live and die unaware of his own holiness.