Thursday, January 6, 2022

saha?

 



tapi siapa aku?

seharusnya memang sudah berakhir. tepatnya; diakhiri. mungkin tidak sepenuhnya yg seperti pernah chairil sampaikan; sekali berarti sesudah itu mati. tapi setidaknya, ada titik diujung sana. bukan, benar bukan koma diujung sini.
tapi, siapa aku?
seharusnya memang diakhiri. selayaknya; berakhir. walau tidak mungkin sepenuhnya seperti lebah yang melepasserahsemua dirinya setelah sengatan pertama sekaligus terakhirnya. tapi setidaknya, ada penutup satu cerita. benar, bukan lagi jeda diantara dua babak atau bab semata.
tapi siapa, aku?
seharusnya, memang, selesai.
tapi, siapa, aku?

untuk relakanmu.

warna

 


memang tak sekelam jelaga. tapi aspal dan pelbagai ban yang melindasnya itu hitam adanya. warna yang alam titahkan menyapih cahaya serta menyerap panas. sebagaimana merah jingga kuning hijau biru nila ungu yang matari sepagi tadi pendarkan di sisa gerimis saat kutempuh menujumu, segera saja disapih jalan aspal itu. genangan segera mengering, embun bening di ujung daun hijau dan di kelopak putih melati pun segera merubah diri dari cair menjadi gas menyatutubuh dengan udara. sebagaimana alam kehendaki, dan alam dengan kehendaknya adalah titah. sebagaimana tak ada, atau adakah? yang bisa menghalangi.

secoklat sungai sungai bangsa kita menyandarkan sumber hidupnya, mungkin tak sepekatcoklat tanah tempat bangsa kita berpijak dan menyerap sari elan darinya. sebagaimana secoklat seragam yang kita kenakan saat masa awal remaja bertemu, lalu alam arahkan kita menempuh menjalani semua tantangan ujian cobaan itu, bersama. bersama. bersama. sama. walau merah darah kita mengalir di nadi berbeda, yg terpisah raga, putih tulang tak dibalut lapis demi lapis kerat daging yg sama, dan tak bersepuh pigmen kulit yang sama; kuning, putih tua, hitam muda, sematang sawo, semuda isi salak.
memang tak seanggun ungu, menurutmu. namun kataku biru memiliki elok dan jatmikanya tersendiri. sebagaimana sengaja kemeja itu kukenakan saat menujumu sepagi tadi. dan adalah indah tak terbantah, saat kurva elips tercipta di bibir bersepuh jambu airmu, saat melihat biruku. jingga dan merah jambu, mungkin itu yang akan muncul terlihat saat itu dilayar sensor aura, -tepatnya; itu yang kuharap muncul, itupun bila benar memang manusia bisa memunculkan aura berupa warna. akupun tak tahu dan tak yakin pasti. tapi aku tahu dan yakin pasti, menyukai menyelami semua bagian merah jambumu.
di hitam, coklat, biru, pupil matamu, di semua warna yang terpendar disana, dari semua cahaya yang diserap dan diterjemahkan lobus oksipitalmu, selalu kuingin tahu; apakah warnaku bagimu?
di putih kornea matamu, selalu ingin kuselami jauh sedalamdalam akut beningnya, adakah aku disitu?

temurindu

 


apa yg disampaikan temu pada rindu?
tunggu?
tabah?
sabar?
teguh?
esok?
lusa?
suatu waktu nanti?
apa yg ingin diraih rindu dari temu?
sekarang.
saat ini juga.
se
ka
ra
ng
..

yg satu itu

 

Bila kumiliki, yg satu itu, satu yang paling berharga dari sekian banyak yang lainnya, mungkin aku akan lebih bersabar. Bila kumiliki, satu yang itu, paling berharga satu dibanding yang lainnya. Mungkin akan kulakukan lebih perlahan. Biarlah tak apa, tak langsung berdampak, tak segera memberi hasil. Biarlah tak apa, kutempuh yang lebih panjang jalan mencapainya. Bahkan biarlah tak apa, bilapun kemudian pada akhirnya, tak tercapai juga. Karena paling tidak, telah kujalani. Karena setidaknya, telah kutempuh. Sesungguhnya karena, telah kucoba. Kucoba sungguh.
Bila kumiliki itu, satu yang paling sering kita abai akan nilainya. Tentu akan kulakukan sesederhanamungkin. Sebagaimana sesederhana jatuhnya tetes tetes mata air dari relung tebing ke bebatuan dan kemudian membentuknya perlahan, namun terdampak dalam dan dampaknya nyaris nir fana.
Satu itu yang bila kumiliki, yang sering kita tak sengaja, atau malah sengaja? Lupa akan harganya. Tentu akan kulakukan seringanmungkin. Sebagaimana seringan oksigen yg kita hiruptarik, perlahan dalam dan lalu perlahan kemudian mengalir dalam darah, namun yg seringan perlahan itu kemudian berdampak panjang.
Yang sering kita sapih, satu diantara sekian banyak yang berharga, bila saja kumiliki, berlimpah. Tentu akan kulakukan dengan semudahmungkin. Kuhamburkan keberlimpahan itu dengan memilih jalan yang sesederhanaseringansemudahmungkin. Sebagaimana berlimpahnya ombak laut selatan yang nampak ringan mudah saja mendampaki garis pasir pantai, bahkan pada karang yg kemudian perlahan kikis, nyata dampaknya dan tak akan hilang bekasnya.
Bila saja,
kumiliki.
Meraihmu,
dirintang, waktu.
Like
Comment
Share

DARSAN

 DARSAN

"𝑙𝑒𝑟𝑒𝑠 𝑝𝑖𝑠𝑎𝑛, 𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑊𝑎𝑤𝑎𝑛, 𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑑𝑎𝑦𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑎 𝑡𝑒ℎ 𝑑𝑖𝑝𝑎𝑝𝑎𝑟𝑖𝑛 𝑎𝑘𝑎𝑙, 𝑑𝑖𝑛𝑎 𝑢𝑡𝑒𝑢𝑘...𝑎𝑚𝑒ℎ 𝑡𝑖𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑖𝑘𝑖𝑟, 𝑚𝑒𝑡𝑎𝑘𝑒𝑢𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑛𝑢 𝑘𝑒𝑑𝑎ℎ𝑛𝑎, 𝑛𝑢 𝑙𝑒𝑢𝑟𝑒𝑢𝑠, 𝑠𝑎𝑟𝑒𝑛𝑔 𝑛𝑢 𝑠𝑎𝑛𝑒𝑠.... 𝑀𝑢𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑑𝑒 𝑡𝑜𝑛𝑔 ℎ𝑖𝑙𝑎𝑝, 𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒ℎ 𝑑𝑖𝑝𝑎𝑝𝑎𝑟𝑖𝑛 𝑟𝑎𝑟𝑎𝑜𝑠𝑎𝑛, 𝑟𝑎𝑠𝑎...𝑑𝑖𝑛𝑎 ℎ𝑎𝑡𝑒... 𝑚𝑢𝑔𝑖𝑎 𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑎𝑠𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑠𝑎 𝑛𝑦𝑖𝑚𝑝𝑒𝑛 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑑𝑖𝑛𝑎 𝑎𝑘𝑎𝑙..." [Betul sekali, dik Wawan, kita manusia diberi akal, di otak...agar bisa berpikir, menetapkan mana yang seharusnya, yg benar, dan yang selainnya... namun jangan lupa, kitapun diciptakan diberi rasa, dari hati... selalu letakkan sedikit sajalah rasa dalam akal(mu)..."]
Wawan tidak serta merta menerima begitu saja apa yang disampaikan Ajengan Bukhori tersebut, masih terngiang kuat di benaknya yang ia terima dari gukhunya di pesantren tempat ia belajar, yg hak adalah hak, yang batil adalah yang batil. Tak mungkin menyatu. ..Wa taktumul-ḥaqqa wa antum ta'lamụn. Semua harus ditegakkan.
Ajengan Bukhori hanya tersenyum, ia paham gejolak jiwa anak muda dihadapannya ini. Ia sadar, yg bisa ia lakukan hanya mengusap lembut rambut dan menepuk bahu anak muda yang sudah setahun ini ia kirim belajar ke pesantren yang diasuh sahabatnya, dan sekarang sedang pulang.
Wawan diam saja, namun geram. Rasa hormat dan segannya pada ajengan ini, membuat ia hanya bisa menyimpan saja geram itu. Kata kata ajengan tadi, yang walau disampaikan dengan nada lembut dan dengan penuh senyum serta pancar mata yg penuh rasa sayang, tetap terasa seperti godam yang menghantam logikanya. Sepeninggal Ajengan Bukhori yang pergi menghampiri pertemuan jamaah dewasa membicarakan perkembangan masjid sejak dipasang pompa sanyo otomatis untuk mengisi bak kolah tempat berwudlu, ia terduduk diam di depan mimbar masjid dengan kepala penuh berbagai pikiran.
“ini kan basic, mendasar banget, tajwid, dianggap sepele tapi bisa merubah arti dan makna, bahaya!” demikian salah satu yang berkecamuk
hebat
di benaknya. Dan itu pula yang ia dengan penuh semangat sampaikan ke para jamaah sebaya di masjid tempat ia berkumpul. Perubahan adalah keniscayaan yang harus terjadi, mulai dari hal kecil tapi penting; ganti muadzin!
“Masa baca Akbar, baa-nya dipanjangkan... sedangkan tidak ada tajwid yang menunjukkan itu dibaca panjang lebih dari satu harakat!” Penuh semangat Wawan menjelaskan. Jamaah sebaya yang berkumpul mengelilinginya nampak takjub pada semangatnya. “Itu merubah makna! Maha besar berubah arti jadi Bedug! Ini bahaya!”. Ia pun lanjut menjelaskan berbagai permasalahan tajwid yang ia yakin tahu. Pendengar pun manggut – manggut walau mungkin tidak menangkap sepenuhnya mengapa dan bagaimana membaca panjang suku kata bisa berbeda arti, karena bahasa keseharian mereka di sebuah desa yang dikelilingi sawah dan kolam ikan di salah satu sisi perbatasan Cianjur dengan kota lain di sebelah tenggaranya, tidak mengenal pembeda arti berdasarkan panjang pendek. Namun kaya akan pembeda berdasarkan bunyi dari vowels; dari satu kata vokal saja; e dengan topi, e dengan kuncung, eu, e... bisa muncul berbagai kata... dan entah kenapa bahasa keseharian mereka seolah tidak pernah diperkenalkan dengan konsonan f dan v... 
“Belum lagi nadanya, belum lagi suaranya, aduh koq pada tahan sih dengernya! Pantas saja tiap subuh paling hanya 2 shaf saja yang terisi!” Wawan semakin yakin bahwa yang ia sampaikan adalah kebenaran yang harus disampaikan, ditegakkan, dilaksanakan, demi melihat sorot mata dan harapan dari para jamaah sebaya yang seolah memberi afirmasi.
Kesepakatan dibuat, aksi siap dilaksanakan. Selama ia berada di desa itu sebelum kembali mondok, ia akan mengkaderisasi jamaah sebaya agar bisa menjadi muadzin yang lebih tartil, lebih sesuai dengan falsafah yang ia yakini benar. Dan, ambil alih muadzin subuh! Karena kebatilan tersebut hanya terjadi saat subuh, saat Darsan, yang tajwidnya banyak error dan suaranya entah bagaimana bentuknya itu memang hanya mengambil posisi muadzin saat subuh. Bagaimana bisa seorang yang belum selesai urusan duniawinya jadi terpilih, buktinya ia sering langsung meninggalkan masjid selepas subuh karena urusan duit! Tidak kaaffah.
Wawan yakin, dengan adzan yang lebih tertib, dan elok, sasaran yang ia tetapkan bahwa minimal 5 dari 7 shaf masjid akan terisi karena barokah dari adzan yang sesuai yang haq. Hasil tidak akan mengkhianati upaya! Demikian ia tanamkan pada para kadernya. Dalil dalil tak luput ia sampaikan selalu.
Dan terjadilah, Darsan hanya bisa termangu di pintu masjid, ketika para anak muda, 2-3 orang sudah saja berdiri di depan mic di samping mimbar. 1 Orang menjadi muadzin, 1-2 orang berdiri seolah membayangi muadzin. Darsan tidak memprotes, bukan semata karena ia tak mampu, memang ia tak mau. Apalah aku ini, sebagaimana itu yang ia sering gumamkan saat di depan cermin.
Wawan tersenyum, sampai di subuh ke-3 muadzin muda para kadernya memanggil jamaah, shaf masjid pelan tapi pasti bertambah. Masih 2 shaf, tapi nyaris shaf penuh. Tidak seperti subuh – subuh sebelumnya dimana 2 shaf namun bolong nyaris tak pernah penuh. Ia yakin, minimal di subuh ke-5 maka shaf ke-3 akan mulai terisi.
Namun harapan memang tak selalu menghampiri dan menyapa kenyataan, di subuh ke-6. 7, 8, mendekati hari ia mesti kembali ke tempat ia mondok, shaf terisi 1 saja. Dan salah dua yang setia mengisi shaf selain dirinya, adalah Darsan dan Ajengan Bukhori. Ingin ia mempertanyakan mengapa, namun entah bagaimana dan pada siapa. Bahkan para jamaah sebaya yang ia bina pun tidak lagi semua hadir.
Di subuh ke 9, selesai jamaah subuh meninggalkan masjid untuk melanjutkan ibadah utama dalam bentuk lain; bekerja sesuai masing – masing, Ajengan Bukhori menghampiri Wawan. Selesai mengelus rambut dibalik kopiah dan menepuk lembut punggung Wawan yg tersampiri sarung, digamitnya tangan Wawan menghampiri kulah tempat berwudlu.
Sebagaiman ia biasakan, dengan tenang dan nada sabar ia melamatkan ucapan – ucapan ini;
“𝘋𝘢𝘯𝘨 𝘞𝘢𝘸𝘢𝘯, 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘦𝘶𝘢𝘤𝘢𝘯 𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘺𝘰, 𝘦𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘯𝘶 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘴𝘢𝘳𝘦𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘨𝘳𝘪𝘣 𝘯𝘪𝘮𝘣𝘢 𝘤𝘢𝘪 𝘵𝘪 𝘴𝘶𝘮𝘶𝘳 𝘯𝘨𝘦𝘶𝘴𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩?”
“𝘋𝘢𝘯𝘨 𝘞𝘢𝘸𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯, 𝘶𝘱𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘰𝘢 𝘴𝘢𝘳𝘦𝘯𝘨 𝘢𝘮𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘢 𝘬𝘰𝘭𝘰𝘵 𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘰𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘶𝘯 𝘵𝘪 𝘣𝘶𝘥𝘢𝘬 𝘯𝘶 𝘴𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘶𝘦𝘶𝘳 𝘢𝘮𝘢𝘭𝘯𝘢?”
“𝘋𝘢𝘯𝘨 𝘞𝘢𝘸𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘶 𝘢𝘤𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯, 𝘶𝘱𝘢𝘮𝘪 𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘋𝘢𝘳𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯 𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘢𝘯𝘨, 𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘯𝘢, 𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘰𝘬 𝘬𝘦𝘯𝘦𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘮𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘴𝘶𝘩 𝘬𝘶 𝘯𝘪𝘯𝘪𝘯𝘢?”
[“Nak Wawan, sebelum ada (pompa) sanyo, tahukah siapa yang setiap subuh dan magrib menimba air sumur mengisi bak air untuk berwudlu?”
“Nak Wawan, tahu tentu saja, bahwa salah satu amalan yang tak putus adalah amalan dan doa dari anak yang soleh kepada orang tuanya?”
“Nak Wawan, tentu saja belum tahu, bahwa kang Darsan itu sudah ditinggal meninggal ibunya sejak bayi dan kemudian hanya diasuh oleh neneknya?”]
Ajengan Bukkhori lalu memeluk erat Wawan, lalu menggosokkan dagunya ke rambut di bagian depan kepala Wawan dengan pelan. Lalu berjalan tenang meninggalkan masjid, dan Wawan yang hanya termangu.
Matahari baru sedikit saja beringsut di ufuk, walau sedikit namun cahayanya seolah memberi harapan cerah. Dalam ketermanguannya Wawan tak pernah kuasa menghentikan benaknya untuk selalu bertanya dan berpikir. Kali ini kecerdasan otaknya, yang juga kemudian secara emosional, dipaksa maksimal mencerna dan menterjemahkan apa yang disampaikan ajengan tadi. Kata – kata, dan nada, intonasinya, tak ada penghakiman dalam semua yg disampaikan ajengan. Semua disampaikan tenang, lembut, namun kembali membuat badai berkecamuk di benaknya, kali ini, juga di dadanya.
Sejak ada pompa, Darsan menjadi muadzin, satu-satunya amalan yang mungkin ia rasa istimewa. Adzan Darsan datang dari hati, bukan adzan yang sesuai azas formal legal, namun sepenuh hati. Dan bahasa hati, seringkali lebih sampai, lebih merasuk, pada insan yang memang mau menyecapdengarnya.
Sambil menunduk mengamati lantai teras masjid, dalam hati, bahkan dalam hati, ia berbisik, pada Darsan dan terutama pada dirinya sendiri, dengan gaya nada yang ia serap dari sang ajengan dan terutama, dengan rasa; “...𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘋𝘢𝘳𝘴𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘳𝘴𝘢 𝘢𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘰𝘴 𝘯𝘺𝘢𝘳𝘪𝘰𝘴 𝘴𝘢𝘳𝘦𝘯𝘨 𝘢𝘣𝘥𝘪? 𝘉𝘢𝘥𝘦 𝘯𝘦𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘱𝘶𝘯𝘵𝘦𝘯, 𝘴𝘢𝘳𝘦𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯 𝘮𝘶𝘨𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘳𝘴𝘢, 𝘸𝘪𝘰𝘴 𝘵𝘦𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘢𝘰𝘯 𝘬𝘶 𝘢𝘣𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘱𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘯𝘶 𝘯𝘢𝘮𝘪𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘫𝘸𝘪𝘥 𝘴𝘢𝘳𝘦𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢𝘣𝘢𝘯𝘢?”
[“...kang Darsan,bersediakah meluangkan waktu denganku? Ingin kuhaturkan maaf, dan bila akang bersedia, boleh kusampaikan kabar tentang tajwid dan lainnya?”]
Selesai ia berbisik, nampak olehnya Darsan berdiri beberapa depa di depannya. Bibirnya terkatup namun matanya membahasakan senyum. Wawan pelan namun yakin berjalan menghampiri.
Ia tahu pasti, tak akan mudah, tak akan sebentar, namun kali ini ia akan menitipkan rasa, sedesirhati sepenuhrasa, pada ilmu yang ia bagi, di sisa waktu yang ia miliki. Misi kali ini, kang Darsan. Mungkin hanya tajwid yang aku ajarkan, sederhana dan sering disepelekan, tapi nampaknya aku yang justru akan banyak belajar darinya.
Ya Allah, Yang Maha Lembut Yang Maha Pengasih, Yang Maha pembolakbalik hati;
𝘱𝘢𝘱𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘬𝘶𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘳𝘦𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳.
04 Syawal 1442H.
16 Mei 2021.
00:57.
Hese sare euy bah, piraku kudu ngadapang heula siga abah!
Like
Comment
Share

abahumi





abah bilang; lelaki di rumahnya, dan di kaum yg ia pimpin, tak
diijinkan dan tak akan pernah diijinkan menangis. dan ia tunjukkan
nyata. mata tajamnya selalu membuat garis wajahnya terlihat tegas,
tak terlihat jejak tetes airmata disana.//.umi bilang, tidak dengan
kata tapi dia tunjukkan dengan sentuhan dan raut muka, terutama
sungging senyum dibibirnya; berlembutlah, pada apapun yg kau sentuh,
pada apapun yg kau perbuat.////.dan aku, titisan abah luruhan umi,
hanya ingin menjadi sebagaimana harusnya aku. mungkin tidak setegar
abah, dan jelas sulit selembut umi. tapi yakinlah, bila mampu
cukuplah aku jadi tetes peluh abah ketika ia penuh upaya dan apapun
hasil upayanya jadi nikmat kalbu. dan yakinlah, bila mampu cukuplah
aku jadi tetes air mata umi ketika ia sepenuh hati menumpahkan rasa
kasihnya.////.abah bilang, lelaki di rumahnya, dan di kumpulan puak
yg ia pimpin, tak diijinkan berkeluh kesah. dan ia tunjukkan tegas.
kata - katanya tak pernah ia sampaikan dengan berteriak namun entah
kenapa nyaris sulit terbantah, sebagaimana seharusnya sebuah
titah.//.umi bilang, dengan tutur jelas dan nada kata yg tenang,
bersungguhlah pada apa yg kau tekuni.////.dan aku, luruhan abah
titisan umi, hanya ingin menjadi sebagaimana harusnya aku. jelas aku
mungkin tak akan setegas abah, dan mungkin tidak sehalus umi. tapi
ijinkanlah aku meneteskan darah bersama abah ketika ia perjuangkan
puaknya, dan ijinkan aku cukup menjadi tetes airmata umi, agar bisa
jadi bagian dari tetes tetes yg yg melarutkan dan menghapus pedih
hatinya.////.

saha?

tapi siapa aku?

seharusnya memang sudah berakhir. tepatnya; diakhiri. mungkin tidak sepenuhnya yg seperti pernah chairil sampaikan; sekali berarti sesudah itu mati. tapi setidaknya, ada titik diujung sana. bukan, benar bukan koma diujung sini.
tapi, siapa aku?
seharusnya memang diakhiri. selayaknya; berakhir. walau tidak mungkin sepenuhnya seperti lebah yang melepasserahsemua dirinya setelah sengatan pertama sekaligus terakhirnya. tapi setidaknya, ada penutup satu cerita. benar, bukan lagi jeda diantara dua babak atau bab semata.
tapi siapa, aku?
seharusnya, memang, selesai.
tapi, siapa, aku?
tak mampu, relakanmu.