abah bilang; lelaki di rumahnya, dan di kaum yg ia pimpin, tak
diijinkan dan tak akan pernah diijinkan menangis. dan ia tunjukkan
nyata. mata tajamnya selalu membuat garis wajahnya terlihat tegas,
tak terlihat jejak tetes airmata disana.//.umi bilang, tidak dengan
kata tapi dia tunjukkan dengan sentuhan dan raut muka, terutama
sungging senyum dibibirnya; berlembutlah, pada apapun yg kau sentuh,
pada apapun yg kau perbuat.////.dan aku, titisan abah luruhan umi,
hanya ingin menjadi sebagaimana harusnya aku. mungkin tidak setegar
abah, dan jelas sulit selembut umi. tapi yakinlah, bila mampu
cukuplah aku jadi tetes peluh abah ketika ia penuh upaya dan apapun
hasil upayanya jadi nikmat kalbu. dan yakinlah, bila mampu cukuplah
aku jadi tetes air mata umi ketika ia sepenuh hati menumpahkan rasa
kasihnya.////.abah bilang, lelaki di rumahnya, dan di kumpulan puak
yg ia pimpin, tak diijinkan berkeluh kesah. dan ia tunjukkan tegas.
kata - katanya tak pernah ia sampaikan dengan berteriak namun entah
kenapa nyaris sulit terbantah, sebagaimana seharusnya sebuah
titah.//.umi bilang, dengan tutur jelas dan nada kata yg tenang,
bersungguhlah pada apa yg kau tekuni.////.dan aku, luruhan abah
titisan umi, hanya ingin menjadi sebagaimana harusnya aku. jelas aku
mungkin tak akan setegas abah, dan mungkin tidak sehalus umi. tapi
ijinkanlah aku meneteskan darah bersama abah ketika ia perjuangkan
puaknya, dan ijinkan aku cukup menjadi tetes airmata umi, agar bisa
jadi bagian dari tetes tetes yg yg melarutkan dan menghapus pedih
hatinya.////.