Friday, May 9, 2014

Sisi Jendela

apa yg begitu istimewa dari jendela?

apa yg membuat kita, manusia, sebegitu gemar menempatkan jendela nyaris di setiap ruang yg kita buat? sekedar mengalirkan udara beserta segala yg dibawanya? membiarkan cahaya masuk? berbagi matahari? atau karena tak seperti pintu, tak perlu terlalu lebar kita jeda ruang yg kita buat hanya agar bisa melihat apa yg ada di luar ruang yg kita tempati. atau sebaliknya, ingin kita biarkan yg diluar sana bisa melihat dan mengetahui kita ada di ruang dimana kita hadir?

ada memang yg berpendapat, seberapa terbuka seseorang bisa dilihat dari jendela rumahnya. rumah, ruang-tempat dimana seharusnya hati berada.

ah sudahlah,
yg jelas bagiku jendela memang istimewa.

ketika petugas layanan cantik itu bertanya dimana pilihan kursi untukku menempuh perjalanan dengan gerbong meniti rel, lorong atau jendela? jendela adalah jawabnya. dia tak pernah bertanya mengapa, aku pun tak berminat menjelaskan. tapi baiklah biar kuceritakan. sejak awal derak roda yg mengintimi rel terdengar, dan perlahan gerbong akhirnya menyerah membiarkan tubuhnya terseret lokomotif yg penuh gairah bergerak, maka segera pandangan aku alihkan ke luar jendela. tak mungkin berharap ia yg mendapat kursi sebelahku tak mengajak bicara, karena salah dua anugerah yg didapat manusia adalah saling berbicara satu sama lain dan mengenal satu sama lain. juga tak mungkin rasanya membiarkan buku atau bentuk bacaan apapun yg biasanya menemani hanya didiamkan tak termanfaatkan. namun tentu tidak salah bila setidaknya berharap ada waktu yg cukup bagiku untuk menjadi pemirsa dari apa yg ditampilkan di jendela. dan memang itu yg pasti kulakukan. memirsa.
pelan meninggalkan peron kulihat beberapa tangan melambai memberi isyarat salam perpisahan pada beberapa penghuni gerbong. atau mungkin isyarat berisi harapan untuk segera bertemu kembali, entahlah. kemudian semakin meninggalkan stasiun namun masih di lingkup kota, sepanjang sisi rel nampak berbagai bentuk ruang bersekat tembok yg ditinggali berbagai macam jenis manusia, insan kota. nyaris tak satupun yg aku kenal, tapi mungkin derak elan geliat hidup dan segala pernak pernik menghidupi jalan yg sudah dan akan mereka tempuh hari demi hari, sungguh aku coba hirup dan rasakan udara yg memenuhi paru paru mereka dari balik jendela, dari sisi jendela.
semakin menjauh dari kota, mengamati perubahan vegetasi di setiap tingkat perubahan ketinggian dataran. dan kembali menyadari bahwa dari sekian banyak vegetasi khas masing-masing, maka sawah, padi, beras, tetap mendominasi vegetasi di semua tingkat ketinggian lahan. kembali memahami bahwa bangsa pecandu berat nasi di tingkat paling akut ini justru didominasi kaum yg paling jarang kita ekspresikan dengan nada bangga: para petani, penggumul sawah. dan aku hanya bisa berbisik pelan, maafkan kami yg hanya bisa memujimu dalam lisan tulisan namun miskin tindakan dalam menghargaimu.
saat hujan turun, menjadi salah satu momen terbaik yg ditampilkan jendela sepanjang perjalanan. ratusan, ribuan, tetes air berebut ingin menyentuhku namun tertahan jendela. ada yg kukuh tinggal disitu mempertahankan diri di licinnya kaca, terus melawan namun kemudian akhirnya tak kuasa melawan angin sehingga terseret ke arah berlawanan dari laju kendaraan dan meninggalkan garis air tipis panjang sebagai jejak perlawanannya. seperti sisyphus di mitos yunani, tahu ia melakukan hal yg akan kalah, namun tetap ia lakukan, dan malah ia ulangi terus menerus, melawan dan tidak bersetuju dengan takdir. tiba - tiba aku teringat seseorang yg seperti itu, dan kulihat orang itu di saat tertentu ketika jendela memantulkan cahaya menjadi cermin.
bicara tentang takdir, mungkin menjadi takdir rel untuk selalu bertemu namun nyaris tak pernah bisa menyatu dengan yg satu ini : jalanan aspal, atau beton. mereka hanya bisa saling bersimpangan. terkadang sekedar bersisian. sepanjang jarak antara kota berlabel bunga dengan kota berlabel ibukota dan kota lainnya, nampaknya lebih sering rel yg harus menahan cemburu melihat landasan beton dan jalan jembatan beton kukuh tinggi nan cantik jumawa menasbihkan diri di beberapa kesempatan mereka bersisian. seolah mereka dari kasta yg berbeda. dan entah kenapa kita cenderung membiarkan saja untuk percaya pada pandangan dan kepercayaan semu bahwa kasta adalah tembok tebal yg tak terlewati-tak tertembus. lupa bahwa rel adalah salah satu bentuk ciptaan yg hanya sekedar berbeda, unik. tak ingin ingat bahwa beton, jembatan, adalah juga bentuk ciptaan dengan keunikan tersendiri lainnya. mungkin suatu saat nanti, atau mungkin memang sudah, (para) insinyur kehidupan yg mampu dan tangguh merubah takdir dengan memadularaskan dua bentuk unik tersebut. there's no fate but what we make for ourselves, sebagaimana disampaikan ibunda john connor di film terminator entah sekuel keberapa yg ditampilkan di layar LCD diujung gerbong untuk memanjakan pengisi gerbong. tapi sudahlah, tak perlu berkerut kening memikirkan semua itu. toh itu hanya pendapat dan rasa yg timbul ketika memirsa jendela.

ketika petugas layanan bandara itu bertanya dimana pilihan kursi untuk menempuh perjalanan dengan kendaraan yg menentang angin meniti awan, lorong atau jendela? jendela adalah jawabnya. dia tak pernah bertanya mengapa, aku pun tak berminat menjelaskan. tapi baiklah biar kuceritakan. sejak awal setelah mereka -para petugas cantik yg berupaya setulus yg mereka bisa untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang- selesai memperagakan panduan keselamatan ketika kendaraan ini masih menelusuri jalan penghubung menuju runway sebelum lepas landas, maka segera pandangan aku alihkan keluar jendela. menunggu saat - saat itu, dimana desak panas propulsi merangsang lengan sayap yg merentang lebar agar menentang angin dan membuat tubuh kendaraan ini menyerah terangkat menikmati dorongan yg menaik, menaik, dan semakin menaik, kemudian untuk sementara gravitasi terkalahkan dan membiarkannya melambung tinggi menuju awan.
bisa kulihat bagaimana perspektif bekerja. atap - atap yg menjadi penaung berbagai ruang dibawah sana semakin kecil, mengecil, dan mengecil. berbagai kendaraan mengecil, berbagai benda apapun mengecil. semut adalah salah satu perumpamaan yg sering kita gunakan ketika melihat manusia dari ketinggian. dan nampaknya memang ketika manusia di ketinggian melihat manusia lainnya di bawah sana, sering melihat dan memperlakukan seperti semut. nyaris tak pernah kita bertanya, seberapa mayoritas diantara kita yg bisa merasa bersalah ketika menindas menginjak semut? semoga masih ada, dan semakin banyak, entahlah.
ketika kendaraan ini masuk tahap glide di ketinggian tertentu yg memungkinkan ia meluncur saja tanpa terlalu dibantu semburan propulsi, sehingga menghemat bahan bakar dan memungkinkan ia menempuh jarak lebih jauh, dan pengemudinya bisa beristirahat dengan menyalakan autopilot, maka itulah saat dimana biasanya awan di bawah atau sekitar jendelaku. kemudian aku bersenandung pelan lagu masa kecil, berharap ia yg mendapatkkan kursi di sebelahku tak mendengar dan tak terganggu.

"kulihat awan. seputih kapas. arak berarak, di langit luas. andai kudapat, kesana terbang. akan kuraih, kubawa pulang."

dan saat ini aku kesana terbang, ke awan! dan tetap saja ia tak teraih, tak bisa kubawa pulang. memang lucu ketika kita mampu terbang semakin tinggi dan berusaha sedaya upaya semakin tinggi, tetap saja ada yg tak bisa kita (paksakan) raih.
kunang - kunang, itulah perumpaanku bagi yg terlihat dibawah sana saat kendaraan ini menurun dan sebelum kendaraan ini merelakan mengakhiri perlawanannya pada satu keniscayaan alam bumi yg tak terkalahkan: gravitasi, diwaktu perjalanan saat matahari tak lagi bertugas. kunang - kunang berderet berbaris panjang, nyaris selalu kulihat ketika kendaraan ini melintas diatas ibukota, melintas diatas jalanan ibukota. kunang - kunang itu bergerak pelan sekali dan terlihat saling sikut tak sabar dan tak rela berbagi ruang dengan kunang - kunang lainnya. macet berat, khas ibukota sejak lama. itu kesimpulanku bila melihat kunang - kunang berderet panjang seperti itu. tapi kesanalah aku sering menuju, sebagai akhir perjalanan atau sebagai tempat melintas sejenak. dan memang lebih sering kita tak memiliki pilihan selain menguatkan diri menempuh keruwetan dan kepadatan sebelum kita tiba dimana kita menuju. namun bukankah salah satu anugerah terbaik yg dimiliki manusia adalah kemampuannya memilah dan memilih? memang. tapi ya itu tadi, sering kita tak memiliki pilihan selain menguatkan diri untuk menempuh. sudahlah, tak perlu berkerut kening memikirkan semua itu. toh itu hanya pendapat dan rasa yg timbul ketika memirsa jendela.

ketika petugas layanan kendaraan ulang alik antar kota yg cantik itu bertanya dimana pilihan kursi untuk menempuh perjalanan dengan kendaraan roda empat berkapasitas delapan atau sembilan penumpang saja -lebih besar dari kendaraan keluarga namun lebih kecil dari bis-, kursi nomor berapa sebelah mana? deret kedua belakang supir disisi jendela adalah jawabnya. dia tak pernah bertanya mengapa, aku pun tak berminat menjelaskan. tapi baiklah biar kuceritakan. sejak awal segera pandangan aku alihkan ke luar jendela. menikmati saat - saat roda bergerak berputar menggumuli aspal, tubuh kendaraan yg tersangga membiarkan dirinya hanyut terbawa arus deru gerak. ketika ada kesempatan ia memacu cepat maka memacu cepatlah ia. namun ketika memang saatnya ia melambat, maka melambatlah ia.
sepanjang jarak antara kota berlabel bunga dengan kota berlabel ibukota atau sebaliknya, menelusuri jalur jalan berbayar lebih dari seratus ribu meter. mengikuti jalur yg membelah bukit, melintasi jembatan mengatasi ngarai, mirip namun tak persis sama dengan menempuh perjalanan dengan gerbong meniti rel. satu hal yg paling membedakan adalah; ruang gerak. dengan kendaraan ini, terutama mendekati dan di simpul - simpul jalan kota, seakan ruang adalah sesuatu yg amat berharga dan tidak layak untuk dibagi dengan orang lain. lupa, bahwa jauh lebih sering kita bisa memiliki ruang gerak yg leluasa dan cukup nyaman justru bila kita bersedia memberi ruang bagi yg lainnya. dan itu tak terlihat, terutama di sebuah kota yg dibebani label sebagai ibukota. waktu tempuh adalah salah satu hal paling subyektif nan tak teramalkan. dua hal yg saling terkait, ruang dan waktu. dan dua - duanya adalah hal yg memang amat berharga, namun tidak berarti menjadi sesuatu yg amat sakral dan tak rela untuk saling berbagi. memang, dari sekian banyak sumberdaya yg dianugerahkan padaku, waktu adalah satu yg entah kenapa kurasa tak banyak akan kumiliki, tak sebanyak insan lain, tak sepanjang insan lain. namun tak ragu akan kubagi ruang dan waktu bila diperlukan. termanfaatkan, saat ini, waktu kini, masa sekarang. bukan masa lalu. tapi sudahlah, tak perlu berkerut kening memikirkan semua itu. toh itu hanya pendapat dan rasa yg timbul ketika memirsa jendela.

ketika ia yg cantik dan bertugas menerima para tamu di meja penerima di gedung berisi banyak ruang bersekat sekat itu bertanya, dimana dan bagaimana pilihan ruang bersekat untukku menghabiskan malam, smoking or non smoking? dengan wifi? superior, deluxe, suite? selalu dengan tersenyum aku jawab, yg manapun tak mengapa. terpenting yg ada jendelanya menghadap keluar. pantai atau gunung atau pandangan kota atau apapun, tak mengapa. yg penting ada jendela yg tak terhalang tembok. dan setelah menghabiskan hari di perjalanan, membebaskan bahu dari beban ransel sepanjang hari kerja, menyimpan berbagai pernak pernik rutinitas pada tempatnya, maka segera aku menuju sisi jendela. duduk bila ada kursi, berdiri saja bersandar bila tak tersedia kursi. menyeduh sari dedaunan di secangkir air bening panas yg kemudian mengeruh coklat pudar. atau menyeduh remukan bebijian di air bening panas yg kemudian mengeruh hitam pekat. dan sungguh hujan adalah teman yg khas dan unik bagi secangkir air panas yg beningnya menyerah melawan pekat. menangkupkan tangan di tebing cangkir ketika dingin pengatur suhu ruangan bersekutu dengan udara terdampak hujan. dan sendiri aku menatap hujan ke luar dari sisi jendela. mengamati orang - orang berlarian menghindar hunjaman jutaan tetes air seolah tetes - tetes itu virus atau jarum yg akan menyakiti. padahal lebih sering aku ingin melepas anak kecil yg terpenjara dalam tubuh ini untuk berlari keluar sana dan berkawan bercengkrama dengan jutaan tetes itu. duduk sendiri dengan secangkir, mencoba menghayati indera pendengaran untuk mendapatkan suara penyapu kaca menepis air yg mencoba kukuh bertahan melawan di jendela kaca depan kendaraan - kendaraan yg berlalu lalang di luar sana. duduk sendiri sambil menyeruput pelan dari tebing cangkir, mencoba menghayati indera penciuman untuk mendapatkan aroma tanah yg dilimpas jutaan tetes, dan daun daun yg menari dilenggokkan tetes tetes hujan itu. sendiri, seperti malam ini.

ah sudahlah,
yg jelas bagiku jendela memang istimewa.
karena di setiap jendela yg aku okupansi sisinya, terutama saat/sambil menatap hujan, selalu kubiarkan atau sengaja kutiup embun agar menguapi jendela kaca, hanya agar bisa kugambarkan dengan jariku setiap karakter huruf yg mengeja sebuah nama. milikmu.

namamu.

karena kau isyaratkan tak lagi bisa kita hadirkan satu alasan rasional bagi kita untuk bertatap muka, saling memandang dan menggali kedalaman lewat mata, sang jendela jiwa. satu harap saja, semoga bila suatu saat satu kali saja alam menghadirkan-mengijinkan-menempatkan kau duduk di sisi jendela yg sama, semoga, entah bagaimana kau rasakan aku pernah hadir disitu.

disitu. 
disitu.





disini.



[5 Mei 2014 tengah malam, dibawah pengaruh dua zat kimia dengan efek bertolak belakang : kopi dan obat batuk]

Thursday, April 3, 2014

poetic cry

Ternyata aku salah. Untuk menganggap atau tepatnya berharap bahwa perempuan itu anggun, lembut, gak kolokan, dan berbagai sifat indah lainnya sebagaimana konon memang perempuan diciptakan indah. Memang, di usiaku yg baru menginjak belasan pasti tidak dianggap sebagai laki-laki yg layak berpendapat -apalagi menghakimi- tentang perempuan. Apalagi nyaris tidak ada jejak perempuan selama jelajah hidupku yg masih singkat ini, kecuali dua: ibu, dan kakakku.

Dan siang ini, anggapan dan harapan akan keindahan itu runtuh.

Perempuan yg kebetulan saja lahir lebih dulu dari aku itu, tiba tiba masuk rumah dan tidak menghiraukan bahwa pintu juga benda yg bisa rusak bila digebrak begitu. Tidak ada garis anggun di garis wajahnya, lenyap. Kusut sekusut seragam putih abu - abu yg ia kenakan. Tiba - tiba ia renggut gelas di tanganku dan ia habiskan tandas sekejap air yg tadinya untuk membasahi tenggorokanku sendiri yg juga lelah dan belum sempat mengganti seragam putih biru. Ekpresi wajah protesku ia balas dengan membelalakkan mata, "apa!?" Sambil melotot, hiii. Kemudian dilemparnya tas baduy yg jadi ciri khasnya itu, sehingga isinya mencelat berserak.

"...kamu kenapa nak? Koq berangasan begitu?" Ibu muncul dari kamar dengan muka kaget, namun meneduhkan sebagaimana khasnya.

"...aku sebel bu, sebeeeeeel!!" Si berangasanpelototserem itu menjawab. Aku akhirnya memilih melipir, duduk menjauh namun penasaran tak meninggalkan ruangan.

"Iya lah, pasti lagi sebel, keliatan koq gak ada yg lagi seneng mukanya sejelek teteh" aku memberanikan diri terlibat.

"Apa kamu?! Ikut2an aja!" Selahnya sambil mencoba meraih benda apa saja yg mencelat berserakan tadi untuk dilemparkan padaku.

"Eh sudah! Sana kamu ganti baju, teteh kamu juga ganti baju sana!" ibu menyuruhku dan si jutek itu.

Aku masuk kamarku, si judes masuk ke kamarnya sendiri. Ibu mengikuti dia ke kamarnya. Terdengar lamat - lamat mereka berbicara.

Ibu, "Kamu kenapa, coba ceritakan pada ibu".
SiBete, "panitia seleksi sekolah gak adil bu, dan pasti gak obyektif, menyebalkan pokoknya!"
Ibu, "memangnya ada panitia seleksi apa?"
SiKusut, "itu, kan ada lomba tulis puisi dan juga lomba baca puisi, masa teteh gak diikutkan!"
Ooh, rupanya kakakku yg memang tulisan dan puisinya sering masuk majalah dan koran itu ingin jadi wakil sekolahnya tapi gagal, hihihi sukurin! Batinku.
Ibu, "lho ya kamu lihat dan pelajari, mungkin mereka yg diikutkan selain kamu itu memang lebih baik dari kamu"
SiBete "memang ada yg bagus bu, temen sebelah kelasku puisinya bagus sekali, tapi yg lain b banget, teteh tahu koq dan bisa ngebedain mana puisi yg layak dan tidak. Dan teteh juga punya puisi yg kayaknya lebih baik..."
"coba kamu ajak bicara guru panitia seleksi, pasti mereka bisa menjelaskan keunggulan puisi yg terpilih dibanding puisimu" ibu sambil mengusap-usap punggungnya.
SiJudes, "eeeh, ehmmm, sebenarnya...aduh"
Ibu, "lho kenapa? Kamu daftarkan puisimu juga kan jadi mereka bisa lihat, baca, dan nilai?"
SiJutek "eeeeh, anu bu, teteh gak masukin daftar...." Kuintip dari pintu mukanya bersemu merah.
Ibu, "euleuh euleuh, terus kenapa kamu protes? Gak kamu masukin artinya kan kamu gak minat ikutan"
SiBingung, "..bukannya gak mau ikutan, tapi kan mereka tahu teteh punya banyak puisi yg udah dimuat di majalah-majalah, kan gak usah daftar juga mereka harusnya tau"
Ibu, "....duh naaak, ibu selalu berusaha memberi contoh rendah hati, kenapa teteh jadi tinggi hati begini? Kamu tidak daftar ya artinya kamu menyatakan tidak ingin ikut"
mukanya makin memerah."Teteh, puisi itu selayaknya lahir dan hadir dari hati. Dan kerendahan hati adalah hasil dari kehalusan hati yg sering melahirkan puisi, Untuk seseorang yg sering menulis puisi, apalagi kamu perempuan, ibu tidak perlu mengingatkan lagi itu padamu."
SiJutek mukanya sekarang menunduk.
Ibu, "pendaftaran sudah ditutup?"
SiMalu dengan muka masih memerah "...yg tulis puisi sudah tutup bu, kalo yg lomba baca puisi sih masih dibuka"
Ibu, "ya sudah, terima salahmu sendiri, jangan mengeluh, hadapi saja" tegas. "Sekarang, ibu minta kamu daftar yg lomba baca puisi"
SiGalau, "tapi...teteh kan suaranya jelek dan sukanya nulis aja, bukan membacakan mendeklamasikan..."

Ibu keluar kamar dan dia mengikuti, ibu menunjuk ke isi tas yg berserakan di lantai, si teteh duduk bersimpuh memunguti dan memasukkan ke tas.

"Kamu anak ayahmu, dan diantara semua orang di dunia, ayahmulah pasti yg yakin kamu bisa jadi pembaca puisi yg lebih dari sekedar bagus"

"Ayah bu? Kenapa ibu bilang ayah yakin?"

Ibu menarik nafas panjang dan dalam...

"Saat kamu lahir, dan tangismu memenuhi ruangan, selepas membisikkan adzan di telingamu, ayahmu menghampiri ibu, ia berkata pada ibu dengan mata berkaca-kaca: ...lihat sayang, dengar sayang, tangisnya saja indah, puisi bagiku..."

Teteh, kakakku itu, terdiam, terpaku.

"Betul ayah bilang begitu? Gak bohong?"

"Ibu tidak pernah ingin, tidak akan pernah, memberi contoh berbohong pada anak-anak ibu"

Teteh, kakakku, gurat wajahnya berubah. Kurva - kurva terbentuk kembali di wajahnya. Kurva U tercetak jelas di bibirnya, di matanya cahaya menyala.

"Aku besok akan daftar lomba baca puisi bu, malah kalo diperbolehkan aku ingin membaca puisiku sendiri, yg tentang ayah, rindu ayah!" Lalu segera ia punguti rapikan semua yg berserak tadi, bangkit dan kembali masuk ke kamarnya membuka kembali catatan kumpulan puisinya.

Kulihat ibu masih berdiri, walau sedikit tetap bisa kulihat senyum tipis di bibirnya. Lalu matanya menyanyu, semakin sayu, ia ambil satu frame photo diatas piano, diusapnya wajah yg tercetak di poto itu, lalu berbisik lirih "...lihatlah, anak-anakmu". Ada tetes bening di ujung matanya ketika ia mengucap itu sambil mengusap penuh sayang pada wajah di poto itu, ayahku, almarhum.

Aku juga anak ayahku, sebagaimana ayahku tunjukkan dahulu, telah dan akan terus kuserahkan hati sepenuhnya pada perempuan - perempuan yg saat ini mengisi jelajah hidupku, ibu, dan ya...teteh.Akan kujaga.

Ternyata aku salah telah salah sebelumnya.

Dan siang ini, anggapan dan harapan akan keindahan itu kembali tumbuh, kuat mengakar.

[Diatas KA Ciremai Express No.7103, Bandung-Cirebon 3 April 2014.]

Wednesday, March 12, 2014

ruang untukmu

. // . 
memang untukmu. takkan terlihat dinding sekeliling ruang itu. entah karena memang mampu kutiadakan semua dinding itu, atau memang bisa kutakkasatmatakan semua dinding itu, sehingga tak ada yg menghalangi pandanganmu. lepas, ke arah manapun kau mau, sejauh kau mampu dan mau. tak (lagi) ada hasratku memberi tirai, biar lepas mata menikmati semua warna dan semua nuansa
. // .
disediakan untukmu. jangan tanya seberapa luasnya, karena aku pun tak tahu. tak ingin kuhitung dan nampaknya tak lagi mampu kuhitung luasnya. kemana kau melangkah maka panjang dan lebar ruang itu akan mengikuti jejak jelajah hidupmu. merentang sepanjang nafas, sedaya upaya kubuat garis horison meluruh bila kau kehendaki
. //. 
hanya untukmu. hak menentukan bentuk dan ragam isi ruang sepenuhnya berserah pada cita dan rasa yg kau mampu terjemahkan menjadi nyata dari mimpi-mimpimu
. //. 
dihadirkan untukmu. bila (kau-/kita) rasa perlu, kupertaruhkan semua enerji dan kuasa untuk menutup semua dinding itu sehingga kau bisa menarik nafas panjang tanpa perlu menutup mata dan kembali meneguhkan diri ketika yg tampak diluar sana tak tertahankan untukmu. kusumbangkan semua daya untuk mengerutkan luas ruang dan tersedia dinding kuat mengelilingi merengkuhmu ketika pekat angkara diluar sana merongrongmu. iya aku, merengkuhmu. dan kemudian kembali peneguh diri kuat bangun di jiwamu. agar kau kembali melangkah, berlari, jauh meretas ruang
. // .
diciptakan untukmu. seselarasmungkin dengan hajathidupmu. aku? sudah sejak lama meredup luruh sepenuh hati mencoba menjadi :-kita-. tak perlu lagi ada aku. yg kuperlu tahu, kamu ada, hadir, di ruangan itu, bersamaku
. // .
dan sebagaimana nyaris di setiap ruang, pintu hadir. bila kau rasa bukan kehendakmu penuh saat dulu masuk melaluinya. pastikan dan yakinkan kali ini adalah kehendakmu penuh ketika/bila ingin kembali melaluinya dari arah berlawanan.