Saturday, June 15, 2024

u

 

pada satu temu. satu. temu. jemu tentu. menunggu. dan selalu, menunggu. menunggu, pada satu. temu. namun bukankah tentu. hal baik; indah, selalu. datang pada yg; sabar, menunggu. hanya masalah waktu. masalah, waktu. mereka bilang begitu. padahal mereka pun mungkin tidak tahu. atau malah tak mau tahu. betapa ungu membiru, atau entah biru mengungu. saat menafikan jemu. menunggu; pada satu. temu. namun satu, yg dituju. satu. entah mungkin ia tahu, tentang betapa ia, ditunggu. tanpa jemu. dan waktu, berlalu. terus saja, berlalu. tanpa temu. satu temu. itu. bahkan hanya dalam hening aku mampu berseru. terhimpit terhalang tabu. heningsunyi pekik kedau. entah mungkin telah kelu. namun walau pilu. jantung terus saja talu. pada satu tuju. satu temu. kamu.
x

Tuesday, June 4, 2024

.jendela./.matahari./.pagi.

ketika mengungkapmu, dan cahaya lepas menerabas dari setiap kisi, nafas terhela panjang.


saat mendedahmu, kupastikan tak ada pantulan cahaya dari setiap picometer sudut lekukmu lepas dari tangkapan kornea.

kala menguakmu, kubiarkan cahaya memandu saat kuyakinkan diri semua sudut semua kurva terpapar terukur terkuak tersimak.

begitu membebermu, oksigen seolah harus segera tertarik paru, seolah hati tercabar, seolah diri cemas tak tersedia memadai (untuk kita, dan hanya kita).

di detik menyibakmu, hangat menjalar perlahan pada awalnya lalu kemudian bergerak dengan percepatan eksponensial.

bila mengungkapmu, tak ada lagi yg mampu tersimpan, biar lepas terbedah semua.

waktu menyingkapmu, apalagi yg bisa kita sembunyikan? apalagi yg bisa kita simpan? biarkan, lepaskan, merdekakan, lapangkan, padukan,

satukan.

saat pagi, di sisi jendela itu.

pernah dipost disini

Saturday, May 25, 2024

APEM

 *.APEM.*


[Menarik nafas dalam, panjang, lalu berbicara ; -tidak cepat tidak yakin bisa diisebut lambat-, dalam tigaperempat bisik, sebenarnya terlalu kencang untuk disebut berbisik, namun terlalu lirih untuk disebut celoteh. Bukan pianissimo, jauh dari forte, lebih mendekati sedikit dibawah mezzo-piano. Berjeda dalam setiap koma, bersela dalam setiap titik]


"...SIlakan, hakimi saja aku. Labeli dengan apapun yang memang dirasa pantas menggambarkan aku. Kamu tentukan saja, bagaimana aku di benakmu. Bila itu membuatmu merasa jadi seorang yang lebih baik. Bila itu membuatmu lega. Tak apa, semoga jadi setitik upaya dalam jalan membuatmu saat ini lebih bahagia dibanding sekian waktu lalu sebelumnya."


[Hela nafas]

"...Silakan, bila karena aku tidak akan pernah memungkiri, bila karena mungkin aku tak tahu caranya berhenti untuk ; menjajaki, mengkaji, mendalami, mendalami, dan lebih mendalami, serta menjelajahi, dalam mencecap berbagai rasa di setiap aku melangkahjejak hidup, bila karena itu membuatmu yakin bahwa aku semenyebalkan itu dan memang layak kamu labeli apapun itu."


>bomboloni<

"...Bagaimana bisa, aku menahan diri. Saat melirik melihat tampilan saja sudah tersengat. Dengan tekstur yg terpapar apapun jadi nampak menarik; disalut manis, atau perpaduan pelbagai citra. Dan ini, iya ini... saat tiba membedah isian. Berkali kejutan menyenangkan kudapat, apapun isian yg kudapat. Ia lumer sebagaimana akupun lungkrah."


.title.

Tapi, entah kenapa, sesuatu selalu membuatku kembali. Pada yg satu itu. Selalu kuingat, terekam kuat, saat terhidang hangat. Yg satu itu.


>kalua Jeruk<

"...Sulit, menyangkal kehendak diri, untuk memenuhi rasa ingin tahu, dahaga akan rasa. Dan menyenangkan memang, tepat saat pahit asam kulit berkelindan paduan manis menyentuh dan menggelitikbangkit inderasa. "


.title.

Namun, tak selalu mengerti mengapa, sesuatu selalu membuatku kembali. Pada yg satu itu. 


>croissant<

"...Di setiap waktu -siang, sore, malam-, selalu menyenangkan menikmatimu. Namun pagi selalu menjadi saat yang terbaik. Ada sesuatu yg tak terjelaskan tentang menikmatimu di pagi hari. Ditemani kafein, disesap perlahan dengan tenang. Endorphin selalu menyapa saat ini terjadi. Ah, pagi dan dirimu..."


.title.

hanya, tak terjelaskan memang, sesuatu selalu membuatku kembali. Pada yg satu itu. Kadang mengeras di bagian tertentu namun lembut saat digigit dibagian lain. Yg satu itu.


>borondong<

"...Camellia Sinensis, dengan berbagai teman pemadan; rosehip, camomile, krisan, jiaogulan, jasmine, dan sejenisnya, selalu menjadi penguat yg tidak hanya sekedar sepadan saat menghayatimu. Legit nyenyat khas dirimu. Senja tidak sekedar waktu yg terlewat tanpa makna, saat menyesap(bersama)mu."


.title.

bagaimana lagi, begitu adanya, sesuatu selalu membuatku kembali. Pada yg satu. Kinca atau tanpa, legit tetap penuh terasa. Yg satu itu.


>mille feuille<

"...Selalu penuh debar saat mendedahmu, lapis demi lapis, creamy. Pun selalu ada rasa enggan berhenti saat mendekati detik detik menyelesaikanmu. Tak sadar sering berupaya menunda, pelan dan sedikit demi sedikit, agar terselami sampai akhir. Menyimpan yg terbaik di akhir. Dan kemudian terjadilah, saat sesal dan bahagia bekerja sama, karenanya tak terhindar rasa bingung melanda. Sesal karena tak ingin berakhir, bahagia bisa menyelesaikan(mu)."


.title.

Memang, apalagi yg bisa kukatakan, sesuatu selalu membuatku kembali. Pada yg satu. Mungkin karena ia dicipta saat, pencipta -pencinta- tersenyum penuh rasa. Yg satu itu.


>sfogliatella<

"...Saat menikmatimu, selalu mengingatkanku pada ruap tanah yg dirungkum tumpukan daun gugur saat hujan di selatan italia. Lapis demi lapis daunnya menjadi pesona tersendiri. Hangat lembut isianmu menjadi temuan istimewa saat kuungkap lapisan indahmu itu. Khas uniknya memberi kesan, tertanam kuat dan dalam.'


.title.

Entahlah, apa karena lembutnya, atau karena kurva dan teksturnya itu, yang selalu membuatku masih saja selalu ingin kembali. Pada yg satu itu. Satu itu.


>jojorong<

"...Sulit, sungguh sulit dan nyaris tak mungkin, menunda meraih menjamah merengkuh, saat dirimu terpapar padaku. Bukan berarti harus tergesa, pelan dan mengatur ritme saat menikmatimu pun bisa. Tapi memang harus segera, inisiasi pertama menggerusmu tak bisa ditunda. Biarkan manis lembut terpapar dan lepas saat pengikatmu terkuak. Setelahnya, terserah saja, biarkan alam memandu."


.title.

Katakan saja, sampaikan saja, adalah tak masuk akal bahwa setelah semua cecap itu, selalu saja aku ingin kembali. Pada yang satu itu. Iya, yang satu itu.


>gulab jamun<

'....Adalah sebuah tindak kejahatan, bila hasil cipta indah dari adonan yang dihangatkan pelan sampai suhu perlahan naik ke titik dimana cairan terkuras tuntas, dibiarkan saja hanya tertatap? Tanpa terjamah? Sedangkan ia memang tercipta memang untuk itu? Keterlaluan."


.title.

Apa katamu? Logika? Harus selalu logis? Wahai kamu, sejak kapan logika bisa selalu jalan seiring dengan hati? Iya, tidak logis memang pada yang satu itu. Sesuatu selalu membuatku ingin kembali. Satu itu.


>getuk lindri<

"...Semua warna(mu) adalah daya tarikmu. Memanggilku tanpa kuasa menghindar. Meraihmu adalah pilihanku, bukan semata karena panggilanmu. Merengkuhmu adalah panggilanku, bukan semata karena inginmu. Menjadi keputusan bersama, saat saling menyatukan diri."


>peach cobbler, ptichye moloko, nishalda, cuer, tiramisu, mochi, gemblong, wajit, churros, pie, dan semuamua yg lainnya. Namun tetap, bukan yg itu. Yang satu itu.


.title.

Kembali. Pada yg satu itu. Entah kenapa. Tak tau mengapa. 


Mungkin karena setelah cecap rasa saat semua jejaklangkah hidup itu tertempuh, sadar bahwa mungkin hanya perlu satu. Yang satu itu. 

Atau, mungkin memang semua sekedar masalah waktu, dan teristimewa sekedar masalah; hati.


Kembali, ke (.title.)mu. 


Yg satu itu.

Friday, March 17, 2023

tikai

 .:

                                                      hanya


kita tahu pasti, akan saling mematahkan. dan luka adalah hal yg sertamerta mengikuti. 


                                                      sekedar


mungkin benar adanya, dari setiap yang patah bisa saja tumbuh baru. namun jejak parut tak selalu sertamerta terbalut.


                                                      masalah


tentu tak selayaknya, nalar dibiarkan berseteru dengan hati. riak akan dan bisa (saja) tak perlu menjadi gelombang. biarkan tenang, dalam.


                                                      waktu



iya kita tahu pasti koq, patah adalah yang tak terhindarkan. namun entah mengapa abai saja akan adanya jejak parut nanti, sumarah terpapar gelombang, dari tikai hati yang masih saja mendebat nalar. 

Friday, September 16, 2022

was once

 i was once belong to days, weeks, months, years, of warmth embrace. of soothing smiles. of sweet gleaming. of tender adjoin. of soft yet fiery caress. of relief inhales. of comfort exhales. of short burst breathes. of beautiful insanity. of wonderful mistakes. of defeaning silent. of calming roaring thunder, of sacred sins, of devilious sanctity, of chilling heat, of sweet trembling, of enlightning darkness, of blinding light, of unbearable lightness, of sincere burden. of delicate retreat. of nothing, of everything.


i was once belong,






......

.....

....

..

.

to you.

Saturday, February 26, 2022

judul tidak/belum ditentukan

KALAH (atau Mengalah, atau Menyerah, judul tidak/belum ditentukan)

Ia nampak selesai. Biar kuulangi sekali lagi; nampaknya ia telah selesai. Tercapai. Terpenuhi. Namun selesai memang tak selalu dan jelas bukan; menyerah. ia nampak tak mau berhenti. Tepatnya; nampaknya ia tak ingin berhenti. Lebih spesifik lagi; ia nampak tak mau aku berhenti.


ia memang tak berucap kata, bahwa ia; selesai, tercapai, terpenuhi. Namun ia jelas berbahasa. Baik dalam bentuk bersuara nirkata, dan berbagai bahasa -yg bersuara namun kebanyakan tanpa- yg jelas kasat bagi berbagai indera. Tepatnya; jelas kasat bagi inderaku. Dan inderaku juga menangkap, ia masih tak ingin, tak mau, berhenti.


Matanya, salah satu bagian terindah yg ia tak pernah sadari miliki, pintu ke ruang jiwa yg luasnya tak pernah bosan aku arungi, yg kedalamannya tak lekang aku selami, memberi pertanda. Berbahasa; berserah namun bukan, sama sekali bukan, tidak, menyerah. "...sampai kaupun (-aku), sama (-terpenuhi)...", demikian inderaku mengurai apa yg matanya enkripsikan. 


Dan tentu saja, sebagaimana adanya aku, tak begitu saja menurut. Ego yang berkelindan insting alam bawah sadarku berkonspirasi dan kemudian mengejewantahkan dalam pelbagai geraktindak, dengan obsesi indah sederhana; agar ia; menyerah. Tak sekedar itu, agar ia berbahasa, dengan kata, verbal; menyerah.


Dan waktupun berlalu.

Dan pelbagai geraktindak pun penuh laku.

Dan entah kesekian kali inderaku menangkap mengurai enkripsi yg ia bahasakan, ia kembali; mencapai.

Dan dari ia tiada, menyerah, terucap terbahasa.


Baiklah, saat tiba waktuku, biarkan tiba. Tak ada lagi yg mampu (ku)tahan. 

Biar tak apa, 


aku yang menyerah.


(....tapi apakah aku kalah?....)

Thursday, January 6, 2022

saha?

 



tapi siapa aku?

seharusnya memang sudah berakhir. tepatnya; diakhiri. mungkin tidak sepenuhnya yg seperti pernah chairil sampaikan; sekali berarti sesudah itu mati. tapi setidaknya, ada titik diujung sana. bukan, benar bukan koma diujung sini.
tapi, siapa aku?
seharusnya memang diakhiri. selayaknya; berakhir. walau tidak mungkin sepenuhnya seperti lebah yang melepasserahsemua dirinya setelah sengatan pertama sekaligus terakhirnya. tapi setidaknya, ada penutup satu cerita. benar, bukan lagi jeda diantara dua babak atau bab semata.
tapi siapa, aku?
seharusnya, memang, selesai.
tapi, siapa, aku?

untuk relakanmu.