Thursday, January 9, 2020

blustru


"Bebek, yg dada ya! Tempe juga boleh, tahu gak usah!" Demikian ujarnya pada abang yg sedang sibuk menaklukan panasnya minyak goreng agar setiap yg ia tenggelamkan ke dalamnya dapat terpapar ke perubahan molekul yg tepat, agar terbit selera pengunyahnya nanti.
Lalu sambil menanti terhidang, ia kembali pada adiksi manusia masa kini; tenggelam, pada paparan cahaya layar sentuh mungil dihadapannya. Tenggelam dalam. Namun kemudian ia tersentak saat nada dering berlanggam mandarin berbunyi nyaring. Agak enggan, ia terima juga kemudian ditempelkan ke telinga.
"Ya napa Siong, wa lagi mau makan dulu nih! Iya lah dari siang lom sempet wa! Eh lu orang sini aja apa, deket juga! Hah? Masa sih, harga yg wa kasih gak masuk? Bo cuan lah kalo lu minta segitu, lu kali yg cuan kegedean, gak usah dijabanin kerja lah kalo cuma cuan xie xie doang! Hayah, cape deh! Ya wa gak mau ikutan ngepia, biar dia orang abisin stok aja deh gapapa barang wa keluar belakangan, rugi waktu dah bo hwat mau gimana lagi!"
Ditutupnya panggilan sambil menggeleng geleng kepala, gundah tergurat jelas pada raut wajah kekuningannya. Namun ketika matanya tersita pada yg terhidang dihadapannya, temaram sore menjelang magrib tak kuasa menutupi sumringah yg kembali terbit pada mata sempitnya. Racikan tomat, cabai, terasi, kacang, garam, gula merah, nampak amat berhasil mengikis gundah saat cabikan bebek terusap racikan kemudian terkunyah bersama nasi yg masih berasap ringan.
Tak lama, seorang bapak menghampiri. Raut keriput dan serpihan perak yg mendominasi rambutnya menegaskan sejarah yg jauh lebih panjang dalam ukuran waktu yg ia tempuh dibanding rerata kebanyakan orang. Dipanggulnya berbungkusbungkus sandal jepit yg masih rapi terbalut plastik. Baru.
Entah karena memang posturnya sudah melengkung depan atau memang ia sengaja merendahkan postur ketika tangannya mengulur panjang, menawarkan bungkus bungkus tersebut. Lelah ternampak tegas pada setiap geraknya. Ringkih karena usia atau (lebih) mungkin karena hari ini bukan hari yg mudah untuknya, berlipat bungkus sandal nampak belum terganti menjadi lembaran alat tukar.
"Apa ini pak? Wah sendal ya? Wah bapak nawarinnya lumayan tinggi juga ya buka harganya!"
Dijedanya kegiatan mengunyah agar ia bisa menyambut sang bapaklengkungdepanrambutperak.
"Bapak udah makan? Belum? Sini pak duduk dulu sini. Saya pesenin ya? Ayam? Lele? Bebek? Oh ayam ya? Sayap? Bang, tolong ayam sayap bang, pake tahu tempe lengkap, nasinya lebihin."
Ditariknya kursi di sebelahnya. Diraihnya kertas nan tipis putih dihadapannya untuk mengusap tangan yg terbalut racikan merah kecoklatan, atau coklat kemerahankah? Lalu dibolakbaliknya bungkusan berisi sendal sendal tersebut.
Sekian waktu kemudian, sayap ayam tahu tempe dengan nasi berlebih menghampiri.
"Ayo makan pak! Wa juga makan"
Sang bapak mengangguk dalam duduknya, mencoba menahan diri dengan meraup nasi perlahan. Namun lapar merupakan salah satu insting mendasar, satu yg utama dari sekian banyak hasrat mengendap di alam bawah sadar yg lebih sering menguasai dliuar kendali nalar manusia. Lahap kunyahan tak tersembunyikan. Mereka pun saling bertukar sapaan, dalam diam. Dalam bentuk kunyahan serta desahan dampak cabai.
Mungkin karena ia sebelumnya sudah memulai terlebih dahulu sebelum terjeda, juga karena porsi si bapak memang sengaja dilebihkan, ia menyelesaikan hidangan lebih dahulu. Mangkuk kaleng berisi air bening pun ia raih untuk membasuh tangan kemudian dikeringkannya dengan lembar tipis putih.
Setengah bangkit, ia membayar hidangan pada si abang, lalu ia berikan beberapa lembar ke si bapak.
+ "Ini buat dua bungkus sendal pak"
Si bapak mengibaskan tangannya. Bukan karena menolak.
- "Ambil tiga, buat bayar nasi ayam dek"
+ "Dua aja pak"
- "Gak baik dek, ini bapak jualan koq, gak minta duit"
+ "Gapapa gak usah lah pak, itu nasi ayam buat tenaga bapak jualan lagi nanti setelah ini, nah ini duit wa kasih buat kerja bapak jualan yg saya beli"
- "Oh gitu, makasih dek, ini ada kembaliannya kalo cuma ambil dua. Bang, boleh tambah air minumnya" Si bapak menyerahkan kembalian sambil menenggak habis teh pahit hangat sebelum ia sodorkan gelas minta diisi ulang ke si abang.
Ia tersenyum, diterima saja kembalian lembaran lusuh itu. Lalu ia berikan sebagian ke si abang sambil berbisik "Bikinin teh manis buat dia ya". Lalu ia selipkan sisanya dengan tambahan beberapa lembar dibawah piring makannya. Nilainya tidak kecil, namun tak bisa dibilang besar. Mungkin agar bisa ditemukan oleh pemuda kurus anak buah si abang yg bekerja merapikan dan membersihkan berbagai wadah hidangan.
Lalu ia melangkah sambil terlihat cukup repot menenteng dua bungkus kumpulan sandal. Susah payah menekan tuts layar sentuhnya untuk memanggil.
"Eh Siong, wa ke tempat lu deh sekarang, wa ada ide supaya barang wa jalan tapi lu masih bisa cuan walau gak banyak. Tungguin wa disitu, ajakin sio moi sama ci hu lu yang katanya mau ikut nyoba kerja barang barang wa. Ah lu tunggu lah sabar sikit, ni wa bawain oleh oleh yang lu bisa bagiin ke anak karyawan lu, supaya mereka kalo pigi sembayang jumat pake sendal bagus, ha! Ya nggak ya nggak! Ha!"
Dan ia pun menjauh. Menuju kompleks rumah toko di ujung jalan sana.
Dan akupun menghabiskan ikan lumpur dengan jerangan fermentasi kedelai di saat yg bersamaan. Dan si bapak masih menikmati asupan kalori yg terlihat seolah itu asupan enerji pertamanya seharian penuh ini.
Lalu ku buka dompet, menghela nafas isinya dua lembar Sultan Mahmud Badaruddin II saja. Cukup memadai sebagai alat tukar hidangan yg baru saja kuhabiskan, serta menukar jasa ojek online nanti seturun dari bis. Namun tak akan memadai untuk menukar satu bungkus sandal si bapak. Selebihnya isi dompet didominasi alat tukar elektronik. Minimalis alat tukar kartal.
Tak tercapai jua cita cita meringankan panggulan sang bapak agar dari sisa tiga bungkus menjadi dua bungkus saja, agar tersambung terus jalan yg ia akan tempuh nanti.
Dan akhirnya kaki melangkah saja menuju halte bis, sambil terngiang kata kata pramoedya ananta toer : "kasihan itu hanya perasaan orang (baik), namun tak mampu berbuat".


Nir.


04 Juli 2018.
Ditulis diatas TransJakarta, dari Olimo dan harusnya turun di al-azhar, namun bablas gak sadar sudah nyampe blok m. Kemudian menuntaskan tulisan di bangku stasiun dalam blok m.
Dan iya, saya sepakat dan tidak berniat membantah, bila ini dinyatakan sebagai fiksi.








No comments:

Post a Comment