Thursday, January 6, 2022

yg satu itu

 

Bila kumiliki, yg satu itu, satu yang paling berharga dari sekian banyak yang lainnya, mungkin aku akan lebih bersabar. Bila kumiliki, satu yang itu, paling berharga satu dibanding yang lainnya. Mungkin akan kulakukan lebih perlahan. Biarlah tak apa, tak langsung berdampak, tak segera memberi hasil. Biarlah tak apa, kutempuh yang lebih panjang jalan mencapainya. Bahkan biarlah tak apa, bilapun kemudian pada akhirnya, tak tercapai juga. Karena paling tidak, telah kujalani. Karena setidaknya, telah kutempuh. Sesungguhnya karena, telah kucoba. Kucoba sungguh.
Bila kumiliki itu, satu yang paling sering kita abai akan nilainya. Tentu akan kulakukan sesederhanamungkin. Sebagaimana sesederhana jatuhnya tetes tetes mata air dari relung tebing ke bebatuan dan kemudian membentuknya perlahan, namun terdampak dalam dan dampaknya nyaris nir fana.
Satu itu yang bila kumiliki, yang sering kita tak sengaja, atau malah sengaja? Lupa akan harganya. Tentu akan kulakukan seringanmungkin. Sebagaimana seringan oksigen yg kita hiruptarik, perlahan dalam dan lalu perlahan kemudian mengalir dalam darah, namun yg seringan perlahan itu kemudian berdampak panjang.
Yang sering kita sapih, satu diantara sekian banyak yang berharga, bila saja kumiliki, berlimpah. Tentu akan kulakukan dengan semudahmungkin. Kuhamburkan keberlimpahan itu dengan memilih jalan yang sesederhanaseringansemudahmungkin. Sebagaimana berlimpahnya ombak laut selatan yang nampak ringan mudah saja mendampaki garis pasir pantai, bahkan pada karang yg kemudian perlahan kikis, nyata dampaknya dan tak akan hilang bekasnya.
Bila saja,
kumiliki.
Meraihmu,
dirintang, waktu.
Like
Comment
Share

No comments:

Post a Comment