DARSAN
"๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐ค๐๐, ๐ข๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐ ๐ก๐โ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐ข๐ก๐๐ข๐...๐๐๐โ ๐ก๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐, ๐๐๐ก๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐ ๐๐ข ๐๐๐๐โ๐๐, ๐๐ข ๐๐๐ข๐๐๐ข๐ , ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ข ๐ ๐๐๐๐ .... ๐๐ข๐๐ ๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐ โ๐๐๐๐, ๐ข๐๐๐๐ ๐ก๐โ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐, ๐๐๐ ๐...๐๐๐๐ โ๐๐ก๐... ๐๐ข๐๐๐ ๐ข๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐ ๐๐ฆ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐..." [Betul sekali, dik Wawan, kita manusia diberi akal, di otak...agar bisa berpikir, menetapkan mana yang seharusnya, yg benar, dan yang selainnya... namun jangan lupa, kitapun diciptakan diberi rasa, dari hati... selalu letakkan sedikit sajalah rasa dalam akal(mu)..."]
Wawan tidak serta merta menerima begitu saja apa yang disampaikan Ajengan Bukhori tersebut, masih terngiang kuat di benaknya yang ia terima dari gukhunya di pesantren tempat ia belajar, yg hak adalah hak, yang batil adalah yang batil. Tak mungkin menyatu. ..Wa taktumul-แธฅaqqa wa antum ta'lamแปฅn. Semua harus ditegakkan.
Ajengan Bukhori hanya tersenyum, ia paham gejolak jiwa anak muda dihadapannya ini. Ia sadar, yg bisa ia lakukan hanya mengusap lembut rambut dan menepuk bahu anak muda yang sudah setahun ini ia kirim belajar ke pesantren yang diasuh sahabatnya, dan sekarang sedang pulang.
Wawan diam saja, namun geram. Rasa hormat dan segannya pada ajengan ini, membuat ia hanya bisa menyimpan saja geram itu. Kata kata ajengan tadi, yang walau disampaikan dengan nada lembut dan dengan penuh senyum serta pancar mata yg penuh rasa sayang, tetap terasa seperti godam yang menghantam logikanya. Sepeninggal Ajengan Bukhori yang pergi menghampiri pertemuan jamaah dewasa membicarakan perkembangan masjid sejak dipasang pompa sanyo otomatis untuk mengisi bak kolah tempat berwudlu, ia terduduk diam di depan mimbar masjid dengan kepala penuh berbagai pikiran.
“ini kan basic, mendasar banget, tajwid, dianggap sepele tapi bisa merubah arti dan makna, bahaya!” demikian salah satu yang berkecamuk
hebat
di benaknya. Dan itu pula yang ia dengan penuh semangat sampaikan ke para jamaah sebaya di masjid tempat ia berkumpul. Perubahan adalah keniscayaan yang harus terjadi, mulai dari hal kecil tapi penting; ganti muadzin!
“Masa baca Akbar, baa-nya dipanjangkan... sedangkan tidak ada tajwid yang menunjukkan itu dibaca panjang lebih dari satu harakat!” Penuh semangat Wawan menjelaskan. Jamaah sebaya yang berkumpul mengelilinginya nampak takjub pada semangatnya. “Itu merubah makna! Maha besar berubah arti jadi Bedug! Ini bahaya!”. Ia pun lanjut menjelaskan berbagai permasalahan tajwid yang ia yakin tahu. Pendengar pun manggut – manggut walau mungkin tidak menangkap sepenuhnya mengapa dan bagaimana membaca panjang suku kata bisa berbeda arti, karena bahasa keseharian mereka di sebuah desa yang dikelilingi sawah dan kolam ikan di salah satu sisi perbatasan Cianjur dengan kota lain di sebelah tenggaranya, tidak mengenal pembeda arti berdasarkan panjang pendek. Namun kaya akan pembeda berdasarkan bunyi dari vowels; dari satu kata vokal saja; e dengan topi, e dengan kuncung, eu, e... bisa muncul berbagai kata... dan entah kenapa bahasa keseharian mereka seolah tidak pernah diperkenalkan dengan konsonan f dan v...
“Belum lagi nadanya, belum lagi suaranya, aduh koq pada tahan sih dengernya! Pantas saja tiap subuh paling hanya 2 shaf saja yang terisi!” Wawan semakin yakin bahwa yang ia sampaikan adalah kebenaran yang harus disampaikan, ditegakkan, dilaksanakan, demi melihat sorot mata dan harapan dari para jamaah sebaya yang seolah memberi afirmasi.
Kesepakatan dibuat, aksi siap dilaksanakan. Selama ia berada di desa itu sebelum kembali mondok, ia akan mengkaderisasi jamaah sebaya agar bisa menjadi muadzin yang lebih tartil, lebih sesuai dengan falsafah yang ia yakini benar. Dan, ambil alih muadzin subuh! Karena kebatilan tersebut hanya terjadi saat subuh, saat Darsan, yang tajwidnya banyak error dan suaranya entah bagaimana bentuknya itu memang hanya mengambil posisi muadzin saat subuh. Bagaimana bisa seorang yang belum selesai urusan duniawinya jadi terpilih, buktinya ia sering langsung meninggalkan masjid selepas subuh karena urusan duit! Tidak kaaffah.
Wawan yakin, dengan adzan yang lebih tertib, dan elok, sasaran yang ia tetapkan bahwa minimal 5 dari 7 shaf masjid akan terisi karena barokah dari adzan yang sesuai yang haq. Hasil tidak akan mengkhianati upaya! Demikian ia tanamkan pada para kadernya. Dalil dalil tak luput ia sampaikan selalu.
Dan terjadilah, Darsan hanya bisa termangu di pintu masjid, ketika para anak muda, 2-3 orang sudah saja berdiri di depan mic di samping mimbar. 1 Orang menjadi muadzin, 1-2 orang berdiri seolah membayangi muadzin. Darsan tidak memprotes, bukan semata karena ia tak mampu, memang ia tak mau. Apalah aku ini, sebagaimana itu yang ia sering gumamkan saat di depan cermin.
Wawan tersenyum, sampai di subuh ke-3 muadzin muda para kadernya memanggil jamaah, shaf masjid pelan tapi pasti bertambah. Masih 2 shaf, tapi nyaris shaf penuh. Tidak seperti subuh – subuh sebelumnya dimana 2 shaf namun bolong nyaris tak pernah penuh. Ia yakin, minimal di subuh ke-5 maka shaf ke-3 akan mulai terisi.
Namun harapan memang tak selalu menghampiri dan menyapa kenyataan, di subuh ke-6. 7, 8, mendekati hari ia mesti kembali ke tempat ia mondok, shaf terisi 1 saja. Dan salah dua yang setia mengisi shaf selain dirinya, adalah Darsan dan Ajengan Bukhori. Ingin ia mempertanyakan mengapa, namun entah bagaimana dan pada siapa. Bahkan para jamaah sebaya yang ia bina pun tidak lagi semua hadir.
Di subuh ke 9, selesai jamaah subuh meninggalkan masjid untuk melanjutkan ibadah utama dalam bentuk lain; bekerja sesuai masing – masing, Ajengan Bukhori menghampiri Wawan. Selesai mengelus rambut dibalik kopiah dan menepuk lembut punggung Wawan yg tersampiri sarung, digamitnya tangan Wawan menghampiri kulah tempat berwudlu.
Sebagaiman ia biasakan, dengan tenang dan nada sabar ia melamatkan ucapan – ucapan ini;
“๐๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ธ๐ข๐ฏ, ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ต๐ฆ๐ถ๐ข๐ค๐ข๐ฏ ๐ข๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ฐ, ๐ฆ๐ต๐ข ๐ด๐ข๐ฉ๐ข ๐ฏ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ด๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ ๐ด๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐จ๐ณ๐ช๐ฃ ๐ฏ๐ช๐ฎ๐ฃ๐ข ๐ค๐ข๐ช ๐ต๐ช ๐ด๐ถ๐ฎ๐ถ๐ณ ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ถ๐ด๐ช๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ?”
“๐๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ธ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ต๐ฐ๐ด ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ฏ, ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฅ๐ฐ๐ข ๐ด๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ข๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ต ๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฐ๐ข๐ญ ๐ฑ๐ฆ๐จ๐ข๐ต ๐ฎ๐ถ๐ฏ ๐ต๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฏ๐ถ ๐ด๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ถ๐ฆ๐ถ๐ณ ๐ข๐ฎ๐ข๐ญ๐ฏ๐ข?”
“๐๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ธ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ถ ๐ข๐ค๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ฏ, ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ณ๐ด๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ ๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ข๐ฏ๐จ, ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฏ๐ข, ๐ต๐ช ๐ฐ๐ณ๐ฐ๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ด ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ข๐ด๐ถ๐ฉ ๐ฌ๐ถ ๐ฏ๐ช๐ฏ๐ช๐ฏ๐ข?”
[“Nak Wawan, sebelum ada (pompa) sanyo, tahukah siapa yang setiap subuh dan magrib menimba air sumur mengisi bak air untuk berwudlu?”
“Nak Wawan, tahu tentu saja, bahwa salah satu amalan yang tak putus adalah amalan dan doa dari anak yang soleh kepada orang tuanya?”
“Nak Wawan, tentu saja belum tahu, bahwa kang Darsan itu sudah ditinggal meninggal ibunya sejak bayi dan kemudian hanya diasuh oleh neneknya?”]
Ajengan Bukkhori lalu memeluk erat Wawan, lalu menggosokkan dagunya ke rambut di bagian depan kepala Wawan dengan pelan. Lalu berjalan tenang meninggalkan masjid, dan Wawan yang hanya termangu.
Matahari baru sedikit saja beringsut di ufuk, walau sedikit namun cahayanya seolah memberi harapan cerah. Dalam ketermanguannya Wawan tak pernah kuasa menghentikan benaknya untuk selalu bertanya dan berpikir. Kali ini kecerdasan otaknya, yang juga kemudian secara emosional, dipaksa maksimal mencerna dan menterjemahkan apa yang disampaikan ajengan tadi. Kata – kata, dan nada, intonasinya, tak ada penghakiman dalam semua yg disampaikan ajengan. Semua disampaikan tenang, lembut, namun kembali membuat badai berkecamuk di benaknya, kali ini, juga di dadanya.
Sejak ada pompa, Darsan menjadi muadzin, satu-satunya amalan yang mungkin ia rasa istimewa. Adzan Darsan datang dari hati, bukan adzan yang sesuai azas formal legal, namun sepenuh hati. Dan bahasa hati, seringkali lebih sampai, lebih merasuk, pada insan yang memang mau menyecapdengarnya.
Sambil menunduk mengamati lantai teras masjid, dalam hati, bahkan dalam hati, ia berbisik, pada Darsan dan terutama pada dirinya sendiri, dengan gaya nada yang ia serap dari sang ajengan dan terutama, dengan rasa; “...๐ฌ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ณ๐ด๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข ๐ข๐บ๐ข ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ฐ๐ด ๐ฏ๐บ๐ข๐ณ๐ช๐ฐ๐ด ๐ด๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ข๐ฃ๐ฅ๐ช? ๐๐ข๐ฅ๐ฆ ๐ฏ๐ฆ๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ, ๐ด๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ถ๐ฏ ๐ฎ๐ถ๐จ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข, ๐ธ๐ช๐ฐ๐ด ๐ต๐ฆ๐ถ ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ข๐ฐ๐ฏ ๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฃ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ข๐ฑ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ ๐ฏ๐ถ ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ช๐ฏ๐ข ๐ต๐ข๐ซ๐ธ๐ช๐ฅ ๐ด๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ซ๐ข๐ฃ๐ข๐ฏ๐ข?”
[“...kang Darsan,bersediakah meluangkan waktu denganku? Ingin kuhaturkan maaf, dan bila akang bersedia, boleh kusampaikan kabar tentang tajwid dan lainnya?”]
Selesai ia berbisik, nampak olehnya Darsan berdiri beberapa depa di depannya. Bibirnya terkatup namun matanya membahasakan senyum. Wawan pelan namun yakin berjalan menghampiri.
Ia tahu pasti, tak akan mudah, tak akan sebentar, namun kali ini ia akan menitipkan rasa, sedesirhati sepenuhrasa, pada ilmu yang ia bagi, di sisa waktu yang ia miliki. Misi kali ini, kang Darsan. Mungkin hanya tajwid yang aku ajarkan, sederhana dan sering disepelekan, tapi nampaknya aku yang justru akan banyak belajar darinya.
Ya Allah, Yang Maha Lembut Yang Maha Pengasih, Yang Maha pembolakbalik hati;
๐ฑ๐ข๐ฑ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ถ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ด๐ข๐ฃ๐ข๐ณ.
04 Syawal 1442H.
16 Mei 2021.
00:57.
In Memoriam abah Dudung Abdurrahman Dudung Abdurrahman II
Hese sare euy bah, piraku kudu ngadapang heula siga abah!
No comments:
Post a Comment