Beach (Sands with Footprints)
Pilihlah suatu fajar, di batas air menyentuh daratan yg menghadap timur. Atau senja, di batas daratan menyentuh air luas yg menghadap barat. Saat matari baru saja muncul menyapa, atau beberapa saat sebelum matari pergi bersembunyi. Terserah yg kamu suka, yg kamu mau. Jangan! Ayolah jangan! Jangan dulu duduk atau berbaring di miliaran, -triliunan, butir putih perak abu itu. Berjalanlah. Pelan. Berjalan. Lirih seperti menyisir titian. Biar hanya ujung jari kakimu yg direngkuh butiran, dan butiran itu membiarkan dirinya lesak ke dalam di setiap jejakmu. Yakinkan satu garis lurus bisa ditarik antara satu jejak kaki kiri ke jejak kaki kananmu berikutnya. Terus begitu sambil ayunkan lenganmu lembut pelan angkat ke atas kepala sampai jemari dari kedua tanganmu saling menyentuh dan membentuk kurva bundar, sebelum kembali kau sampirkan ke samping. Terus begitu. Hampiri lidah air yg selalu datang pergi menjamahi menjilati daratan. Jangan! Ayolah jangan! Jangan biarkan ujung kain gaunmu yg lembut jatuh itu sampai merasai asinnya deburan itu. Tak apalah sedikit saja ujung jemari kakimu basah terkena jamahan garam cair, namun segeralah menjauh berlari kecil, ringan, begitu jilatan itu mulai membasahimu. Biarkan. Terus begitu. Biarkan ia selalu penasaran kasmaran saat deburnya datang berupaya menyentuhmu lalu pergi untuk kemudian datang lagi. Setelah berkali debur itu dibiarkan sedikit saja menjamahmu, menjauhlah sedikit kemudian barulah duduk atau berbaring di hamparan butiran itu.
Biar, biarlah kamu disitu. aku disini.
Kamu di hamparan butiran itu, aku di suatu jarak tak kasat mata walau di hamparan yang sama.
tak perlu kau indahkan aku , malah mungkin niatpun kau tidak. Nihilkan aku sebagaimana itu kau rasa perlu.
Genggam remas sepenuh jemari tanganmu butiran itu, biarkan menggeragas berebut lepas diantara jari lentik milikmu. Lalu biarkan hamparan itu menerima ikhlas setiap derajat kurva tubuhmu saat kau hempaskan diri diatasnya, melesak di lembabnya sepadat sehalus selembut sekeras sebagaimana alam menitahkan pada kuarsa berseraga air. Ah butir butir beribu berpuluhribu beratusribu butir, kau saat ini menyentuh lebih banyak dari apa yg pernah dan telah sekian lama tak bisa kuraih. Ah butir terhampar luas, seandainya bisa kau rambatkan pesan selaksa jiwa pada ia yg dulu pernah berjalan bersama bertaut jemari menyusuri hamparan dari aku yg duduk di suatu jarak tak kasat mata di hamparan yang sama.
Ah wahai butir butir yg merengkuh dirimu, bersediakah saat ini kau bertukar peran denganku?
Suka!
ReplyDelete