Thursday, May 25, 2017

INTERNUSA 7.1


Beranda di Sisi Hamparan Pasir.

Kita tidak memilih beranda itu. Tepatnya, tak ada pilihan lain bagi kita selain berada di beranda itu, untuk duduk saling berhadapan. Saat itu kita tidak, tepatnya belum, berani bersisian. Saat itu kita bertukar, tepatnya silih berganti, pandang. Saat satu mendongak mencuri tatap, yg lain serta merta tertunduk. Seolah saling berupaya agar tak tergalidalam dari apa yg tertampakjeli yg dipancarkan mata. Angin senja yg seolah sengaja bergerak serta singgah melewati beranda untuk kemudian menuju pantai dan melepaskan diri ke lautan luas di salah satu ujung selatan pulau jawa bagian barat, nampaknya tak kuasa mendinginkan hangatnya pipimu yg merona merah saat akhirnya nekad tiba tiba kumenyengajatatap matamu saat kau mendongakcuritatap. "Pourquoi vous me regardez de cette façon?" Ekspresimu demikian seolah menyampaikan tanya, & dalam diam senyap senyumku seolah menyampaikan jawab "mengapa kalian perempuan selalu ingin tahu & mendengar kembali apa yg sebenarnya sudah sama sama dimengerti?"

Dan kemudian senyap kembali menjadi raja, sunyi menjadi ratu, sepi mengambil alih kuasa. Setelah tak tahan pada bunyi detak gerak jarum panjang yg terasa kencang & terdengar makin kencang di jam yg menasbihkan dirinya sebagai saksi di dinding sebalik beranda itu, aku memberanikan diri menjulurkan tangan meraih ujung jarimu, yg segera kau tarik sembunyikan di balik kain nan  panjang yg menutup kepala menyulur sampai bawah.

"Jangan!...tidak elok lakukan itu..." ah mahluk indah itu rupanya bisa bersuara! berbicara dengan bahasa yg sama denganku! Dan sukurlah, akhirnya kata katapun saling berniaga. Walau masih saja, kita seolah sama sama tak ikhlas. Kau tak rela bertanya langsung apa yg sekian lama ingin, butuh, harap, dengar terucap langsung. Sungguh ketat terjaga penguasaan dirimu, sebagaimana mungkin itu yg ditanamkan ibumu masa itu. Aku tak mampu menyampaikan langsung apa yang sedalamdalam kusimpan kurasa, tak rela karena seolah takut hilang nilai & keindahan harta bila tak lagi terpendam dalam. Rasa bangga diri ketat mengkungkungku.

Namun rupanya pantai dan laut punya sihir tersendiri, yg memusnahkan kungkungan meluluhkan bangga diri. Di beranda itu akhirnya bisik hati saling terpahami lewat binar mata dan terjawabnya ujaran "jadi ini harinya ya, hari ini kita bersama tetapkan" dengan sebuah anggukan lembut nan indah darimu.
Di sebuah beranda senja pertengahan tahun itu.

Dan kini, sekian digit ganda tahun berlalu, aku singgah lagi di beranda itu.
Tak ada angin yg mampir, jam dinding diam nirgerak. Tak hadir lagi sihir pantai & laut.
Tak ada lagi dirimu.

26 Mei 2017.
Bima 43, Gubeng - Madiun.

2 comments: