Thursday, May 3, 2018

INTERNUSA 5.

Uphill. (Wind beneath your hairs).

Mungkin tidak lagi kamu ingat. Tepatnya, tidak lagi dirasa perlu untuk mengingat. Atau sudahlah, kita sepakati saja bahwa memang kita tak pernah ke situ; ke bukit itu.

Namun sempatkanlah hadir disitu, berbelas menit sebelum corong masjid menyuarakan panggilan bagi mereka yg hendak meraih kemenangan, sebelum langit memudar dari terang. Saat itu, dari ketinggian bukit bisa kau lihat betapa kita, manusia, tak pernah sepenuhnya rela membiarkan gelap menguasai alam. Kita memang selalu mencoba menyiasati alam. Bohlam, neon, tl, petromax, lilin, obor, dan berbagai alat pengubah enerji menjadi cahaya, perlahan nyala satu persatu di kejauhan. Seolah perlahan puluhan, ratusan ribu, jutaan, kerlip kunang kunang bergumam nyala satu persatu saat sang cahaya utama mulai menyembunyikan diri di ufuk. Identik dengan apa di dalam sini yg pelan menyala lalu tak terbendung saat berdekatan denganmu.

Di bawah sana, di kota yg dilingkup bukit seperti mangkuk itu, biasanya angin semakin gegas bergerak dari ketinggian mencari tekanan di kerendahan.

Temukan satu titik tempatmu berdiri, atau duduk menjuntaikan kaki dari jok, atau kap kendaraanmu. Pokoknya temukan sajalah satu titik tempatmu memandang ke bawah sana, dari bukit itu, di atas situ.

Di atas situ, biarkan angin itu merambahi pipimu yg biasanya memerah saat dingin. Disesap hidung yg pahatan lekukannya pastilah dicipta sang mahakriya sambil tersenyum. Perlahan mengusap bibirmu yg pastilah formasinya nyaris selalu berbentuk kurva u elips memanjang. Ah bibirmu itu, yg sempat dulu... ah sudahlah.
Biarkan udara yg bergerak menyusup ke celah kain, mengisi rongga di antara lembut rambutmu, menyisir setiap lembarnya, setiap jalinan kisut ia uraikan dengan indah. Tepatnya; menjadi semakin indah dari biasanya.

Di bawah sini, biar aku memandang ke atas situ. Ah diatas situ tak perlu kamu tahu aku ada dibawah sini. Nihilkan saja aku bila kau rasa perlu. Kamupun tak perlu tahu; saat itu pastilah aku cemburu pada angin. Sangat. Sungguh.

Di atas situ, biarkan nalurimu yg memandu; apakah kau pejamkan mata dan biarkan rasa bicara saat angin bergerak melingkupmu, atau biarkan matamu -jendela jiwamu- terbuka menikmati jutaan kerlip kunang kunang dan bintang di kejauhan sana.

Biarkan saja aku dibawah sini.

07 Januari 2018.

No comments:

Post a Comment