Tuesday, May 29, 2018

Eufimisme. Implistisme.



Di titik itu, aku ingin berhenti. Namun penjelajahan justru dimulai situ, di titik itu. Awal dari sesuatu yg nampaknya tak ingin ku akhiri. Akhir dari penantian akan suatu awal.

Disitu, di titik itu.
Titik itu.
Itu.

Pusat semestamu, dimana aku membiarkan gravitasimu/ku merengkuhku/mu. Pusat semestaku, dimana jemaritakkasatmataku/mu menggenggammu/ku.

Di titik ini, aku akan berhenti. Namun penyidikan justru akan terlaksana lebih dalam, di titik ini. Tak akan berakhir sampai tersidik awalnya. Upaya ungkap awal dari sesuatu yg sebenarnya tak memiliki akhir.

Disini, di titik ini.
Titik ini.
Ini.

Pusat ruang intisariku, dimana ruangutamanya adalah intisarimu. Pusat ruang intisarimu, yang selalu lepas rela kubiarkan terisi intisariku, sepenuh yang kau mau, sebutuhlengkap hasrat alamimu.

Di titik itu, yang ini, kita biarkan alam memegang kendali. Kita serahkan intisari semesta kita untuk silih memadu lalu mencair, sejalan nafas menjadi likat memadat untuk kemudian menyublim. Diserap ruang dihirup waktu. 

Di titik itu, yang ini.
(usap ruang dada dimana labuh kalbu).

No comments:

Post a Comment