[jangan (pernah) mau di]
INTIMIDASI
karena terintimidasi. ya benar, ia merasa benar benar terintimidasi dan kemudian gigih melawan segala daya upaya, tak menyerah.
walau enggan, dan tak sertamerta, dan tak dengan segera, namun akhirnya ia akui juga pada saatnya, bahwa ia ternyata rentan terhadap jenis intimidasi yang satu ini.
sebagaimana kemudian ia sampaikan begini dengan lirih;
"...saat ini entah kenapa, seakan udara menjadi amat tipis dan sulit ditarik nafas agar paru memiliki pasokan yang cukup dan kemudian bisa didistribusikan melalui nadi ke seluruh tubuh. cukup hanya karena ia melangkah mendekati aku. tinggi hitam dengan raut galak dan mata yg tajam menusuk, ngeri.
jarak bermeter pun aku sesak sudah, namun aku masih saja melawan dengan logika walau alam bawah sadar menitahkan sebaliknya.
ketika bersenti saja sudah jarak itu, seakan oksigen menguap menghilang dari ruangan.
ketika bermili saja sudah jarak, tak ada lagi pasokan oksigen yg mengalir agar fungsi otak tetap berjalan untuk berpikir.
dan ketika nihil sudah jarak antara dua, aku tak tahu lagi apa yg terjadi, gelap karena mata tak lagi terbuka namun pada saat yg sama pelangi dan bintang bertebar ke setiap sudut berpendar..."
demikian ia pelan katakan.
dan ia sungguh tak mau dan tak sudi dan tak pernah suka, diintimidasi.
bangga diri, penguasaan diri, dan segala yg ibunya didik serta ajarkan, harus selalu dipegang teguh. jangan sampai luluh karena intimidasi.
dan sungguh ia benci padaku yg mengintimidasinya sedemikian rupa.
sebagaimana ia kemudian lanjutkan sampaikan kepadaku dengan sengit;
"...dulu itu entah kenapa, dari jauh saja sudah terlihat menyebalkan. laki laki dengan rambut gondrong itu yg berbondu, jeans sobek di lutut, dan nampaknya lebih menikmati menghabiskan waktu di parlemen jalanan atau di alam terbuka dibanding di ruang kuliah. kalau berpapasan selalu saja ada nama panggilan baru yg menyebalkan : "hey budak leutik", "hey begang", atau pertanyaan gak mutu dan gak penting seperti "sehari makan berapa kali? tambah ya?" ih sebal. semakin aku cemberut malah semakin terlihat senang, dengan senyum dan cengiran yg mengesalkan. yg membuat lebih baik menghindar saja dan mencari jalan lain daripada berpapasan. memang dasar tukang intimidasi...!"
demikian ia lantang katakan.
masih saja kemudian ia lanjutkan,
"...yg menyebalkan, setelah menghindar, masih saja terngiang panggilan dan penampakan itu. nempel seperti permen karet yg selalu memenuhi mulutnya ketika kuliah, bahkan bertahun kemudian ketika akhirnya setelah sekian lama berpisah bisa bertemu kembali, ia masih saja mengunyah permen karet. dan di pertemuan singkat, di perbincangan sederhana, di obrolan sejenak, apa yg ia ucapkan, tampilkan, lekat mengendap dalam pikir. hal hal aneh, unik, dan berbagai pemikirannya yg mengejutkan, nempel walau banyak tak ku mengerti. lihat, dalam pikir saja ia mampu mengintimidas!"
dan ia tahu, hanya yg lemah yg mudah terintimidasi. dan ia tidak ingin menjadi mahluk lemah. hanya satu kata, lawan!
tapi masih saja,
"...seharusnya ia tak boleh membuatku menangis, dan aku tak boleh mudah menangis. bukankah katanya tak akan pernah seseorang membuat pasangannya menangis bila memang ia menjadi separuh dirinya. ini berkali kali, aku menangis. berkali ia membuatku menangis, hanya karena ia diam, tak terdengar, tak terlihat, tak ada kabar. seharusnya aku tidak mudah terintimidasi oleh diamnya ia, seharusnya aku tidak menangis. lihat, dengan diam saja ia sudah mengintimidasi...!!"
dan ia akhirnya mengerti, kata logika memang mengatakan tak boleh ada kata menyerah pada intimidasi, namun kata hati sering lebih punya arti.
logika melihat intimidasi sebagai sebuah kata utuh, hati menghilangkan lima huruf terakhir dari kata itu.
dan sebagaimana kaumnya secara alami memilih, ia kemudian lebih memilih hati.
.
..
....
......
............
.........................
..........................................
dan kini, hari ini, Februari 2012, beribu kilometer sudah jeda antara dua, giliranku, aku yg semakin hari semakin terintimidasi, sesak nafas, pandangan kabur, logika buntu. aku terintimidasi, karena jauh dari ia dan buah hati yg ia beri.
Intimidasi yang menyenangkan. ketidakmampuan untuk menolak sebuah pesona.🙂
ReplyDelete