Sunday, August 5, 2012

rendezvous


sudah jarang memang, kabut turun di kota ini. sehingga nyaris saja terhapus dari ingatan tentang kabut di kota ini. tapi pagi itu kabut turun, seolah menjadi penanda dan pengingat akan sesuatu yg sekian lama sengaja terrahasia dan keinginan untuk kembali menggali sesuatu yg sekian lama upaya untuk memahaminya tersia sia.

dan pagi itu menembus kabut, kutinggalkan kaki bukit di pinggiran kota ini, memacu roda menggilas aspal yg masih basah sisa gerimis subuh tadi. mengibas embun di dedaunan tetumbuhan pinggir jalan untuk dipaksa jatuh oleh pergerakan angin ketika aku memacu. ya, memacu diri menuju sebuah titik, dimana ia janjikan akan menunggu. sepanjang jarak yg kutempuh meninggalkan kaki bukit berkabut menuju titik itu, tak bisa kuperintah benak dan hati untuk berhenti berandaireka, apa yg akan kuucap? apa yg akan kutanya? apa yg akan kujawab? dan nyaris tak peduli bahwa seharusnya yg kuandaireka adalah; apa yg akan kau ucap? apa yg akan kau tanya? apa yg akan kau jawab? bagi seorang egois seperti aku, nampaknya untuk didengar lebih menjadi kebutuhan melebihi kesiapan untuk mendengar. egoisme diri memang sebenarnya tidak kita sadari sudah muncul berawal dari pikir, bahkan jauh sebelum menjadi tindakan. ah biarlah, segera kusibak dan singkirkan semua tanya itu, terutama setelah penjaja koran pagi di perempatan yg kulewati tadi nyaris saja berkenalan dengan besi dan roda yg kupacu. kuucapkan maaf sambil sekaligus menebus kompas, pikiran rakyat, republika, dan koran tempo. kemudian kupacu lagi ke titik itu, bergerak, didorong rasa tidak sabar untuk segera bertemu.

dan akhirnya kutemukan ia. duduk anggun. di kursi itu. di pinggir jendela kaca, di tengah ruangan. tidak sekedar sama seperti yg kuingat dulu, lebih dari seperti yg kubayangkan selama ini, seperti ia adanya. indah seperti biasanya, indah seperti seharusnya, indah sebagaimana adanya ia, apa adanya. semua yg melekat pada dirinya seolah memang terbuat dan dibuat dan khusus untuk dirinya. entah subyektif, entah obyektif, tapi itulah pendapatku. dan senyum yg ia kembangkan sebagai reaksi pertamanya melihatku, mengukuhkan pagi itu semakin kuat terdefinisikan sebagai; pagi yg tak akan terlupakan.

dan ketika ia julurkan tangannya, kusambut kugenggam namun tak jua kulepas sampai ia menarik sendiri jemari hangat itu. dan kemudian ia hanya tertawa kecil dengan muka bersemu merah ketika kuingatkan betapa dahulu tangan yg sama kugenggam sepanjang film yg kita tonton bersama di gedung bioskop tepat di seberang kedai kue titik tempat kita bertemu itu. "iya inget, dan dulu jemari tanganku kau genggam tarik kemudian kau cium kecil dan gosokkan ke hidungmu, aku tidak lupa". demikian ucap yg keluar dari bibir manis itu, yg sayang tak pernah berani kukecup dulu, hanya berani sampai tanganmu. dan kemudian setelah itu semua mengalir saja.

"pindah kesana yuk?" sambil menunjuk ke bagian lain kedai kue yg lebih terlindung dari pandangan. aku pun bersetuju. bersama coklat susu panas, croissant, dan teh hangat, kami pun berpindah duduk. dan kembali semua mengalir, berbagai cerita, berbagai tanya, berbagai jawab, mengalir. tak disadari saat itu aku dan kamu menjadi cair, tak ada lagi aku tak ada lagi kamu, hanya ada kita. kureguk tehmu, kau reguk coklat panasku, dan sungkan lenyap ditelan pagi yg semakin beranjak siang. dari sekian banyak coklat susu panas yg pernah kureguk sebelumnya, bisa kupastikan inilah coklat susu ternikmat yg pernah kureguk. mungkin karena ada bekas bibirmu di cangkir itu, mungkin karena ada sisa rasacita dirimu di larutan itu, atau mungkin karena aku terlalu dan selalu terperangah menikmati mengamati berbagai ekspresi bibir dan matamu sepanjang pagi itu. senyum, cemberut, tertawa, memberengut, nyengir, tersipu. saat bersamamu.

"jadi ceritakanlah sekarang, mengapa dulu tiba - tiba kamu menghilang, meninggalkanku" tiba - tiba kau menyergahku. dan akhirnya muncul juga pertanyaan dari bibir ranum itu. tanya yg sebenarnya sedayaupaya aku alihkan ke hal lain. "tanya hal yg lain sajalah, pasti ku jawab" aku coba menawar, dan ia menggelengkan kepala. "jawablah, kenapa?" duh, tanya yg dikubur sekian lama sekian dalam, namun akhirnya menyeruak ke permukaan. dan masih saja aku mencoba menawar, "mau jawaban yg menyenangkan, atau jawaban yg jujur?" dan kemudian ia menyergah "apa bedanya?" lalu kutimpali "jujur tidak selalu menyenangkan, kan? kamu tau itu?" semakin tak sabar ia kembali berkata "jawab sajalah, apapun pilihanmu!" dan aku pun menarik nafas dalam - dalam, lama dan pelan. kemudian kusampaikan pelan "sejujurnya, aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. tapi bila bisa semua diakumuluasikan dan disimpulkan dalam dua kata, maka jawabnya adalah: kebodohan, arogansi" matamu menunjukkan rasa bingung mendengar jawaban itu, yg kemudian: "maksudmu? aku tidak mengerti..." dan aku jawab "hanya ia yg bodoh bisa meninggalkan yg seindah dirimu, dan arogansi yg menyebabkan kebodohan itu. dan ya, saat itu dulu aku lebih bodoh dari aku saat ini, namun entah kenapa masih saja tersisa arogansi itu sampai hari ini". diluar dugaan, kau tersenyum. "kamu cerdas, bisa merangkai jawaban yg jujur dan tetap bisa meramu dengan menyenangkan sekaligus". dan kali ini aku kembali menghela nafas, dan mengeluarkannya dengan lebih lega. dan aku tambahkan "jadi hari ini kamu tahu sudah, terungkap sudah, tak lagi tersimpan" dan senyummu semakin saja terasa lebih manis.

dengan pelan aku sampaikan jua "tanpa aku sadari, aku banyak menulis tentangmu. sekian lama setelah aku melewati fase dimana aku sadari dulu itu lebih bodoh dan lebih arogan dibanding saat ini, aku paham bahwa hal seperti ini, rasa yg kita miliki bersama, justru menyakiti diri sendiri bila dibiarkan mengendap tersimpan. di masa masa, fase, dimana aku biarkan saja mencoba menahan tersimpan terendap, menulis menjadi salah satu cara agar tidak terlalu pahit dan pedih saat menahan rasa itu."
dan mata indahmu terkejut, "memangnya apa saja yg kamu tulis?"
aku jawab "tidak terlalu banyak juga, mungkin karena memang hal paling pribadi dan yg paling indah bagiku, tak begitu mudah diungkapkan dalam tulisan. namun ini salah satunya, karena salah satu yg paling kuingat dan paling indah terrekam dalam ingatan, adalah matamu;

bila ada waktu kita bertemu, biarkan aku lihat jauh ke dalam mata indahmu, biarkan kucari, masih adakah aku disana?
luangkan waktu temui aku, biarkan lepaskan dirimu dan lihat jauh ke dalam mata hitamku, temukan dirimu disana.

nah, semakin terungkap sudah"

dan mendengar itu, matamu berbinar... dan aku semakin terperangah, suka. amat suka. pada matamu. dan kamu jengah aku pandangi seperti itu "iiih koq ngeliatinnya seperti itu sih?" dan untuk kesekian kalinya semu merah itu bersemburat di pipimu, menjadikannya semakin indah. dan masih saja kupandangi matamu, mengirim rasa dan bunyi hati lewat mataku ke matamu.
matanya, yg selalu terlihat cantik bagiku, jendela hatinya itu, hanya bisa mengirim isyarat. bahwa memang sejak lama ia tahu itu.
matanya, yg kedalamannya selalu ingin kuselami, jendela jiwanya itu, hanya bisa mengirim pesan, memang sejak lama ia menunggu bunyi hati itu terucapkan.
matanya, yg entah mengapa sering membuatku terkesiap ketika memandangku, menunjukkan tanya, mengapa harus setelah sekian lama ukuran waktu, bunyi hati itu baru tersampaikan.
entah mengapa perempuan selalu saja ingin mendengar (kembali) sesuatu yg sebenarnya sudah ia rasa dan tahu.

dan waktu memang aneh, terasa amat pendek ketika kita merasakan sesuatu yg indah dan sebaliknya terasa amat lama ketika bersusah hati. namun satu yg pasti, waktu memang bukan padanan untuk dijadikan lawan karena kita tak akan pernah menang.
dan pagi semakin beranjak siang. dan semua yg tadi begitu cair perlahan mau tidak mau menguap. ia harus kembali menjadi ia, dan aku kembali menjadi aku, untuk sementara 'kita' kembali ditanam saja di lubuk terdalam.

dan sebelum kata pisah tidak lagi hanya sebuah kata, sebelum menjadi tindakan yg terlaksana, kutanya pelan; boleh kucium matamu? tentu saja ia tidak mengiyakan, tidak menjawab.

tapi kemudian ia memejamkan mata. dan aku menghampirinya.




*************************** // ***************************






*paragraf pertama, dan kemudian mengalir di paragraf setelahnya, terpengaruh larik milik Sapardi Djoko Damono dibawah ini:

SAJAK-SAJA EMPAT SEUNTAI
/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka....
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku.

/2/
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana -
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya.

/3/
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya -
tapi kapan kita pernah memahami laut ?
memahami api yang tak hendak surut ?

/4/
apakah yang kita dapatkan di luar kata :
taman bunga ? ruang angkasa ?
d taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan.

/5/
apa lagi yang bisa ditahan ? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan -
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan ?

/6/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang -
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang.

di tulisan ini juga di copy paste dan sedikit modifikasi beberapa paragraf dari tulisan saya berjudul 'secangkir' dan 'agar tak segera henti hujan'.




pubilkasi lain, klik disini

No comments:

Post a Comment