Gadis kecil itu dipanggil Halit,
kependekan dari Hawa alit. Karena memang perawakannya imut mungil untuk anak
kelas 3 SD, selain karena ia anak urutan akhir dalam keluarga itu.
Pembawaannya selalu ceria, dan
selalu penuh semangat menjalani hari.
Dan hari itu dengan ceria ia
masukan semua buku palajaran ke tas, bersiap menuju sekolah. Tempat ia selalu
merasa senang dan bersemangat karena bertemu dengan teman-temannya, juga selalu
mendapat hal baru dari guru - gurunya. Senyum mengembang saat ia rapikan
menyisir rambutnya yg lucu bergelombang. Hari ini aku siap! Semalam tadi sudah
aku baca dan pelajari seperti yg bu guru minta, bab 2 dan 3, tidak mudah tapi
toh bisa koq! Begitu pikirnya. Setelah mengucap salam dan mencium tangan ayah
ibunya ia pun bergerak ceria ke sekolah.
Tak sadar ia berdendang kecil
saat angkot yg ia tumpangi menuju sekolah mulai berjalan. Ah, tak sabar bertemu
teman teman!
Demikian si gadis kecil, Hawa
alit, menatap hari dan menjalani rutinitas sekolahnya.
Namun....hari itu ia mendapat
pengalaman yg sungguh tak terlupakan...
Halit merasakan telapak tangannya
dingin namun basah oleh keringat. Nafasnya tertahan. Bingung menguasai
pikirannya.
Dibacanya lagi berulang-ulang
semua soal ulangan yg ia dapat dari gurunya. Tak ada yg salah, bu guru
menyiapkan kalimat soal dengan amat baik seperti khasnya dan kebiasaannya.
Tapi...mengapa, iya...mengapa...tak ada satupun dari yg ia baca muncul dalam
soal soal pertanyaan itu. Tak ada satupun dari bab yg bu guru kemaren minta
murid murid baca! Koq bisa?
Tak ayal, angka nilai yg ia dapat
pun jatuh.
Hati dan pikirannya dipenuhi
pertanyaan, apakah bu guru salah memberi pengarahan kemarin? Ia buka lagi
catatan kemarin, betul koq bab 2 dan 3. Lalu ia pun bertanya pada Dani, temen
sekelas yg juga rajin seperti ia. Sama koq di catatannya Dani, bab 2 dan 3.
"Kenapa Halit? Koq mukamu pucat tidak secerah biasanya?" Dani
bertanya. "Ah tidak apa apa", Halit mencoba menutupi kegundahan
hatinya.
Dan hari itu ia banyak terdiam.
Ia sudah mengikuti permintaan bu guru, ia tahu ia sudah berupaya sebaik -
baiknya, namun mengapa hasilnya begini? Saat pulang di rumah, muka murungnya
tak mampu ia sembunyikan sehingga ibu bertanya : "Halit bageur, kenapa? Koq
murung begitu?"
Halit pelan menjawab "Tadi
Halit ulangan tidak bisa bu...kayaknya nilainya jelek"."Lho, ibu lihat koq kamu
belajar sendiri dan kelihatan sekali kamu yakin bisa karena sudah berusaha tadi
pagi saat pergi, kenapa Halit?" Ibu sambil mengelus rambut gelombang Halit
dengan lembut.
"Halit tidak mengerti bu,
kata bu guru bab 2 dan 3, terus lihat di catatan Dani juga betul bab 2 dan 3,
tapi koq isi soalnya beda bangeeet.., Halit juga bingung..." Ia menguatkan
menahan diri agar tak terisak karena bingungnya.
"Ya sudah, coba nanti cek
lagi catatannya yg harus dipelajari bab mana dan isinya tentang apa, buku yg
ibu beri itu sudah mengantar kakak kakakmu sampai naik kelas lho dengan nilai
terbaik...dan ibu tahu kamu lebih baik dari kakak2mu..."
Halit hanya bisa terdiam. Namun
ia tahu ia tidak ingin menyerah, nilai ulangan selanjutnya harus jauh lebih
baik untuk memperbaiki rata rata nilai yg kemarin jelek. Halit pun kembali
menjalani hari - harinya, seceria sesemangat yg ia bisa.
Namun, seminggu kemudian, ia
kembali dilanda kebingungan luar biasa saat menghadai situasi yg sama... apa yg
ia pelajari sama sekali berbeda dengan soal soal ulangannya! Koq bisa terjadi
lagi? Ia tak lagi kuasa menahan rasa sedih…
Lalu ujung matanya menangkap buku
yg dipegang oleh Dani, "Dani, ini buku pelajaran hari ini kan? Aku lihat
ya?" Dani pun memberikan bukunya. Halit terhenyak, dibukanya Bab 2 dan 3
buku milik Dani, lho koq isinya beda? "Koq sampul depan bukumu warna biru,
Halit? Bukuku warna ungu." Dani keheranan saat ia melihat buku Halit. Saat
itu juga Halit mafhum, apa yg sebenarnya terjadi. Raut cerianya lenyap,
semangatnya runtuh, tangisnya tumpah tak lagi mampu ia tahan.
bu guru pun terheran - heran
melihat hasil ulangan Halit, ia semakin heran melihat Halit menangis. Anak
seceria itu, yg selalu rajin. Ia pun memanggil Halit ke depan kelas. Tanpa
berkata - kata, Halit menyodorkan tangan memegang buku pelajaran yg ia miliki.
Bu guru tanpa bertanya pun mengerti, apa yg terjadi. Ia mencoba tersenyum,
bukan karena senang Halit bersedia apa adanya tapi lebih karena ia pun mencoba
menenangkan Halit. Ia tahu murid cerianya ini sedang perlu ditenangkan dari
gundah gulana.
"Sudah Halit, tak perlu
bersedih, ibu mengerti dan akan memberi nilai yg pantas untukmu."
Halit masih terdiam, tak mampu
mencerna sepenuhnya kata - kata ibu guru.
Masih terngiang kata - kata ibunya saat ia menerima buku itu, "Halit, ini buku yg ibu beri itu sudah mengantar kakak kakakmu sampai naik kelas lho dengan nilai terbaik...dan ibu tahu kamu lebih baik dari kakak2mu..." Bahkan di sampul dalam bukunya pun masih tertera nama kakak kakaknya tertulis disana... Ia tahu, ibunya selalu berupaya agar rumah mereka selalu terjaga dengan pangan dan sandang yg cukup dari pendapatan ayahnya. Salah satunya dengan selalu memanfaatkan melungsurkan perangkat dari kakak kakaknya agar bisa selalu terpakai.
Halit, gadis sekecil itu, sudah
mengerti semua itu. Namun kali ini ia sungguh hanya ingin agar salah satu kekuatan
dirinya pulih, kemampuannya mendapat nilai baik diantara hal lainnya, seperti
kakak - kakaknya, bahkan lebih!
Hari itu Halit pulang masih
dengan gundah gulana.
Ibunya hanya terdiam saat ia
mendengar anak bungsunya bercerita apa yg terjadi di hari itu, dan hanya
setetes air saja jatuh dari ujung matanya dari ribuan yg ia sebenarnya ia tahan
di dalam sana. Saat itu, dalam tangis sedihnya, Halit tetap menyadari bahwa ia
akan lebih cerdas menyikapi situasi, bahwa seharusnya akan ada selalu cara,
harus lebih cerdas menghadapi situasi. Ia sadari, apa tema dan isi bab dan
tidak hanya angka penunjuk bab yg harus ia mengerti, Namun semua sudah terjadi.
Esok sorenya,
Halit pulang dengan perasaan berbeda, ia menggenggam dengan ceria sebuah
buku baru bersampul ungu. Senyum mengembang tak henti di bibir mungilnya.
Dendang kecil selalu terdengar di setiap geraknya.
Di sore itu, ibu Halit diam diam
tersenyum betapa ia bahagia masih bisa memulihkan keceriaan anak bungsunya di
tengah segala keterbatasan dirinya.
Di sore itu, tertanam sudah jauh
di alam bawah sadar Halit, yg terbawa sampai jauh saat ia dewasa, anak- anaknya
kelak nanti akan selalu mendapatkan buku terbaik, berbagi sumber ilmu &
pengetahuan terbaik, dan tak akan lupa memberi pengalaman pelajaran terbaik
saat menghadapi keterbatasan.
[kisah fiksi ini, ditulis untuk
anak-anakku]
Pinangsia, 25 Feb 2020.
No comments:
Post a Comment