Monday, February 24, 2020

Halit

Gadis kecil itu dipanggil Halit, kependekan dari Hawa alit. Karena memang perawakannya imut mungil untuk anak kelas 3 SD, selain karena ia anak urutan akhir dalam keluarga itu.


Pembawaannya selalu ceria, dan selalu penuh semangat menjalani hari.

Dan hari itu dengan ceria ia masukan semua buku palajaran ke tas, bersiap menuju sekolah. Tempat ia selalu merasa senang dan bersemangat karena bertemu dengan teman-temannya, juga selalu mendapat hal baru dari guru - gurunya. Senyum mengembang saat ia rapikan menyisir rambutnya yg lucu bergelombang. Hari ini aku siap! Semalam tadi sudah aku baca dan pelajari seperti yg bu guru minta, bab 2 dan 3, tidak mudah tapi toh bisa koq! Begitu pikirnya. Setelah mengucap salam dan mencium tangan ayah ibunya ia pun bergerak ceria ke sekolah.

Tak sadar ia berdendang kecil saat angkot yg ia tumpangi menuju sekolah mulai berjalan. Ah, tak sabar bertemu teman teman!

Demikian si gadis kecil, Hawa alit, menatap hari dan menjalani rutinitas sekolahnya.

Namun....hari itu ia mendapat pengalaman yg sungguh tak terlupakan...

Halit merasakan telapak tangannya dingin namun basah oleh keringat. Nafasnya tertahan. Bingung menguasai pikirannya.

Dibacanya lagi berulang-ulang semua soal ulangan yg ia dapat dari gurunya. Tak ada yg salah, bu guru menyiapkan kalimat soal dengan amat baik seperti khasnya dan kebiasaannya. Tapi...mengapa, iya...mengapa...tak ada satupun dari yg ia baca muncul dalam soal soal pertanyaan itu. Tak ada satupun dari bab yg bu guru kemaren minta murid murid baca! Koq bisa?

Tak ayal, angka nilai yg ia dapat pun jatuh.

Hati dan pikirannya dipenuhi pertanyaan, apakah bu guru salah memberi pengarahan kemarin? Ia buka lagi catatan kemarin, betul koq bab 2 dan 3. Lalu ia pun bertanya pada Dani, temen sekelas yg juga rajin seperti ia. Sama koq di catatannya Dani, bab 2 dan 3. "Kenapa Halit? Koq mukamu pucat tidak secerah biasanya?" Dani bertanya. "Ah tidak apa apa", Halit mencoba menutupi kegundahan hatinya.

Dan hari itu ia banyak terdiam. Ia sudah mengikuti permintaan bu guru, ia tahu ia sudah berupaya sebaik - baiknya, namun mengapa hasilnya begini? Saat pulang di rumah, muka murungnya tak mampu ia sembunyikan sehingga ibu bertanya : "Halit bageur, kenapa? Koq murung begitu?"
Halit pelan menjawab "Tadi Halit ulangan tidak bisa bu...kayaknya nilainya jelek"."Lho, ibu lihat koq kamu belajar sendiri dan kelihatan sekali kamu yakin bisa karena sudah berusaha tadi pagi saat pergi, kenapa Halit?" Ibu sambil mengelus rambut gelombang Halit dengan lembut.
"Halit tidak mengerti bu, kata bu guru bab 2 dan 3, terus lihat di catatan Dani juga betul bab 2 dan 3, tapi koq isi soalnya beda bangeeet.., Halit juga bingung..." Ia menguatkan menahan diri agar tak terisak karena bingungnya.
"Ya sudah, coba nanti cek lagi catatannya yg harus dipelajari bab mana dan isinya tentang apa, buku yg ibu beri itu sudah mengantar kakak kakakmu sampai naik kelas lho dengan nilai terbaik...dan ibu tahu kamu lebih baik dari kakak2mu..."

Halit hanya bisa terdiam. Namun ia tahu ia tidak ingin menyerah, nilai ulangan selanjutnya harus jauh lebih baik untuk memperbaiki rata rata nilai yg kemarin jelek. Halit pun kembali menjalani hari - harinya, seceria sesemangat yg ia bisa.

Namun, seminggu kemudian, ia kembali dilanda kebingungan luar biasa saat menghadai situasi yg sama... apa yg ia pelajari sama sekali berbeda dengan soal soal ulangannya! Koq bisa terjadi lagi? Ia tak lagi kuasa menahan rasa sedih…

Lalu ujung matanya menangkap buku yg dipegang oleh Dani, "Dani, ini buku pelajaran hari ini kan? Aku lihat ya?" Dani pun memberikan bukunya. Halit terhenyak, dibukanya Bab 2 dan 3 buku milik Dani, lho koq isinya beda? "Koq sampul depan bukumu warna biru, Halit? Bukuku warna ungu." Dani keheranan saat ia melihat buku Halit. Saat itu juga Halit mafhum, apa yg sebenarnya terjadi. Raut cerianya lenyap, semangatnya runtuh, tangisnya tumpah tak lagi mampu ia tahan.

bu guru pun terheran - heran melihat hasil ulangan Halit, ia semakin heran melihat Halit menangis. Anak seceria itu, yg selalu rajin. Ia pun memanggil Halit ke depan kelas. Tanpa berkata - kata, Halit menyodorkan tangan memegang buku pelajaran yg ia miliki. Bu guru tanpa bertanya pun mengerti, apa yg terjadi. Ia mencoba tersenyum, bukan karena senang Halit bersedia apa adanya tapi lebih karena ia pun mencoba menenangkan Halit. Ia tahu murid cerianya ini sedang perlu ditenangkan dari gundah gulana.
"Sudah Halit, tak perlu bersedih, ibu mengerti dan akan memberi nilai yg pantas untukmu."
Halit masih terdiam, tak mampu mencerna sepenuhnya kata - kata ibu guru.

Masih terngiang kata - kata ibunya saat ia menerima buku itu, "Halit, ini buku yg ibu beri itu sudah mengantar kakak kakakmu sampai naik kelas lho dengan nilai terbaik...dan ibu tahu kamu lebih baik dari kakak2mu..." Bahkan di sampul dalam bukunya pun masih tertera nama kakak kakaknya tertulis disana... Ia tahu, ibunya selalu berupaya agar rumah mereka selalu terjaga dengan pangan dan sandang yg cukup dari pendapatan ayahnya. Salah satunya dengan selalu memanfaatkan melungsurkan perangkat dari kakak kakaknya agar bisa selalu terpakai.

Halit, gadis sekecil itu, sudah mengerti semua itu. Namun kali ini ia sungguh hanya ingin agar salah satu kekuatan dirinya pulih, kemampuannya mendapat nilai baik diantara hal lainnya, seperti kakak - kakaknya, bahkan lebih!

Hari itu Halit pulang masih dengan gundah gulana.

Ibunya hanya terdiam saat ia mendengar anak bungsunya bercerita apa yg terjadi di hari itu, dan hanya setetes air saja jatuh dari ujung matanya dari ribuan yg ia sebenarnya ia tahan di dalam sana. Saat itu, dalam tangis sedihnya, Halit tetap menyadari bahwa ia akan lebih cerdas menyikapi situasi, bahwa seharusnya akan ada selalu cara, harus lebih cerdas menghadapi situasi. Ia sadari, apa tema dan isi bab dan tidak hanya angka penunjuk bab yg harus ia mengerti, Namun semua sudah terjadi.

Esok sorenya,
Halit pulang dengan perasaan berbeda, ia menggenggam dengan ceria sebuah buku baru bersampul ungu. Senyum mengembang tak henti di bibir mungilnya. Dendang kecil selalu terdengar di setiap geraknya.

Di sore itu, ibu Halit diam diam tersenyum betapa ia bahagia masih bisa memulihkan keceriaan anak bungsunya di tengah segala keterbatasan dirinya.

Di sore itu, tertanam sudah jauh di alam bawah sadar Halit, yg terbawa sampai jauh saat ia dewasa, anak- anaknya kelak nanti akan selalu mendapatkan buku terbaik, berbagi sumber ilmu & pengetahuan terbaik, dan tak akan lupa memberi pengalaman pelajaran terbaik saat menghadapi keterbatasan.


[kisah fiksi ini, ditulis untuk anak-anakku]
Pinangsia, 25 Feb 2020.





No comments:

Post a Comment