Thursday, June 27, 2019

Todog.



Aku menunggu. Ungkap sang lampu pada sang listrik. Tak jemu ia pandangi juntai putus kabel di penghujung saklar itu.
Aku pasti bersinar, pasti. Begitu ia yg yakinkan pada dirinya sendiri. Hanya masalah waktu, hanya masalah waktu. Pasti.

Aku tetap menunggu. Cerita sang lumbung pada sang padi. Tak lekang ia amati kering keras bata tembok beton pelbagai bangun sepi, rumah ruko rukan jalan dan terutama pabrik, diatas tanah luas yg pernah diberi julukan indah bernama; sawah.
Ia akan hadir, pasti. Begitu ia yg teguhkan pada hatinya sendiri. Hanya masalah ruang, hanya masalah ruang, pasti.

Aku masih menunggu. Seru sang lembar pada sang tinta. Tak lelah ia tatap layar layar mungil berbinar tersentuh ibu ibu jari jari menampil berpuluh beratus berribu karakter tampilan, mengabaikan tabung tabung mengering hampa yg pernah di suatu masa selalu terulang isi oleh Hidrokarbon, Ketone, dan Glykor ether.
Aku akan terwarnai/Ia akan mewarnaiku, pasti. Begitu ia yg tetapkan pada haribaan kalbunya sendiri. Hanya masalah peluang, hanya masalah peluang, pasti.

Aku kukuh menunggu. Telatah sang piano pada sang jemari. Tak jeri ia sidik luka yg lama tak jua mengering, basah melembabi perban, pada tindakan yg diberi label tegas; amputasi.
Aku akan bunyi, bernada, pasti. Begitu ia yg teguhkan pada benaknya sendiri. Hanya masalah keteguhan, hanya masalah keteguhan, pasti.

Biar kutunggu. Cakap pelan lembut sang hati pada sang logika. Tak bergeming ia menyerap semua argumen, menyimak dalam diam, walau gigih kerap lantang pada semua yg bermuara pada perspektif bernama; akal sehat.
Semua akan hadir, mengikuti, pasti. Begitu ia yg teguhkan pada jatinya sendiri. Hanya masalah jatidiri, hanya masalah jatidiri, pasti.

Iya,

aku
selalu
menunggu.

Bisik sang kelana pada sang sunyi.

No comments:

Post a Comment