Bagian 2.
Catwalk Among Papers.
pilihlah satu lorong. pilih saja dimana yg kamu suka, yg kamu mau. atau telusuri sajalah semua, susuri satu persatu, tanpa kecuali. ambil satu atau dua atau tiga berlembarlembar tetulisan atau gegambar pilihanmu sendiri; fiksi, biografi, puisi, katalog, jurnal, text, karakter, grafis, susastera, birama, memoar, apapun itu. jangan, duh jangan selintas selewat saja kamu buka lembar lembar itu. biarlah paling tidak berbelas lembar kamu biarkan dirimu merasuki isi tetulisan itu. atau paling tidak selalu bersiap ada judul tetulisan lain siap disidik bila satu telah tertelaah. agar tak segera kau beranjak dari lorong itu, atau paling tidak tetap ada di dalam kumpulan lorong itu. atau duduklah di tempat yg disediakan untuk menelaah isi & tetaplah disitu. di satu atau beberapa sisi.
biar aku pilih lorong lainnya. tak terlalu dekat, meski tak cukup jauhpun agar masih terintip jelas sosokmu dibalik celah celah lorong itu.
biar, biarlah kamu disitu. aku disini.
tak perlu kau tahu aku disitu, malah mungkin inginpun kau tidak. teruskan saja sidik telaah tetulisan itu. biarkan aku saja yg mengamatimu. menikmati, bagaimana semua pendar binar terang itu berebut menerobos berbagai celah lorong itu, mereka seolah tak rela ada lekuk tekukmu yg direngkuh gelap. menikmati, bagaimana terkadang paparan cahaya tak kuasa melingkup seluruhmu dan hanya jatuh di sebagianmu, menghasilkan gradasi juga kontras terang gelap yg mempertegas bentuk sekaligus menghadirkan nuansa misteri. menikmati, -ketika kau melangkah mendekat ke binarpendar dengan sorotan rendah-, bagaimana binarpendar itu menjamahmu perlahan, mengikuti gerak pelanmu, bertahap dari ujung alas ujung kakimu yg lentip, binarpendar bergerak menyentuhmu lembut perlahan keatas, -berhenti sekian jenak di beberapa titik tahap, seolah itu titik eksplorasi kesayangan si pendarbinar-, sebelum kemudian kembali bergerak, ke atas dan ke atas. Sampai penuh kemudian, akhirnya pendarbinar memaparkan dirimu apa adanya sebagaimana indah yg dititahkan alam dan pembentuknya. Atau saat pendarbinar hanya melingkup sebagianmu, dan hanya memaparkanmu dalam siluet. ah, hanya lensa dengan rana dan fokus yg tepat yg hanya bisa diatur oleh rasa, yg bisa menangkap nuansa ini. apapun itu, cahaya ikhlas kau berikan saat saat sepenuh rasa untuk menyentuhrengkuhmu, perlahan pelan, sebagian, atau sepenuhmu. ah cahaya, cemburu padamu amat layak ditujukan untuk itu. sungguh!
............
No comments:
Post a Comment