apa yg begitu istimewa dari jendela?
apa yg membuat kita, manusia, sebegitu gemar menempatkan jendela nyaris di setiap ruang yg kita buat? sekedar mengalirkan udara beserta segala yg dibawanya? membiarkan cahaya masuk? berbagi matahari? atau karena tak seperti pintu, tak perlu terlalu lebar kita jeda ruang yg kita buat hanya agar bisa melihat apa yg ada di luar ruang yg kita tempati. atau sebaliknya, ingin kita biarkan yg diluar sana bisa melihat dan mengetahui kita ada di ruang dimana kita hadir?
ada memang yg berpendapat, seberapa terbuka seseorang bisa dilihat dari jendela rumahnya. rumah, ruang-tempat dimana seharusnya hati berada.
ah sudahlah,
yg jelas bagiku jendela memang istimewa.
ketika petugas layanan cantik itu bertanya dimana pilihan kursi untukku menempuh perjalanan dengan gerbong meniti rel, lorong atau jendela? jendela adalah jawabnya. dia tak pernah bertanya mengapa, aku pun tak berminat menjelaskan. tapi baiklah biar kuceritakan. sejak awal derak roda yg mengintimi rel terdengar, dan perlahan gerbong akhirnya menyerah membiarkan tubuhnya terseret lokomotif yg penuh gairah bergerak, maka segera pandangan aku alihkan ke luar jendela. tak mungkin berharap ia yg mendapat kursi sebelahku tak mengajak bicara, karena salah dua anugerah yg didapat manusia adalah saling berbicara satu sama lain dan mengenal satu sama lain. juga tak mungkin rasanya membiarkan buku atau bentuk bacaan apapun yg biasanya menemani hanya didiamkan tak termanfaatkan. namun tentu tidak salah bila setidaknya berharap ada waktu yg cukup bagiku untuk menjadi pemirsa dari apa yg ditampilkan di jendela. dan memang itu yg pasti kulakukan. memirsa.
pelan meninggalkan peron kulihat beberapa tangan melambai memberi isyarat salam perpisahan pada beberapa penghuni gerbong. atau mungkin isyarat berisi harapan untuk segera bertemu kembali, entahlah. kemudian semakin meninggalkan stasiun namun masih di lingkup kota, sepanjang sisi rel nampak berbagai bentuk ruang bersekat tembok yg ditinggali berbagai macam jenis manusia, insan kota. nyaris tak satupun yg aku kenal, tapi mungkin derak elan geliat hidup dan segala pernak pernik menghidupi jalan yg sudah dan akan mereka tempuh hari demi hari, sungguh aku coba hirup dan rasakan udara yg memenuhi paru paru mereka dari balik jendela, dari sisi jendela.
semakin menjauh dari kota, mengamati perubahan vegetasi di setiap tingkat perubahan ketinggian dataran. dan kembali menyadari bahwa dari sekian banyak vegetasi khas masing-masing, maka sawah, padi, beras, tetap mendominasi vegetasi di semua tingkat ketinggian lahan. kembali memahami bahwa bangsa pecandu berat nasi di tingkat paling akut ini justru didominasi kaum yg paling jarang kita ekspresikan dengan nada bangga: para petani, penggumul sawah. dan aku hanya bisa berbisik pelan, maafkan kami yg hanya bisa memujimu dalam lisan tulisan namun miskin tindakan dalam menghargaimu.
saat hujan turun, menjadi salah satu momen terbaik yg ditampilkan jendela sepanjang perjalanan. ratusan, ribuan, tetes air berebut ingin menyentuhku namun tertahan jendela. ada yg kukuh tinggal disitu mempertahankan diri di licinnya kaca, terus melawan namun kemudian akhirnya tak kuasa melawan angin sehingga terseret ke arah berlawanan dari laju kendaraan dan meninggalkan garis air tipis panjang sebagai jejak perlawanannya. seperti sisyphus di mitos yunani, tahu ia melakukan hal yg akan kalah, namun tetap ia lakukan, dan malah ia ulangi terus menerus, melawan dan tidak bersetuju dengan takdir. tiba - tiba aku teringat seseorang yg seperti itu, dan kulihat orang itu di saat tertentu ketika jendela memantulkan cahaya menjadi cermin.
bicara tentang takdir, mungkin menjadi takdir rel untuk selalu bertemu namun nyaris tak pernah bisa menyatu dengan yg satu ini : jalanan aspal, atau beton. mereka hanya bisa saling bersimpangan. terkadang sekedar bersisian. sepanjang jarak antara kota berlabel bunga dengan kota berlabel ibukota dan kota lainnya, nampaknya lebih sering rel yg harus menahan cemburu melihat landasan beton dan jalan jembatan beton kukuh tinggi nan cantik jumawa menasbihkan diri di beberapa kesempatan mereka bersisian. seolah mereka dari kasta yg berbeda. dan entah kenapa kita cenderung membiarkan saja untuk percaya pada pandangan dan kepercayaan semu bahwa kasta adalah tembok tebal yg tak terlewati-tak tertembus. lupa bahwa rel adalah salah satu bentuk ciptaan yg hanya sekedar berbeda, unik. tak ingin ingat bahwa beton, jembatan, adalah juga bentuk ciptaan dengan keunikan tersendiri lainnya. mungkin suatu saat nanti, atau mungkin memang sudah, (para) insinyur kehidupan yg mampu dan tangguh merubah takdir dengan memadularaskan dua bentuk unik tersebut. there's no fate but what we make for ourselves, sebagaimana disampaikan ibunda john connor di film terminator entah sekuel keberapa yg ditampilkan di layar LCD diujung gerbong untuk memanjakan pengisi gerbong. tapi sudahlah, tak perlu berkerut kening memikirkan semua itu. toh itu hanya pendapat dan rasa yg timbul ketika memirsa jendela.
ketika petugas layanan bandara itu bertanya dimana pilihan kursi untuk menempuh perjalanan dengan kendaraan yg menentang angin meniti awan, lorong atau jendela? jendela adalah jawabnya. dia tak pernah bertanya mengapa, aku pun tak berminat menjelaskan. tapi baiklah biar kuceritakan. sejak awal setelah mereka -para petugas cantik yg berupaya setulus yg mereka bisa untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang- selesai memperagakan panduan keselamatan ketika kendaraan ini masih menelusuri jalan penghubung menuju runway sebelum lepas landas, maka segera pandangan aku alihkan keluar jendela. menunggu saat - saat itu, dimana desak panas propulsi merangsang lengan sayap yg merentang lebar agar menentang angin dan membuat tubuh kendaraan ini menyerah terangkat menikmati dorongan yg menaik, menaik, dan semakin menaik, kemudian untuk sementara gravitasi terkalahkan dan membiarkannya melambung tinggi menuju awan.
bisa kulihat bagaimana perspektif bekerja. atap - atap yg menjadi penaung berbagai ruang dibawah sana semakin kecil, mengecil, dan mengecil. berbagai kendaraan mengecil, berbagai benda apapun mengecil. semut adalah salah satu perumpamaan yg sering kita gunakan ketika melihat manusia dari ketinggian. dan nampaknya memang ketika manusia di ketinggian melihat manusia lainnya di bawah sana, sering melihat dan memperlakukan seperti semut. nyaris tak pernah kita bertanya, seberapa mayoritas diantara kita yg bisa merasa bersalah ketika menindas menginjak semut? semoga masih ada, dan semakin banyak, entahlah.
ketika kendaraan ini masuk tahap glide di ketinggian tertentu yg memungkinkan ia meluncur saja tanpa terlalu dibantu semburan propulsi, sehingga menghemat bahan bakar dan memungkinkan ia menempuh jarak lebih jauh, dan pengemudinya bisa beristirahat dengan menyalakan autopilot, maka itulah saat dimana biasanya awan di bawah atau sekitar jendelaku. kemudian aku bersenandung pelan lagu masa kecil, berharap ia yg mendapatkkan kursi di sebelahku tak mendengar dan tak terganggu.
"kulihat awan. seputih kapas. arak berarak, di langit luas. andai kudapat, kesana terbang. akan kuraih, kubawa pulang."
dan saat ini aku kesana terbang, ke awan! dan tetap saja ia tak teraih, tak bisa kubawa pulang. memang lucu ketika kita mampu terbang semakin tinggi dan berusaha sedaya upaya semakin tinggi, tetap saja ada yg tak bisa kita (paksakan) raih.
kunang - kunang, itulah perumpaanku bagi yg terlihat dibawah sana saat kendaraan ini menurun dan sebelum kendaraan ini merelakan mengakhiri perlawanannya pada satu keniscayaan alam bumi yg tak terkalahkan: gravitasi, diwaktu perjalanan saat matahari tak lagi bertugas. kunang - kunang berderet berbaris panjang, nyaris selalu kulihat ketika kendaraan ini melintas diatas ibukota, melintas diatas jalanan ibukota. kunang - kunang itu bergerak pelan sekali dan terlihat saling sikut tak sabar dan tak rela berbagi ruang dengan kunang - kunang lainnya. macet berat, khas ibukota sejak lama. itu kesimpulanku bila melihat kunang - kunang berderet panjang seperti itu. tapi kesanalah aku sering menuju, sebagai akhir perjalanan atau sebagai tempat melintas sejenak. dan memang lebih sering kita tak memiliki pilihan selain menguatkan diri menempuh keruwetan dan kepadatan sebelum kita tiba dimana kita menuju. namun bukankah salah satu anugerah terbaik yg dimiliki manusia adalah kemampuannya memilah dan memilih? memang. tapi ya itu tadi, sering kita tak memiliki pilihan selain menguatkan diri untuk menempuh. sudahlah, tak perlu berkerut kening memikirkan semua itu. toh itu hanya pendapat dan rasa yg timbul ketika memirsa jendela.
ketika petugas layanan kendaraan ulang alik antar kota yg cantik itu bertanya dimana pilihan kursi untuk menempuh perjalanan dengan kendaraan roda empat berkapasitas delapan atau sembilan penumpang saja -lebih besar dari kendaraan keluarga namun lebih kecil dari bis-, kursi nomor berapa sebelah mana? deret kedua belakang supir disisi jendela adalah jawabnya. dia tak pernah bertanya mengapa, aku pun tak berminat menjelaskan. tapi baiklah biar kuceritakan. sejak awal segera pandangan aku alihkan ke luar jendela. menikmati saat - saat roda bergerak berputar menggumuli aspal, tubuh kendaraan yg tersangga membiarkan dirinya hanyut terbawa arus deru gerak. ketika ada kesempatan ia memacu cepat maka memacu cepatlah ia. namun ketika memang saatnya ia melambat, maka melambatlah ia.
sepanjang jarak antara kota berlabel bunga dengan kota berlabel ibukota atau sebaliknya, menelusuri jalur jalan berbayar lebih dari seratus ribu meter. mengikuti jalur yg membelah bukit, melintasi jembatan mengatasi ngarai, mirip namun tak persis sama dengan menempuh perjalanan dengan gerbong meniti rel. satu hal yg paling membedakan adalah; ruang gerak. dengan kendaraan ini, terutama mendekati dan di simpul - simpul jalan kota, seakan ruang adalah sesuatu yg amat berharga dan tidak layak untuk dibagi dengan orang lain. lupa, bahwa jauh lebih sering kita bisa memiliki ruang gerak yg leluasa dan cukup nyaman justru bila kita bersedia memberi ruang bagi yg lainnya. dan itu tak terlihat, terutama di sebuah kota yg dibebani label sebagai ibukota. waktu tempuh adalah salah satu hal paling subyektif nan tak teramalkan. dua hal yg saling terkait, ruang dan waktu. dan dua - duanya adalah hal yg memang amat berharga, namun tidak berarti menjadi sesuatu yg amat sakral dan tak rela untuk saling berbagi. memang, dari sekian banyak sumberdaya yg dianugerahkan padaku, waktu adalah satu yg entah kenapa kurasa tak banyak akan kumiliki, tak sebanyak insan lain, tak sepanjang insan lain. namun tak ragu akan kubagi ruang dan waktu bila diperlukan. termanfaatkan, saat ini, waktu kini, masa sekarang. bukan masa lalu. tapi sudahlah, tak perlu berkerut kening memikirkan semua itu. toh itu hanya pendapat dan rasa yg timbul ketika memirsa jendela.
ketika ia yg cantik dan bertugas menerima para tamu di meja penerima di gedung berisi banyak ruang bersekat sekat itu bertanya, dimana dan bagaimana pilihan ruang bersekat untukku menghabiskan malam, smoking or non smoking? dengan wifi? superior, deluxe, suite? selalu dengan tersenyum aku jawab, yg manapun tak mengapa. terpenting yg ada jendelanya menghadap keluar. pantai atau gunung atau pandangan kota atau apapun, tak mengapa. yg penting ada jendela yg tak terhalang tembok. dan setelah menghabiskan hari di perjalanan, membebaskan bahu dari beban ransel sepanjang hari kerja, menyimpan berbagai pernak pernik rutinitas pada tempatnya, maka segera aku menuju sisi jendela. duduk bila ada kursi, berdiri saja bersandar bila tak tersedia kursi. menyeduh sari dedaunan di secangkir air bening panas yg kemudian mengeruh coklat pudar. atau menyeduh remukan bebijian di air bening panas yg kemudian mengeruh hitam pekat. dan sungguh hujan adalah teman yg khas dan unik bagi secangkir air panas yg beningnya menyerah melawan pekat. menangkupkan tangan di tebing cangkir ketika dingin pengatur suhu ruangan bersekutu dengan udara terdampak hujan. dan sendiri aku menatap hujan ke luar dari sisi jendela. mengamati orang - orang berlarian menghindar hunjaman jutaan tetes air seolah tetes - tetes itu virus atau jarum yg akan menyakiti. padahal lebih sering aku ingin melepas anak kecil yg terpenjara dalam tubuh ini untuk berlari keluar sana dan berkawan bercengkrama dengan jutaan tetes itu. duduk sendiri dengan secangkir, mencoba menghayati indera pendengaran untuk mendapatkan suara penyapu kaca menepis air yg mencoba kukuh bertahan melawan di jendela kaca depan kendaraan - kendaraan yg berlalu lalang di luar sana. duduk sendiri sambil menyeruput pelan dari tebing cangkir, mencoba menghayati indera penciuman untuk mendapatkan aroma tanah yg dilimpas jutaan tetes, dan daun daun yg menari dilenggokkan tetes tetes hujan itu. sendiri, seperti malam ini.
ah sudahlah,
yg jelas bagiku jendela memang istimewa.
karena di setiap jendela yg aku okupansi sisinya, terutama saat/sambil menatap hujan, selalu kubiarkan atau sengaja kutiup embun agar menguapi jendela kaca, hanya agar bisa kugambarkan dengan jariku setiap karakter huruf yg mengeja sebuah nama. milikmu.
namamu.
karena kau isyaratkan tak lagi bisa kita hadirkan satu alasan rasional bagi kita untuk bertatap muka, saling memandang dan menggali kedalaman lewat mata, sang jendela jiwa. satu harap saja, semoga bila suatu saat satu kali saja alam menghadirkan-mengijinkan-menempatkan kau duduk di sisi jendela yg sama, semoga, entah bagaimana kau rasakan aku pernah hadir disitu.
disitu.
disitu.
disini.
[5 Mei 2014 tengah malam, dibawah pengaruh dua zat kimia dengan efek bertolak belakang : kopi dan obat batuk]
Aku di ujung sisi kiri, engkau di ujung sisi kanan. Masing masing di sisi jendela. Tak ada yg istimewa. Sama sekali tak ada.
ReplyDeleteKalaupun dipaksakan ada dan dikecualikan, mungkin dengkurmu, yg mungkin terdengar sampai 3 baris depan & 3 baris belakang. Kasar, tak beraturan, staccato kadang moderato kadang adagio tapi seringnya presto. Seolah beradu bunyi dengan derak roda besi menyusuri rel.
Engkau di ujung sisi kanan, aku di ujung sisi kiri. Masing masing di sisi jendela. Tak ada yg istimewa. Sama sekali tak ada.
Kalaupun dipaksakan ada dan dikecualikan, mungkin aroma kecut asam dari dirimu yg semilir membajak hembusan pendingin ruangan. Bagi beberapa mungkin hanya terasa sekadar eau de cologne, tapi bagi yg lain bisa berkadar extrait perfumé. Beradu baur dengan semilir bellagio semahluk cantik berhidung bangir yg duduk satu baris di belakangmu.
Aku di ujung sisi kiri, engkau di ujung sisi kanan. Sisi jendela. Tak ada yg istimewa. Sama sekali tak ada. Kecuali mungkin perasaan kita kolega seperjalanan yg ingin segera tiba ke tempat dimana hati berada. Dan setiap nada dengkurmu mewakili setiap enerji yg kau kerahkan sepanjang waktu di hari hari sebelum akhir minggu sebelum kau duduk di sisi jendela itu. Diperuntukkan bagi mereka yg menanti, tempat hatimu selalu bertambat. Aku mengerti itu. Dan, tak seperti semahluk cantik berbibir penuh yg duduk dua baris depan yg nampak amat terganggu dengkurmu, aku memilih menerjemahkan dengkurmu menjadi nada dalam bentuk karakter huruf dan kata. Bahwa engkau tak sendiri, aku sama.
Engkau di sisi kanan, aku di sisi kiri. Sisi jendela. Tak ada yg istimewa. Sama sekali tak ada. Kecuali mungkin engkau menyadarkanku bahwa akupun memproduksi feromon melebihi kaidah normal. Di setiap tetesnya ada kedalaman jiwa yg tergali saat enerji terlepas menggapai karya. Yg tak sempat terbasuh karena mengejar tenggat dan linimasa yg harus ditempuh sebelum mendudukkan diri di sisi jendela itu. Diperuntukkan bagi mereka yg ikhlas menunggu, tempat dimana hatimu senantiasa berlabuh. Aku paham itu. Dan, tak seperti semahluk indah berhidung bangir yg berulang ulang menyemburkan bellagio untuk mencoba menihilkan aromamu itu, aku memilih mengabaikan semilir & menenggelamkan diri dalam keunikan nasib; bahwa tak hanya engkau, engkau tak sendiri. Banyak yg sepertimu, seperti kita.
Aku di sisi kiri, engkau di sisi kanan.
Jarak dan ruang diantara kita hanya; sejauh, -sedekat, yg kita pikir & yg kita rasa saja. Tak kurang. Tak lebih.
Pada akhirnya, ketempat dimana hati berada jua, kita menempuh.
-ARGO PARAHYANGAN, 03 NOV 2017-